Tiga Perenungan Setiap Hari

Standar

Isi ketiga perenungan ini terdapat dalam literatur lengkap ajaran Konfusius bab 4 yang dikemukakan oleh salah seorang muridnya yang bernama Zeng Zi ( 曾 子 ). Nama kelahirannya adalah Shen ( 参 ) dan nama julukannya adalah Zi Yu ( 子 与 ).

 

Adapun ketiga perenungan itu adalah : Apakah saya memanfaatkan orang lain ? Apakah saya setia terhadap teman – temanku ? Apakah saya menerapkan pelajaran – pelajaran yang telah saya dapatkan ?

 

Saya mulai pembahasan dari renungan yang pertama. Adapun makna yang terkandung di dalamnya adalah apakah saya memperalat orang lain untuk kepentingan sendiri ? Misalnya : saya menyuruh seseorang untuk mengerjakan sesuatu, tetapi saya tidak berterima kasih dan bila terjadi sesuatu saya langsung buang badan serta menimpakan kesalahan tersebut sepenuhnya pada orang tersebut. Memperalat orang lain juga mengandung pengertian bahwa saya hanya ingin dibantu, tetapi tidak pernah mau untuk membantu.

 

Mengapa saya harus memiliki perenungan seperti ini ? Seperti yang saya ketahui, dalam diri saya masih terdapat banyak hal – hal buruk yang harus saya cabut sampai ke akar – akarnya. Bila saya tidak waspada dan terus memperalat orang lain, maka secara otomatis saya telah menumbuhkembangkan dan menyuburkan akar buruk tersebut, yakni : keserakahan dan kebodohan.

 

Keserakahan akan membuat saya senantiasa berbuat seperti demikian walaupun objek penderitanya silih berganti. Kebodohan membuat saya tidak mengenal budi dan terima kasih sehingga dalam kehidupan ini saya pasti akan dijauhi dan tidak dipercayai orang lain. Bukan itu saja, masih ada akibat – akibat yang harus saya terima di kehidupan mendatang.

 

Perenungan kedua mengandung arti apakah saya telah mengkhianati teman – temanku.  Dalam hal ini biasanya menyangkut rasa kepercayaan. Misalnya : ada rahasia pribadi yang tidak boleh diceritakan, tetapi karena mulut saya tidak bisa saya kontrol, maka rahasia tersebar luas.

 

Apa akibatnya ? Perasaan teman saya akan sangat terluka dan bila ia adalah seseorang yang berjiwa sempit, maka seumur hidup ia akan benci terhadap diri saya. Malahan ia mungkin akan selalu berusaha mencari jalan untuk membalaskan sakit hatinya.

 

Bila yang terjadi adalah hal demikian, maka akibatnya pada diri saya akan sangat luar biasa. Pertama, saya harus bertanggung jawab atas karma yang ia perbuat karena atas kesalahan saya ia menjadi seperti itu. Kedua, bila tidak berhati – hati, maka saya akan senantiasa tereaksi oleh tindakannya sehingga tanpa saya sadari saya juga telah menanam suatu karma yang buruk lagi. Ketiga, persahabatan saya dengannya akan putus dan saya mungkin akan dijauhi oleh teman – teman yang lain.

 

Poin yang lain adalah kejujuran. Sebagian orang biasanya anti terhadap orang yang tidak jujur atau suka menipu / berbohong. Berbohong di sini mengandung arti ucapan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Oleh sebab itu, saya harus senantiasa memberi sinyal kepada diri saya untuk tidak pernah mengingkari kejujuran. Saya harus memegang prinsip bahwa : ² kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana – mana ². Dengan demikian, saya akan terhindar dari hal – hal yang dapat merugikan diri saya khususnya dan orang lain pada umumnya.

 

Perenungan ketiga mengandung arti apakah saya telah menyia – nyiakan pelajaran yang telah saya pelajari. Saya tidak boleh hanya mempelajari teori saja, namun saya harus mempraktikkannya dalam kehidupan sehari – hari. Dengan demikian, maka saya akan memperoleh manfaat dari hal tersebut.

 

Pertama, hal yang saya pelajari akan lebih kuat tertanam dalam memori saya. Kedua, saya akan lebih dalam memahami hal yang saya pelajari dengan melihat fenomena – fenomena yang bakal bermunculan selama praktik tersebut. Dan yang terpenting adalah saya tidak menyia – nyiakan jerih payah dari orang yang telah memberikan pelajaran tersebut kepada saya.

 

Dari penjelasan di atas, terlihat begitu pentingnya arti ketiga perenungan itu. Alangkah ruginya saya bila tidak menjalankannya. Mengapa ? Karena saya telah menyia – nyiakan salah satu dari sekian hal yang dapat membuat diri saya berkembang.

 

Lalu apakah saya cuma perlu merenungkan saja ?  Tentu saja tidak. Setelah merenungkan, saya harus mencari jalan terbaik untuk menjalankannya. Contohnya : untuk bertindak terhadap teman saya, saya dapat menggunakan Sigalovada Sutta sebagai acuan. Demikian juga terhadap guru / orang yang memberi pelajaran kepada saya.

 

Oleh sebab itu, saya harus merasa bersyukur karena diberi kesempatan untuk mengenal ketiga perenungan ini. Semoga semua makhluk berbahagia di dalam berkah para Buddha dan Bodhisattva Mahasattva.

 

B. Adhitthana

05/04/04

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s