Memberi dan Mempersembahkan Dana Bukanlah Hak Kaum Berada Saja

Standar

Memberi dan mempersembahkan dana bukanlah hak kaum berada saja, ia merupakan suatu kehormatan bagi hati yang tulus dan penuh kasih.

 

 

Berdana merupakan salah satu amal kebajikan yang paling dikenal dan digemari oleh umat manusia pada saat ini, khususnya bagi yang menganut agama Buddha. Mengapa ? Karena mereka tahu bahwa berdana dapat mendatangkan pahala yang dapat dijadikan bekal untuk kehidupan mereka sekarang maupun yang akan datang.

 

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah demikian sederhananya makna berdana itu ? Jika mau ditelusuri lebih lanjut, kita akan menemukan bahwa di dalam satu kata “ berdana “ terkandung pengertian tersirat yang mendalam.

 

Dana pada umumnya hanya ditafsirkan sebagai suatu sumbangan atau bantuan berupa materi kepada seseorang atau sesuatu badan yang memerlukannya. Misalnya : sedekah untuk pengemis, sumbangan untuk panti jompo, panti asuhan, dsb.

 

Sesungguhnya dana dalam Buddha Dharma tidak hanya terbatas pada materi saja. Dana berupa materi dalam Buddha Dharma disebut dengan Amisedana yang dibagi lagi dalam dua jenis, yakni dana yang bersifat sementara dan dana yang bersifat tahan lama. Contoh dana yang bersifat sementara : sumbangan kepada panti asuhan, dsb. Contoh dana yang bersifat tahan lama : membangun vihara, dsb.

 

Selain itu, ada dana yang disebut dengan Dhammadana, yakni dana yang berupa wejangan, nasihat, petuah, dsb. Lalu ada dana yang diberikan dengan mengorbankan harta benda, yang disebut dengan Atidana serta dana yang diberikan dengan mengorbankan jiwa dan raga, yang disebut dengan Mahatidana.

 

Dari keempat jenis dana ini, yang paling besar pahalanya adalah Dhammadana, dan yang paling tinggi nilainya adalah Mahatidana. Kemudian yang terakhir adalah Siksadana, yakni dana yang berupa pendidikan.

 

Kita dapat melihat kecenderungan masyarakat Buddhis pada saat ini yang lebih menitikberatkan pada pemberian dana materi. Sebenarnya ini sah – sah saja, cuma kebajikan dan pahala yang dihasilkan tidak akan membawa perkembangan bathin kepada kita. Maksudnya pahala yang dihasilkan hanya terbatas pada segi materi saja, contohnya : terlahir dalam keluarga yang kaya, terhormat, dsb.

 

Disamping itu, ada satu kecenderungan bahwa setiap orang sepertinya berlomba – lomba untuk memberikan dana yang lebih besar, bahkan terkadang terkesan ingin perbuatan bajiknya itu diketahui oleh orang banyak. Hal ini terlihat dari keinginan untuk mencantumkan nama mereka secara jelas berikut besarnya dana yang mereka sumbangkan. Terkadang jika dirasa masih tak cukup, maka mereka akan mengumumkannya kepada orang – orang di sekitarnya.

 

Jika mereka lakukan seperti demikian, maka pahala dari kebajikan mereka akan seketika berbuah dan lunas terbayar. Mengapa demikian ? Karena mereka akan mendapatkan pujian dari orang – orang yang mengetahui perbuatan baiknya.

 

Jika pujian ini mengakibatkan bangkitnya kesombongan di diri mereka, maka hal selanjutnya yang akan mereka alami hanyalah penderitaan karena munculnya kesombongan dapat memicu tertanamnya karma yang kurang baik, misalnya memandang remeh orang lain, memandang diri terlalu tinggi, dan bahkan bisa menimbulkan kesalahpahaman terhadap makna berdana yang sesungguhnya. Secara ringkas dapat dituliskan bahwa perbuatan bajik mereka seketika berbuah dan mereka kembali menanam benih karma yang tidak baik.

 

Makanya tidak mengherankan bila ada yang mengatakan bahwa banyak orang sekarang ini yang berbuat baik hanya untuk membeli ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Mengapa ? Karena saat mereka sering mengharapkan pujian berarti mereka telah dilingkupi ketamakan. Di saat mereka dikritik atas perbuatannya, seketika akan timbul ketidaksenangan atau kebencian. Di saat mereka memiliki kesalahpahaman terhadap makna berdana, maka mereka telah dihinggapi kebodohan.

 

Oleh sebab itu, dalam agama Buddha tidak dikenal istilah bahwa besarnya dana berbanding lurus dengan besarnya pahala. Yang ditekankan adalah dalam berdana, seseorang harus memenuhi tiga syarat murni, yakni senantiasa berbahagia sebelum, ketika, dan setelah berdana. Dengan demikian, pahala yang kita peroleh secara otomatis berlimpah.

 

Satu hal yang perlu kita sadari bahwasanya dana dalam Buddha Dharma bukanlah seperti yang dijelaskan di atas saja. Tetapi ada makna lain yang lebih penting untuk dilaksanakan, yakni murah hati.

 

Murah hati di sini lebih menekankan pada kata “ maaf “, terutama dalam hal pemberian maaf. Maksudnya kita senantiasa membuka pintu maaf kita untuk orang yang pernah bersalah kepada kita, sekalipun kesalahan itu teramat besar.

 

Kita harus memahami bahwa dengan sering memberi maaf berarti kita telah melatih dua hal terpenting dalam kehidupan kita, yakni berjiwa besar dan kesabaran. Jiwa besar dan kesabaran adalah kriteria utama  yang harus dimiliki oleh setiap manusia agar dapat hidup bahagia. Bahkan seorang Bodhisattva yang ingin mencapai tahap ke-Buddha-an juga harus melatih kesempurnaan kedua hal tersebut.

 

Semakin sering kita memberi maaf, semakin banyak keberuntungan yang dapat kita panen. Mengapa ? Selain kita dapat meningkatkan keberadaan kedua hal di atas, kita juga akan mudah mendapatkan simpati dari orang lain. Adanya simpati akan memperlancar interaksi kita dengan hal apapun dalam kehidupan kita.

 

Disamping itu, jika kita mampu berjiwa besar dengan berani mengucapkan kata maaf / meminta maaf, maka kita juga akan mendapatkan keuntungan, yakni keangkuhan diri kita mampu kita kikis setahap demi setahap dan secara otomatis kerendahan hati kita akan bertambah.

 

Jadi sebenarnya, dana merupakan suatu hal yang nampaknya mudah untuk dikerjakan, tetapi jika kita tidak mampu memperoleh dan memahami dengan benar makna yang terkandung di dalamnya, maka boleh dikatakan sia – sialah dana yang kita lakukan. Mengapa ? Karena hasil yang kita capai tidak mampu maksimal.

 

Jadi jangan habiskan waktu, tenaga, kesadaran, dan materi yang kita miliki demi sesuatu hal yang kurang berguna karena di saat penyesalan timbul, karma buruk yang bakal mengikuti kita akan bermunculan. Salah satunya adalah memiliki pandangan salah tentang berdana yang merupakan dua penyebab utama terlahirnya seseorang ke alam neraka. Camkan baik – baik !

 

B. Adhitthana

14/05/04

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s