Waisak dan Keteladanan Siddharta

Standar

Peringatan Hari Waisak 2556 tahun ini menjadi momentum kebangkitan bangsa dari segala keterpurukan yang terus menerus mewarnai dinamika kehidupan masyarakat kita. Kita patut merenung dan menghayati dengan penuh hikmad pesan – pesan Sang Buddha yang memberikan semangat hidup bagi kedamaian dunia. Pesan – pesan Sang Buddha tentu tidak hanya dimaknai sebagai pesan seremonial belaka, melainkan harus diwujudkan dalam bentuk tindakan nyata yang dapat menyentuh nadi seluruh umat manusia.

Kita semua tahu bahwa setiap tahun pada bulan Waisak, umat Buddha di seluruh dunia merayakan tiga peristiwa penting yang terjadi pada manusia agung yang bernama Siddharta Gautama. Beliau lahir tahun 623 SM di Taman Lumbini atau Rummindei dan pada tahun 588 SM, Siddharta mencapai keterbangunan nurani secara paripurna di Bodhgaya, kemudian pada tahun 543 SM, beliau Maha Pari-Nibbana di hutan Sala, milik suku Malla, Kusinara atau Kusinagar.

Tiga peristiwa ini merupakan sebuah dinamika kehidupan yang penuh dengan totalitas demi pencapaian besar bagi kemajuan kemanusiaan, peradaban, dan alam semesta. Melalui renungan spiritualitas yang telah dikobarkan Siddharta, kita patut mengarifi kemuliaan hatinya yang mampu meruntuhkan kemewahan hidup manusia sehingga mencapai titik sempurna.

Perjuangan Siddharta

Kita sadari renungan Siddharta bukanlah suatu pencapaian yang berangkat dari ketakutan atau arogansi keakuan, melainkan didasarkan pada penderitaan langsung yang pernah dialaminya ketika berjuang melawan angkara murka, kesombongan, dan kerakusan hidup manusia.

Perjuangan Siddharta dalam memaknai kehidupan dan mengupayakan terciptanya banguan spiritualitas yang paripurna merupakan perjuangan yang berangkat dari hati nurani dan akal budi sehingga kemuliaan hatinya patut kita teladani. Potret perjuangan Siddharta dalam merekonstruksi peradaban manusia yang mengalami krisis spiritual dan kemanusiaan, begitu sangat mempesona sehingga menggetarkan hati dan pikiran manusia hingga sekarang ini.

Dalam kontemplasi Siddharta, kebangkitan bukanlah monopoli milik – Nya dan bukan sesuatu yang lahir di luar potensi manusia, melainkan dalam diri manusia itulah terdapat potensi spiritualitas yang paripurna dan luar biasa (Buddhata). Oleh karena itu, tugas kita sekarang adalah bagaimana membuka jalan kehidupan manusia pada satu titik kulminasi yang monumental.

Pada momen yang berbahagia ini, kita semua patut meneladani pendiri agama Buddha, yakni Siddharta Gautama yang telah mampu mewariskan nilai – nilai moral dan akal budi bagi seluruh umat Buddha di dunia, khususnya di Indonesia. Warisan monumental Siddharta telah meruntuhkan aroma kemewahan menuju kesederhanaan yang terbingkai melalui kematangan dalam bermeditasi demi meraih ketenangan dan kesempurnaan hidup (Nirvana).

Bagi Umat Buddha sendiri, perayaan Waisak menjadi momentum kebangkitan dari krisis spiritual menuju kematangan pribadi yang paripurna. Penderitaan Siddharta ketika meninggalkan istana  untuk hidup dan belajar bersama para pertapa Hindu, sejatinya merupakan suatu petualangan spiritual yang cukup menakjubkan.

Setelah enam tahun, konon katanya, beliau mendapatkan kenyataan bahwa bertapa dengan menyiksa diri maupun hidup terlalu berfoya – foya, bukanlah jawaban akan sesuatu hal yang mampu melampaui penderitaan dan karma. Pemikiran seperti ini dianggap menyimpang dari aliran utama Hindu pada masa itu, sehingga beliau pun mengembara ke sebelah selatan India untuk mencari prinsip – prinsip spiritual yang dapat membentuk fondasi Buddhisme. Tempat itu kemudian dikenal dengan sebuatan Bodhgaya, yang dijadikannya sebagai tempat untuk mencari ilham sejati yang diharapkan mampu memberikan tuntunan hidup tentang kelepasan dari samsara hidup.

Pada akhirnya di bawah pohon Bodhi (Ficus religiosa L.), beliau memperoleh apa yang dicita – citakan, yakni ajaran tentang sebab akibat penderitaan (samsara) dan cara – cara mendapatkan kelepasan yang tersimpul dalam pandangan filosofis. Setelah itu, Sang Buddha menyampaikan khotbah pertamanya di Taman Rusa, Isipatana, Sarnath kepada lima pertapa yang dulu menjadi rekannya saat bertapa menyiksa diri.

Selama 45 tahun, beliau menyampaikan khotbah – Nya demi kebahagiaan umat manusia hingga memasuki Maha Pari-Nibbana di Kusinara pada usia 80 tahun. Tidak heran bila umat Buddha mempercayai empat tempat suci, yakni Rummindei, Bodhgaya, Sarnath, dan Kusinagar.

Sikap Kritis dan Toleran

Pada momen bersejarah nan agung ini, umat Buddha di seluruh dunia diharapkan mampu meneladani pesan – pesan damai dan toleran Sang Buddha. Selain itu, kita bisa mengambil hikmah dari jalinan kata sabda Sang Buddha yang tidak hanya berisi tentang pesan – pesan kebajikan dan kemuliaan hati, melainkan juga mengandung sikap kritis dan toleran terhadap keyakinan agama lain.

Tidak heran bila Gunaseela Vitanage (2000) dalam “Sikap Buddha terhadap agama lain”, menguraikan beberapa fakta yang lahir dari jalinan kata – kata sabda Sang Buddha yang sangat toleran dalam bersikap dan memandang agama lain. Sikap yang ditunjukkan Sang Buddha mencerminkan suatu kearifan dan penghargaan sedalam – dalamnya terhadap agama lain.

Pertama, tujuan dan misi Buddha di dunia bukan untuk mengumpulkan pengikut dalam jumlah besar atau sekedar meminta mereka mengubah label – label agama, melainkan untuk mengajarkan manusia tentang kebajikan, kemuliaan hati, akal budi, keyakinan agama, filsafat, dan metode untuk meningkatkan kebahagiaan dan ketenangan hidup.

Kedua, bahwa beliau tidak menginginkan penganut agama lain berharap menjadi murid – Nya. Bahkan, Sang Buddha mengakui bahwa nilai – nilai kepercayaan, baik dalam ukuran besar maupun kecil, juga terdapat dalam agama lain.

Ketiga, bahwa metode pelatihan dari Sang Buddha bersifat edukatif dan mencerahkan. Itulah sebabnya, beliau tidak berkaitan dengan indoktrinasi dengan serangkaian ajaran dan dogma misterius yang dianggap tidak memiliki makna nyata.

Keempat, bahwa Sang Buddha tidak pernah mengklaim dirinya sebagai penyelamat dam pengertian orang yang memikul beban dosa orang lain. Akan tetapi, beliau penyelamat dalam arti orang yang mengajarkan kebenaran yang menyelamatkan dan kebenaran yang membimbing orang menuju kelepasan terakhir dari penderitaan (Vimutti).

Maka, seiring dengan momentum Waisak ini, umat Buddha Indonesia seharusnya memperkuat sikap toleran terhadap agama lain dan diharapkan ikut terlibat dalam memajukan semangat persatuan dan kesatuan bangsa melalui penghargaan terhadap keniscayaan pluralitas, kemajemukan, multikulturalisme dan lain sebagainya.

Dikutip dengan perbaikan seperlunya dari tulisan Mohammad Takdir Ilahi (Staf Riset The Mukti Ali Institute dan Peminat Kajian Perbandingan Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s