Bersua dengan Perempuan Perkasa

Standar

Semangat kebangkitan dan kesetaraan merupakan roh emansipatoris Kartini yang diwarisi kaum perempuan modern di bangsa ini. Jika di zaman Kartini kaum perempuan hidup dalam era “pingitan” adat istiadat, kini berkat “gagasan – gagasan spiritual” Kartini, perempuan – perempuan zaman sekarang telah berkiprah visioner melampaui urusan – urusan domestik lewat keterlibatannya di dunia pendidikan, ekonomi, kesehatan, hukum bahkan politik.

 

Kesetaraan antara kaum perempuan dan laki – laki di negeri ini dipastikan sudah hampir tergenapi. Hal ini dapat dibuktikan dengan keberhasilan perempuan menduduki kursi presiden Republik Indonesia. Bahkan pemerintah Indonesia pun tidak segan untuk menambah jumlah kursi bagi perempuan di DPR/D. Jika di era Orde Baru kedudukan perempuan di DPR/D masih dianggap sebagai sesuatu hal yang aneh, namun tidak demikian halnya dengan yang terjadi sekarang.

 

Saat ini kaum perempuan yang duduk sebagai anggota DPR berjumlah 18,03% atau menempati sekitar 101 kursi dari total keseluruhan kursi yang ada. Jumlah ini mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan pemilu 2004 yang jumlahnya 11,6% atau pemilu 1999 yang jumlahnya 8,6%. (Laporan khusus BBC Indonesia, 6 Maret 2011). Hal ini tentunya semakin menegaskan eksistensi dan kedudukan perempuan dalam tata pemerintahan negeri ini.

 

Fenomena Kontras

 

Namun di tengah menggeliatnya animo politik kaum srikandi, kita diperhadapkan fenomena kontras, yakni terjerumusnya beberapa politisi, pejabat maupun pengusaha perempuan ke lembah korupsi. Nama – nama seperti Artalita Suryani, Imas Dianasari, Dharnawati, Wa Ode Nurhayati, Nunun Nurbaeti, Miranda Goeltom, Angelina Sondakh dan Mindo Rossalina Manulang pasti bukanlah nama yang asing di telinga kita hari ini. Nama – nama tersebut seringkali muncul dalam pemberitaan kasus korupsi di media elektronik maupun cetak.

 

Ini menimbulkan skeptisisme bagi masyarakat terutama yang selama ini mulai menaruh harapan besar pada kiprah perempuan di jagat birokrasi dan politik, bahwa keberadaan perempuan memberikan nuansa progresif bagi pembangunan politik dan birokrasi Tanah Air. Banyak yang mencibir, perempuan tidak lebih baik dari laki – laki, bahkan mengatakan perempuan telah gagal membuktikan visi emansipatorisnya bagi kemajuan peradaban bangsa. Mereka diidentikkan dengan kaum yang permisif terhadap pola laku konsumerisme, yang memuja instantisme dan glamourisme dan tidak peduli pada persoalan – persoalan nasional selain memikirkan “kepentingan diri” sendiri.

 

Namun tanpa bermaksud “membela diri”, rasanya terlalu cepat dan generalism menilai seolah – olah perempuan dianggap hanya menambah beban bagi persoalan bangsa. Tidak adil jika semua kaum hawa di Tanah Air harus menjadi korban stigmaisasi oleh perilaku segelintir perempuan yang kebetulan ada di pucuk kekuasaan. Saya terenyuh membaca beberapa opini di beberapa harian lokal maupun nasional yang seolah – olah menyudutkan kaum perempuan terkait maraknya kaum korupsi. Seakan – akan mengecilkan arti peran perempuan Indonesia lainnya yang “diam – diam” ikut memperkokoh fondasi nilai kemanusiaan bangsa. Hanya saja, apa yang mereka lakukan selama ini tidak terpublikasi layaknya para artis atau sosialita. Mereka berjuang dalam kesepian, tetapi dengan sebuah keteguhan hati yang tak diragukan.

 

Srikandi Perkasa

 

Mereka, srikandi – srikandi yang dengan spirit pengorbanan berjuang, mengabdikan diri secara total bagi kepentingan banyak orang. Dengan keperkasaan dan mentalitas kepemimpinan, mereka tampil di garis depan, ikut memberikan kontribusi bagi penyelesaian permasalahan bangsa dalam berbagai bidang. Kita mungkin bisa menyebut salah satunya yakni Karen Agustiawan. Perempuan pertama yang dipercayai menjadi Direktur Utama salah satu BUMN terbesar di Indonesia. Berkat prestasi itu, ia masuk dalam 50 wanita Asia sukses versi majalah forbes.

 

Dalam bidang kemanusiaan, sebut saja Ibu Hj. Andi Rabiah atau yang lebih dikenal dengan nama Suster Apung, yang dengan ikhlas dan tanpa pamrih melakukan pelayanan kesehatan di wilayah kepulauan dengan kondisi geografi terpencil dan fasilitas yang serba minim. Ada juga Veronica Colondam yang memiliki visi serta memberi dirinya untuk merangkul kaum marginal dengan mendirikan Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) yang bergerak di bidang pemberdayaan ekonomi perempuan (memfasilitasi kaum perempuan yang ingin berdagang dengan memberikan kredit murah tanpa agunan), pendidikan bagi anak jalanan dan bantuan terhadap penyalahgunaan narkoba dan HIV/AIDS. Di Indonesia Timur ada nama Aleta Baun yang berasal dari Molo, NTT yang setia berjuang tanpa kenal letih memelopori feminisasi – gerakan tolak tambang di daerahnya guna menyelamatkan tanah – sebagai sumber menyusu – rakyat itu dari investor tambang. (Koran Jakarta, 11 Maret 2012).

 

Dari lingkungan keluarga, kita bersua banyak perempuan yang mendedikasikan dirinya sebagai tulang punggung keluarga demi menyelamatkan masa depan anak – anak mereka. Taruhlah Ponirah, dalam usianya yang sudah tidak muda lagi ia tetap bersemangat, gigih dan tidak menyerah dengan keadaannya. Perempuan perkasa yang berasal dari Bantul, Yogyakarta, ini rela menekuni profesi kesehariannya sebagai tukang becak demi menghidupi keluarganya sehingga anak – anaknya dapat disekolahkan sampai di bangku SMA.

 

Lain halnya dengan Suyanti yang memilih profesi tidak lazim sebagai sopir bus malam jurusan Wonogiri – Jakarta, hanya untuk tetap bisa menghidupi  orang tua dan anak – anak tercintanya (Kick Andy, 28 April 2008). Mereka adalah contoh perempuan yang rela untuk melakukan apa saja asalkan halal demi kelangsungan hidup keluarganya, yang di satu sisi berperan sebagai ibu rumah tangga dan di sisi lain juga menjadi tumpuan hidup keluarga. Mereka ini seakan membuktikan kebenaran filosofi klasik James Steuart dalam Stannland (2003) yang mengatakan, ibu adalah ekonomi, yang merupakan sendi dalam menyediakan seluruh keinginan keluarga.

 

Ironi memang, di satu sisi ada perempuan – perempuan yang dengan teganya mengorbankan akidah keperempuanannya hanya demi eksistensi diri sesaat, namun di sisi lain masih ada perempuan – perempuan perkasa yang jumawa memegang teguh nilai – nilai kejujuran, kebijaksanaan dan rasa kepedulian yang tinggi terhadap keluarga dan sosialnya. Mereka tekun menularkan nilai – nilai luhur yang dianut dan dipupuk mulai dari dalam kehidupan keluarga sebagai inspirasi perjuangan kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

 

Di tengah badai korupsi yang melanda kaum perempuan saat ini, secuil harapan terus dinyalakan dalam diri perempuan – perempuan perkasa yang berkomitmen hidup dalam semangat kerja keras yang tak terpermanai yang secara implisit maupun eksplisit ingin membuktikan kepada bangsa bahwa perempuan tidak hanya berhubungan dengan konsumerisme dan glamourisme semata, melainkan merupakan pejuang tangguh yang dapat menjalankan perannya sebagai penopang kehidupan keluarga bahkan bangsa dengan tetap tidak melupakan hakekat kodratinya sebagai seorang ibu sejati.

 

Atas perjuangan, dedikasi, kerja keras dan air mata kartini – kartini modern ini, kita layak menyalutinya. ***

 

Dikutip dari tulisan Fransisca Ayu Kumalasari, SH dengan perbaikan dan penambahan seperlunya.

About springocean83

I'm a quiet shy man who have soft feeling but can be hot and have more attention if meet anyone who honest and have more understanding of each other. I like travelling, swimming and reading. The most bored thing for me is PARTY because I'm a personal who like peaceful and equanimity.

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s