Srikandi Tenis Indonesia : Yayuk Basuki

Standar

Sri Rahayu Basuki atau lebih dikenal dengan nama Yayuk Basuki lahir pada tanggal 30 November 1970 di Demangan Kidul, Yogyakarta. Ia adalah petenis putri Indonesia yang terkenal pada era tahun 1990 – an sekaligus petenis yang pernah tercatat memiliki ranking tertinggi dalam daftar peringkat WTA, yakni peringkat 19 dunia pada Oktober 1997. Sepanjang kariernya, Yayuk berhasil memperoleh enam gelar tunggal Tur WTA dan sembilan gelar dari ganda. Prestasi terbaiknya dalam turnamen Grand Slam adalah mencapai babak perempat final  Wimbledon pada tahun 1997. Ia pensiun dari tenis profesional di tahun 2004, namun hingga kini masih aktif bermain di nomor ganda.

 

Sejak kecil, Yayuk sudah bertekad ingin menjadi petenis tingkat dunia. Ayahnya, Budi Basuki, seorang, mantan anggota polisi di Purwokerto, Jawa Tengah dan ibunya, Sutini, memperkenalkan Yayuk pada tenis sekaligus melatihnya sejak ia berumur 7 tahun. Di umur 13 tahun, anak kelima dari lima bersaudara ini bernaung di sebuah klub tenis di Ragunan, Jakarta hingga tahun 1989. Yayuk kemudian ditangani oleh beberapa pelatih secara bergantian. Namun bagi dirinya, yang paling besar jasanya adalah Mien Gondowidjojo yang dianggapnya bukan sekadar pelatih tapi juga seperti orangtuanya sendiri. Tahun berikutnya, Yayuk masuk klub Pelita, yang merupakan klub milik Aburizal Bakrie

 

Yayuk mulai menekuni tenis profesional sejak kembali dari Beijing pada Oktober 1990 dan dilatih oleh George Jiri Waters. Pada tahun berikutnya, ia menjadi petenis Indonesia pertama yang menjuarai turnamen professional.  Di turnamen Challenge II di Jakarta pada Februari 1991, Yayuk yang bertengger di peringkat 259 WTA berhasil meraih gelar juara. Lalu di awal April 1991, ia kembali mendulang sukses dengan menjuarai turnamen Pattaya di Thailand. Dengan hasil ini, ia berhasil mendongkrak peringkatnya hingga ke posisi 86 WTA. Pers dan penonton di luar negeri kemudian menjuluki Yayuk sebagai “Jaguar of Asia” setelah ia memenangkan turnamen tenis di Pattaya ini.

 

Sepanjang kariernya, Yayuk pernah mencatat kemenangan melawan petenis – petenis  terbaik dunia. Sebut saja, Martina Hingis, Amelie Mauresmo, Mary Joe Fernandez, Lindsay Davenport, Gabriela Sabatini, Magdalena Maleeva, Anke Huber, Iva Majoli, Anna Kournikova, Zina Garrison  dan Mary Pierce. Kemenangan terbaiknya adalah pada saat berhasil mengalahkan Iva Majoli yang merupakan juara Prancis Terbuka pada saat itu.

 

Yayuk juga menjadi wanita Indonesia kedua yang berhasil memenangkan medali emas tunggal Asian Games, setelah Lita Liem Sugiarto di tahun 1974, ketika ia berhasil mengalahkan petenis Thailand, Tamarine Tanasugarn di Asian Games Bangkok tahun 1998.

 

Ketika Yayuk masuk delapan besar Wimbledon, ia mencatatkan dirinya sebagai wanita Indonesia pertama yang masuk “Eight Club”, lembaga yang menampung para alumni delapan besar turnamen akbar itu. Dengan menjadi anggota “Klub Delapan” ini , Yayuk bisa menikmati fasilitas VIP, termasuk hotel kelas satu di mana saja. Di Asia, selain Yayuk, yang masuk kelompok ini hanyalah Kimiko Date dari Jepang.

 

Yayuk juga mewakili Indonesia pada Olimpiade 1988, 1992, 1996, dan 2000. Prestasi tertingginya di olimpiade adalah di Barcelona 1992 saat ia berhasil mencapai babak ketiga setelah mengalahkan Mercedes Paz dan Mary Pierce. Namun akhirnya ia dikalahkan oleh petenis AS, Jennifer Capriati.

 

Yayuk juga tercatat sebagai pemain ganda yang cukup sukses. Ia sering berpasangan dengan Nana Miyagi dan kemudian Caroline Vis. Di nomor ganda, ia pernah duduk di peringkat 9 dunia, yakni di bulan Juli 1998. Hasil pertandingan terbaik di nomor ganda turnamen Grand Slam yang pernah dicapainya adalah mencapai semifinal AS Terbuka 1993 berpasangan dengan Nana Miyagi.

 

Dalam nomor ganda campuran, Yayuk berhasil menembus babak perempat final Prancis Terbuka 1995 berpasangan dengan Kenny Thorne. Di tahun 1997, Yayuk yang berpasangan dengan Tom Nijssen berhasil mencapai babak perempat final Wimbledon.

 

Yayuk menikah dengan Hary Suharyadi yang juga merupakan pelatihnya pada tanggal 31 Januari 1994. Setelah melahirkan anak pertamanya, Yary Nara Sebrio Suharyadi di bulan September 1999, Yayuk kembali mengayunkan raket di tahun berikutnya.

 

Aral melintang pernah merintangi karir Yayuk. Ia pernah merasakan dicoret dari tim Fed Cup Indonesia karena bersama Suharyadi, suami sekaligus pelatihnya dianggap lancang menulis surat ke badan dunia tenis wanita agar memilih lapangan tempat tim Indonesia bertanding. Yayuk dan Suharyadi akhirnya ‘keluar’ dari tim Indonesia setelah mundurnya Ketua Badan Tim Nasional, Wimar Witoelar yang dikenal dekat dengan pasangan ini.

 

Yayuk akhirnya mengambil keputusan tegas untuk mengejar target menembus 20 besar dunia. Jadwal ketat pertandingan dunia itu bersinggungan dengan jadwal SEA Games dan PON, kedua event itu terpaksa ia lewatkan. Langkahnya tidak main-main. Ia mendirikan YBM (Yayuk Basuki Management), organisasi yang kemudian mengelola semua kebutuhan bertanding Yayuk. Ia bekerjasama dengan Wimar Witoelar. Kemudian YBM dikelola oleh Robert Manurung, yang mengurusi segala kegiatan promosi, keuangan, dan program latihan Yayuk. Ia juga berharap sistem ini bisa dicontoh oleh atlet-atlet Indonesia lain jika memang ingin aktif ke ajang tenis profesional.

 

Selain itu, karena sering absen di arena yang membawa “bendera nasional” maka kerapkali Yayuk “ribut” dengan PB Pelti. Dia kerap dituduh mementingkan diri sendiri di atas kepentingan nasional dan tuduhan semacamnya itu. Kontan saja Budi Basuki mengeluarkan reaksi ketika itu. “Pelti tak perlu ribut kalau memang Pelti lebih mengutamakan kepentingan bangsa,” kata Budi tegas. Komentar ini memang tak berlebihan mengingat tiga belas tahun sudah, Yayuk loyal membawa nama negara.

 

Setelah pensiun dari dunia tenis profesional pada tahun 2004, di bulan Maret 2008, Yayuk kembali bermain di ajang ITF Tour pada cabang ganda putri dan sampai sekarang telah memenangkan enam gelar ITF. Ia menjadi juara di Bangkok pada Juni 2008 berpasangan dengan Tiffany Welford. Dilanjutkan pada Agustus 2008, Yayuk yang berpasangan dengan Romana Tedjakusuma meraih titel juara di Hechingen, Jerman. Pada bulan Oktober, Yayuk yang kembali berpasangan dengan Romana berhasil menjadi juara di Augusta, Amerika Serikat.

 

Tahun 2009 Yayuk kembali berpasangan dengan Romana dan berhasil menjadi juara di Balikpapan. Kemenangan ini berlanjut di Goyang dan Gimhae, Korea Selatan.

 

Pada Australia Terbuka 2010 lalu, Yayuk ikut berpartisipasi dan berpasangan dengan Kimiko Date-Krumm. Namun pasangan ini dikandaskan di babak pertama oleh sania Mirza dan Virginia Ruano Pascual.  Bahkan Yayuk yang sudah hampir berusia 40 tahun mampu menembus babak perempat final ajang Taipei Terbuka berpasangan dengan Jessy Rompies. Di bulan November 2010, Yayuk yang dipasangkan dengan Jessy akan membela Indonesia di ajang Asian Games XVI Guangzhou China.

 

Di tahun 2011, Yayuk bermain di tiga turnamen WTA dan lima Turnamen ITF. Ia sukses mewakili Indonesia di Piala Federasi dengan memenangkan empat pertandingan ganda bersama Jessy untuk membawa Indonesia ke Grup I Zona Asia/Oceania. Penampilan terakhirnya di ajang tur WTA adalah di Guangzhou International Women’s Open pada bulan September 2011, dimana ia yang berpasangan dengan Lu Jingjing berhasil menembus babak perempat final.

 

Bagaimana soal hadiah jutaan dolar yang dikumpulkannya? Disimpan dalam bentuk dolar AS? Penggemar film eksyen dan drama – dia menonton film Pretty Woman sampai enam kali – tertawa. “Sebenarnya aset saya masih tersimpan dalam bentuk rupiah, makanya agak terguncang juga nih. Tapi kalau saya cemas, bagaimana dengan orang-orang yang ada di bawah kita. Ya, kita pahami sebagai perputaran hidup saja,” jelas petenis yang di perempat final Wimbledon saja sudah mengantongi sekitar Rp 150 juta ini.

 

Dan dengan semua kejayaan ini, Yayuk kabarnya tak ragu membagikan sedikit perolehannya untuk kegiatan amal. Di rumahnya, di kawasan Jakarta Selatan, Yayuk konon pernah membantu dana pengaspalan jalan. Juga membantu orang tua saya. Itu kebanggaan tersendiri bagi saya,” lanjut gadis Yogyakarta yang tetap “Jawa” walau lebih banyak berada di luar negeri ini.

 

Berikut ini adalah rangkuman prestasi Yayuk sepanjang kariernya :

  • 1987: Perempat final Wimbeldon junior.
  • 1991: Babak ketiga Wimbeldon Juara Patayya Terbuka
  • 1992: Babak keempat Wimbeldon Juara Malaysia Terbuka
  • 1993: Babak keempat Juara Pattaya Terbuka Juara Indonesia Terbuka
  • 1994: Sampai babak keempat Juara Nokia Juara Indonesia Terbuka
  • 1995: Atlet terbaik versi SIWO PWI jaya
    • Semi final Indonesia Terbuka
    • Babak ketiga Australia Terbuka
    • Babak ketiga Toray Pan Pasifik
    • Babak kedua Indian Wells
    • Babak ketiga Lipton
    • Babak kedua Piala Federasi
  • 1996: Babak ketiga Tasmania Terbuka
    • Babak ketiga Australia terbuka
    • Babak ketiga Perancis terbuka
    • Menang atas Iva Majoli dalam Kanada Terbuka
  • 1997: Babak kedua Australia Terbuka
    • Perempat final Perancis Terbuka
    • Peringkat 21 WTA
    • Peringkat 22 WTA
    • Delapan besar Wimbledon
    • Beberapa prestasi ganda lain.

About springocean83

I'm a quiet shy man who have soft feeling but can be hot and have more attention if meet anyone who honest and have more understanding of each other. I like travelling, swimming and reading. The most bored thing for me is PARTY because I'm a personal who like peaceful and equanimity.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s