Larangan Penggunaan Barang Elektronik dalam Pesawat

Standar

Banyak hal yang menjadi penyebab kecelakaan pesawat terbang, baik karena gangguan teknis, kesalahan prosedur, human error, cuaca buruk, atau lainnya. Akibat permasalahan ini, maka pesawat mengalami kesulitan take off atau landing karena terganggunya sistem turbulensi atau navigasi penerbangan.

 

Salah satu hal yang bisa menyebabkan gangguan tersebut dan juga hal yang paling dilarang adalah menggunakan handphone (ponsel). Setiap kali kita hendak terbang dengan pesawat, pramugari pasti meminta para penumpang agar mematikan HP-nya selama penerbangan berlangsung. Imbauan yang sudah menjadi protap (prosedur tetap) sebelum penerbangan itu sudah sering kita dengar. Tak kurang dari itu, sejumlah lefleat atau brosur  mengenai aturan penerbangan diletakkan di dekat kursi penumpang, namun ironisnya ternyata masih banyak penumpang yang tidak mematuhinya.

 

 

Faktanya tetap saja banyak penumpang yang mengaktifkan dan menggunakan handphone, baik akan berangkat, pesawat sudah siap take off, maupun ketika akan  landing. Kira-kira lima menit pesawat akan  landing  menuju landasan, sejumlah penumpang sudah bersiap-siap menyalakan handphone. Tujuannya ingin memberi kabar kepada keluarga atau sanak saudara akan kedatangannya di bandara tujuan. Begitu pula ketika akan berangkat, penumpang menyampaikan kepada keluarganya kalau akan segera terbang dengan pesawat A, B, atau C.

 

 

Akibatnya, pesawat beserta seluruh penumpang dan awak pesawat terancam keselamatannya. Sebab kendali / navigasi pesawat menggunakan serangkaian alat eletronik digital yang sangat sentitif terhadap frekuensi gelombang radio, sedangkan HP mengeluarkan serta menerima gelombang radio yang sangat kuat. Saking pentingnya hal ini, di dalam aturan dari Aviation Safety Reporting System (ASRS), mengenai aturan keselamatan penerbangan sipil, disebutkan bahwa handphone (ponsel) mempunyai peran yang sangat besar terhadap keselamatan penerbangan. Mungkin kita bertanya – tanya mengapa bisa demikian ? Berikut ini adalah penjelasannya.

 

Ponsel adalah peralatan komunikasi elektronik dua arah yang menggunakan bantuan stasiun relay.  Untuk menghubungkan kedua peralatan tersebut agar bisa digunakan untuk berkomunikasi, diperlukan gelombang elektromagnetik yang dipasang pada frekuensi tertentu. Gelombang tersebut dipancarkan oleh si pengirim, kemudian ditangkap oleh Base Transceiver Station (BTS) dan disalurkan ke penerima. Sifat gelombang ini bisa saling mempengaruhi bila berada dalam frekuensi yang sama atau berdekatan. Ponsel yang beredar saat ini kebanyakan menggunakan frekuensi antara 100 Megahertz sampai 2,7 Gigahertz dengan kekuatan 30 Miliwatt.
Sebuah HP yang sedang aktif  yang dibawa oleh penumpang pesawat saat posisi terbang pada ketinggian 35.000 kaki sanggup menembus jarak radius 35 km di bawah pesawat (di pusat kota Jakarta saja pada radius 35 km terdapat kurang lebih  600 BTS).  Ini artinya, selain mengganggu sistem kemudi dan navigasi pesawat, tanpa disadari, ulah penumpang itu juga menggangu BTS yang mampu dijangkau oleh HP.
Sebagai tambahan, frekuensi gelombang elektromagnetik yang dipakai oleh ponsel sama dengan frekuensi peralatan komunikasi yang digunakan oleh pilot di kokpit pesawat dengan Air Traffic Control (ATC) atau menara pengatur lalu lintas udara di darat, yang biasanya menggunakan frekuensi antara 118-137 Megahertz.  Karena frekuensinya sama, maka kedua frekuensi ini akan saling ”bertabrakan”, sehingga bisa mengakibatkan gangguan, terutama pada sistem komunikasi di pesawat. Nah, bila itu terjadi, maka sang pesawat bisa diasumsikan seperti si buta yang tanpa pemandu. Apalagi bila pesawat tersebut menggunakan sistem autopilot yang hanya dipandu oleh sistem komputerisasi tanpa campur tangan pilot.

 

Selain ponsel, ada juga peralatan lain yang tidak boleh digunakan di dalam pesawat yang sedang mengudara, yaitu komputer, CD player, televisi dan game boy. Bahkan pesawat radio juga sangat diharamkan karena menggunakan frekuensi antara 100 hingga 2.000 megahertz.

 

Banyak sekali gangguan yang ditimbulkan oleh peralatan – peralatan elektronik yang disebutkan di atas.  Menurut Aviation Safety Reporting Sistem (ASRS), beberapa gangguan yang disebabkan oleh peralatan elektronik di dalam pesawat antara lain gangguan navigasi, gangguan VHF Omnidirectional Receiver (VOR tidak terdengar), gangguan sistem kemudi otomatis, arah terbang bisa melenceng, Horizontal Situational Indicator (HIS) terganggu, gangguan sistem navigasi, gangguan frekuensi komunikasi, gangguan indikator bahan bakar, gangguan sistem kemudi otomatis, gangguan arah kompas (karena komputer, CD, game), gangguan Course Deviation Indicator (CDI) dikarenakan game boy, dan sebagainya.

 

Berikut ini adalah, beberapa kecelakaan pesawat yang tercatat akibat kelalaian penumpang dalam mematuhi larangan di atas :

 

  1. Pesawat Crossair dengan nomor penerbangan LX498 baru saja take-off dari Bandara Zurich, Swiss. Sebentar kemudian pesawat menukik jatuh. Sepuluh penumpangnya tewas. Penyelidik menemukan bukti adanya gangguan sinyal ponsel terhadap sistem kemudi pesawat.
  2. Sebuah pesawat Slovenia Air dalam penerbangan menuju Sarajevo melakukan pendaratan darurat karena sistem alarm di kokpit penerbang terus meraung-raung. Ternyata, sebuah ponsel di dalam kopor di bagasi lupa dimatikan dan menyebabkan gangguan terhadap sistem navigasi.
  3. Boeing 747 Qantas (maskapai penerbangan dari Australia), tiba-tiba miring ke satu sisi dan mendaki lagi setinggi 700 kaki justru ketika sedang final approach untuk landing di Bandara Heathrow, London. Penyebabnya adalah karena tiga penumpang belum mematikan komputer, CD player, dan electronic game masing-masing (The Australian, 23-9-1998).
  4. Penggunaan ponsel dalam pesawat diduga menjadi faktor penyebab kecelakaan sebuah pesawat di Selandia Baru pada 2003, terdapat delapan penumpang tewas. Pada saat itu, yang menyalakan telepon seluler bukanlah penumpang melainkan pilot yang tidak sabar menelepon keluarganya di rumah.
  5. Pada 2007, perangkat navigasi sebuah Boeing 737 di Amerika Serikat tak bekerja setelah lepas landas, akhirnya diketahui seorang penumpang mengaktifkan perangkat elektroniknya.

 

Tentu masih banyak lagi kecelakaan pesawat yang juga disebabkan oleh penggunaan alat komunikasi ini. Studi terbaru yang dipublikasikan mailonsunday.co.uk bahkan memperkuat hal tersebut dalam rilisan hasil riset terbarunya, yang menyatakan bahwa meski hanya seorang penumpang yang mengaktifkan ponsel atau menggunakan perangkat elektronik lain selama penerbangan, sudah mampu menggangu bahkan mematikan sistem elektronik pesawat.

 

Bahkan, Otoritas Penerbangan Sipil Inggris juga telah menemukan terjadinya 35 peringatan tanda bahaya di pesawat yang diakibatkan oleh penggunaan perangkat komunikasi (handphone, blackberry, Ipad, laptop, dll).

 

Jaringan televisi  ABC News juga melaporkan, sedikitnya terjadi 75 kecelakaan pesawat terbang akibat penggunaan gadget komunikasi. Dari sejumlah angka itu, 26 kasus karena alat komunikasi mempengaruhi sistem auto-pilot dan kontrol pendaratan, 17 kasus karena alat komunikasi mempengaruhi sistem navigasi, 15 kasus karena alat komunikasi mengganggu sistem komunikasi, dan 13 kasus karena alat komunikasi menghasilkan pengaktifan tanda bahaya, bahkan beberapa pada mesin.

 

Memang pelarangan berkomunikasi selama penerbangan ini tentu sangat tidak nyaman. Apalagi dalam penerbangan jarak jauh yang memakan waktu berjam-jam. Apalagi jika komunikasi yang berkaitan dengan bisnis atau masalah pekerjaan dan lain-lain.
Namun kini, untuk pesawat-pesawat inovasi terbaru, biasanya sudah dilengkapi dengan sistem komunikasi yang canggih, terutama untuk komputer, internet, TV, radio dan ponsel. Peralatan elektronik tersebut sudah dilengkapi dengan beberapa antena khusus yang bisa melokalisasi frekuensi yang digunakan, sehingga tidak bertabrakan dan mengganggu frekuensi yang digunakan oleh pilot dan ATC.

Namun, alat-alat yang bisa digunakan di dalam pesawat  itu hanya yang sudah terpasang di dalam pesawat saja. Untuk piranti elektronik milik pribadi tidak boleh digunakan, karena frekuensinya belum diatur sedemikian rupa sehingga masih besar potensinya untuk bertabrakan dengan frekuensi pesawat.
Perlu dicatat bahwa untuk penggunaan alat-alat elektronik yang disediakan di dalam pesawat juga  tetap tidak boleh sembarangan, terutama pada saat-saat krusial, yaitu saat pesawat akan lepas landas dan pada saat akan mendarat (90% kecelakaan pesawat udara terjadi pada saat ini). Pada saat itulah biasanya peralatan elektronik tersebut diminta untuk dimatikan. Apalagi di Indonesia yang tidak semua maskapainya mempunyai pesawat yang menggunakan sistem canggih tersebut, maka penumpang diwajibkan untuk mengikuti intruksi pramugari dalam hal boleh tidaknya menggunakan alat elektronik di dalam pesawat demi keselamatan bersama.

 

Beruntungnya banyak negara yang sudah menyadari pentingnya hal ini, termasuk Indonesia. Ini dibuktikan dengan dicantumkannya larangan ini dalam peraturan perundang – undangan, yakni  UU NO.1 Tahun 2009. Berikut isi pasal berikut sanksi dan pejelasannya :

 

Pasal 54

Setiap orang di dalam pesawat udara selama penerbangan dilarang melakukan :

  1. perbuatan yang dapat membahayakan keamanan dan keselamatan penerbangan;
  2. pelanggaran tata tertib dalam penerbangan;
  3. pengambilan atau pengrusakan peralatan pesawat udara yang dapat membahayakan keselamatan;
  4. perbuatan asusila;
  5. perbuatan yang mengganggu ketenteraman; atau
  6. pengoperasian peralatan elektronika yang mengganggu navigasi penerbangan.

 

Pasal 412

(5) Setiap orang di dalam pesawat udara selama penerbangan mengoperasikan peralatan elektronika yang mengganggu navigasi penerbangan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 huruf f dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).
Penjelasan terhadap isi UU No.1 Tahun 2009

Pasal 54

Cukup jelas.

About springocean83

I'm a quiet shy man who have soft feeling but can be hot and have more attention if meet anyone who honest and have more understanding of each other. I like travelling, swimming and reading. The most bored thing for me is PARTY because I'm a personal who like peaceful and equanimity.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s