Bambu untuk Hidup Berkelanjutan

Standar

 

Sangat ironis, sebuah negeri yang terkenal dengan kekayaan alam dan budayanya dinyatakan sebagai negara yang gagal.

Dalam Indeks Negara Gagal (Failed State Index) 2012 yang dipublikasikan di Washington DC oleh lembaga Fund for Peace, Indonesia menduduki peringkat ke – 63  dari 178 negara (tahun lalu peringkat ke – 64 dari 177 negara).

Salah satu yang menyebabkan negeri ini memburuk kondisinya adalah belum optimalnya pemberdayaan masyarakat untuk mengakses sumber kehidupan seperti sumber daya alam, sumber daya manusia, sumber daya fisik, modal sosial dan sumber daya keuangan.

Masalah pemberdayaan masyarakat ini bukan hanya tanggung jawab Pemerintah, tapi tanggung jawab kita bersama, Salah satunya dengan mengadakan kegiatan Workshop Bambu : Rekonstruksi Tapak Bumi Village tanggal 11 – 13 Juli 2012 oleh NGO Banten Creative Community (BCC) bekerja sama dengan Satuan Kerja Penataan Bangunan dan Lingkungan Provinsi Banten dan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Banten.

Mengapa harus bambu? Kan masih ada objek lain yang lebih menjual seperti kayu, baja atau sampah yang selalu menjadi masalah di kota-kota besar maupun kecil. Jawabnya adalah karena bambu masih dianggap sebagai simbol kemiskinan, sedangkan di negara-negara lain, bahkan negara yang minim budaya bambunya seperti Afrika, bambu merupakan Emas Hijau dan simbol kemapanan.

Di beberapa wilayah di Indonesia, seperti Sunda dan Banten, bambu atau biasa disebut awi sudah merupakan budaya yang mengakar dalam kehidupan sehari-harinya. Sebut saja Baduy di pegunungan Kendeng dan Kasepuhan Banten Kidul di lereng Gunung Halimun, semuanya di Kabupaten Lebak Provinsi Banten. Arsitekturnya yang fleksibel, demokratis dan menyatu dengan alam. Bermukim dalam tradisi masyarakat Baduy dan Kasepuhan Banten Kidul tidaklah hanya sebagai tempat tinggal, karena di sanalah komunitas itu melakukan ritual kehidupan, ketika alam menyediakan sumber kehidupan dan memungkinkan terjadinya bentuk komunikasi antar individu, antar keluarga, antar ikatan, antar sesama makhluk hidup dengan alamnya dan antar manusia dengan Penciptanya (Dokumentasi PBL Banten, 2010).

Pemanasan Global (Global Warming) yang menyebabkan perubahan iklim bukan lagi isu, tapi sudah terjadi dan mengancam peradaban manusia. Perubahan iklim iniakan menyebabkan mencairnya es di kutub (Greenland dan Antartika barat) dan di puncak gunung, naiknya permukaan air laut, berkurangnya persediaan pangan, kesehatan memburuk, menipisnya persediaan air, meningkatnya perpindahan penduduk dan konflik. Juga kepunahan spesies daratan, kerusakan ozon, rusaknya ekosistem laut, deforestasi hutan, rusaknya ekosistem air tawar, pengasaman laut, pelepasan metana dan karbondioksida, angin topan, kekeringan, kebakaran dan gelombang panas.

Sejak diberlakukannya Protokol Kyoto tahun 1997, tercatat sudah sebanyak 193 Pihak (192 negara dan 1 organisasi integrasi ekonomi regional) yang telah meratifikasi protokol tersebut, termasuk Indonesia (sumber : http://unfccc.int). Protokol Kyoto adalah sebuah amandemen terhadap Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), sebuah persetujuan internasional mengenai pemanasan global.

Negara-negara yang meratifikasi protokol ini berkomitmen untuk mengurangi emisi/pengeluaran karbon dioksida dan lima gas rumah kaca lainnya, atau bekerja sama dalam perdagangan emisi jika mereka menjaga jumlah atau menambah emisi gas-gas tersebut, yang telah dikaitkan dengan pemanasan global. Jika sukses diberlakukan, Protokol Kyoto diprediksi akan mengurangi rata-rata cuaca global antara 0,02 °C dan 0,28 °C pada tahun 2050. (sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Protokol—Kyoto).

Perubahan iklim merupakan tantangan yang paling serius yang dihadapi manusia di abad 21 ini. Sejumlah bukti baru dan kuat yang muncul dalam studi dan penelitian memperlihatkan bahwa masalah pemanasan yang terjadi setelah revolusi Industri disebabkan oleh ulah manusia.

Oleh karena itu, mulailah isu ini menjadi trending topic yang disikapi diberbagai Negara termasuk Indonesia dengan cara yang beraneka ragam. Di bidang industri, ada konsep Green Industry dan di bidang perencanaan, dikenal dengan nama Sustainable Development, Green City, Eco City, Eco Village dan Green Building.

Keadilan untuk semua atau Justice for All, demikian hasil dari earth summit tahun 1992. Namun faktanya tidak demikian, karena realisasinya hanya menguntungkan negara-negara maju saja dan menambah miskin negara-negara berkembang secara sistematis dan terstruktur. Fakta bahwa sekitar 80% populasi dunia itu ada di negara berkembang sedangkan negara maju yang populasinya hanya sekitar 20 persen tapi mengkonsumsi sumber daya alamnya itu sekitar 40 kali konsumsi negara berkembang.

Berbicara lebih riil lagi untuk di negara kita Indonesia, ketersediaan sumber daya air, terutama di Pulau Jawa sudah sangat kritis. Dari jumlah Daerah Aliran Sungai (DAS) besar sekitar 136, 31 persen DAS sangat kritis, 41 persen DAS kritis dan 28 persen DAS agak kritis.

Keunggulan bambu

Bagaimana dengan hutan di Indonesia? Dari data yang ada, kehancuran hutan kita itu sekitar 51 km2/hari, rentang waktu tahun 2000-2005 sekitar 1,8 juta Ha/tahun sehingga bisa disimpulkan kehancuran hutan kita itu no 2 di dunia berdasarkan luas dan no 1 di dunia berdasarkan prosentase.

Dengan kondisi yang sudah dijelaskan di atas, maka peran bambu begitu sangat penting karena sekitar 12% jenis bambu dunia yaitu 160 spesies berada di Indonesia.

Bambu juga memiliki beberapa keunggulan yaitu : kecepatan tumbuhnya 12” – 36”  per hari, lebih fleksibel dibanding kayu, dapat dipergunakan dalam umur tumbuh 3-5 tahun, multiguna,bisa menghindari dan menahan erosi, memperbaiki kandungan air tanah, renewable-sustainable, budi daya yang mudah serta bisa menciptakan lapangan kerja yang banyak.

Di sisi lain, produksi biomassa bambujuga lebih baik dibanding kayu, yaitu tujuh kali lebih banyak dari pada pohon lainnya, bertambah 10-3 persen per tahun dibanding 2-5 persen pertahun untuk pohon lainnya, memproduksi antara 50-100 ton per Ha dan terbagi atas 60-70 persen batang, 10-15 persen ranting,, 15-20 persen daun-daunan. (Liese, 1985).

Dalam kaitannya dengan konservasi, sebuah penelitian di China, hutan bambu mampu meningkatkan penyerapan air ke dalam tanah hingga 240 persen dibandingkan hutan pinus. Penghijauan dengan bambu pada bekas tambang batu bara di India mampu meningkatkan muka air tanah 6,3 meter hanya dalam empat tahun. Berdasarkan laporan penelitian tentang hutan di China, dedaunan bambu yang berguguran di hutan bambu terbuka paling efisien di dalam menjaga kelembaban tanah dan memiliki indeks erosi paling rendah dibanding 14 jenis hutan yang lain.

Penelitian Prof. Koichi Ueda dari Kyoto University menyatakan bahwa sistem perakaran bambu monopodial sangat efektif di dalam mencegah bahaya tanah longsor. Hutan bambu dapat menyerap CO2 62 ton/Ha/Thn sementara hutan tanaman lain yang masih baru hanya menyerap 15 ton/Ha/Thn. Bambu juga melepaskan oksigen sebagai hasil foto sintesis 355 lebih banyak dari pohon yang lain.

Pemanfaatan biomassa bamboo ini sangat beragam sekali, yaitu sebagai bahan bangunan hunian, jembatan, bambu laminasi, parket, perancah, perabotan, peralatan dapur, kerajinan, alat musik, kemasan, rebung, makananan ternak, obat, kertas, tekstil, bahan bakar, pupuk, kompos dan pompa air . (David Farelly – Book of Bamboo menyebutkan 1000 manfaat bambu dari A (acupuncture needles, airplane skins) sampai Z (zithers).

Dalam hal konsumsi energi, perbandingan energi yang diperlukan untuk memproduksi bahan bangunan (N/m2) adalah beton 240, baja 1500, kayu 80 dan bambu 30. (J.A. Janssen, Bamboo Research at the Eindhoven University of Technology).

Di daerah tropis dengan lahan 20×20 m2 kita dapat menanam bambu dalam 5 tahun untuk membangun 2 rumah @8×8 m2, dengan kebun bambu 60 Ha, setiap tahun dapat dibangun 1000 rumah dari bambu (costarica).

Potensi bambu di Indonesia sangat luar biasa sekali karena dari 1200-1300 jenis bambu di dunia, 160 jenis tumbuh di Indonesia (sekitar 12 persen). Kecuali Pulau Kalimantan, seluruh pulau di Indonesia mempunyai sumber bambu yang berlimpah. Diperkirakan terdapat lima juta Ha hutan bambu di Indonesia (Kartodihardjo, 1999), di Jawa Barat sendiri (E. Widjaja, 2005) terdiri dari 4650 Ha di Tasikmalaya, 2950 Ha di Purwakarta dan 3400 Ha di Sukabumi.

Kami seperti terbangun dari tidur panjang, ternyata bambua dalah sebuah Emas Hijau. Sudah saatnya kita memulai dengan kearifan lokal kita. Workshop ini hanyalah sebuah awal dari langkah kecil kita untuk memberdayakan masyarakat terutama masyarakat yang tidak berdaya yang tidak bisa mengakses sumber penghidupan menjadi tunas – tunas pertama ahli bambu nusantara, merubah pola pikir tentang bambu yang dulunya adalah simbol kemiskinan menjadi simbol kemapanan. Membangun Indonesia bisa dimulai dari kampung, dan bambu adalah medianya. Kami yakin Banten akan menjadi barometer utama dalam pemberdayaan bambu untuk kesejahteraan dan konservasi lingkungan. (**)

Sebuah kawasan yang sejak tahun 2008 menjadi percontohan kampung ramah lingkungan dengan konsep Eco Village.

 

Dikutip dari tulisan Mukoddas Syuhada, ST. MT. IAI (Kepala Satuan Kerja Penataan Bangunan dan Lingkungan Provinsi Banten, Dewan Kehormatan IAI Banten, Founder Banten Creative Community (BCC)).

About springocean83

I'm a quiet shy man who have soft feeling but can be hot and have more attention if meet anyone who honest and have more understanding of each other. I like travelling, swimming and reading. The most bored thing for me is PARTY because I'm a personal who like peaceful and equanimity.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s