Ladang Amal dari Kaum Dhuafa

Standar

Kemarin sore seperti biasa penulis pulang dari kantor. Tiba di rumah sudah hampir menjelang adzan maghrib. Baru saja sampai di rumah, anak sulungnya tiba-tiba badannya meriang dan menggigil seperti orang kedinginan. Penulis sudah curiga, pasti bakal sakit. Penulis pun meraba badan anaknya yang mulai panas. Hatinya  nggak enak dan diliputi perasaan bingung. Bingung karena anaknya baru saja dikhitan dan luka khitannya belum sembuh. Masih pakai sarung gitu, dan jalannya masih ngangkang. Masa harus membawanya dalam kondisi tertatih – tatih seperti itu ke dokter malam – malam  begini ? Luka khitan saja belum sembuh, eh dapat sakit demam lagi. Sambil mengusap-usap kepala anaknya, penulis berdoa dalam hati semoga panas si buah hati cepat turun. Semoga Alalh SWT menyembuhkan anaknya dari sakit, Mudah – mudahan  tidak perlu ke dokter karena kondisinya yang masih dalam penyembuhan khitan. Penulis lantas membaca zikir dan beberapa ayat suci (setiap anaknya sakit, penulis selalu membaca dua hal ini sebagai salah satu ikhtiar pengobatan selain tentunya obat dari dokter).

 

Tiba-tiba dari luar rumah ada yang mengucapkan salam. Penulis segera keluar rumah menemui siapa gerangan. Ternyata seorang ibu yang sedang menggendong anaknya. Penulis tidak kenal dengan ibu itu, dan heran ada apa maghrib – maghrib  begini datang ke rumahnya. “Ada perlu apa, Bu?”, tanyanya. Dengan suara lirih, si ibu menjelaskan maksudnya. Dia datang memohon bantuan, Rapor anaknya ditahan sekolah karena belum lunas SPP. Untuk membuktikan ucapannya, dia menyerahkan bukti kartu SPP yang memang beberapa bulan belum dilunasi, kartu keluarga, dan  surat keterangan dari Ketua RT yang menyatakan dia keluarga tidak mampu.

 

Sejenak penulis tertegun, tapi kemudian cepat sadar karena anaknya yang sakit di kamar memanggil – manggil. Penulis segera ke kamar. Setelah berbicara dengan istrinya, maka dikeluarkanlah uang dari dompet dan menyuruh istrinya untuk menyerahkan kepada ibu tadi. Penulis percaya dengan ibu tadi. Mungkin memang dia sedang membutuhkan bantuan karena sedang kesusahan.

 

Si ibu menerima uang dengan terharu. Dia juga memohon kalau ada baju anak – anak   yang tidak dibutuhkan lagi, Dia ingin meminta untuk anaknya. Istri penulis pun mencari – cari  di dalam lemari sekira ada pakaian anak yang bisa diserahkan kepada ibu tadi. Si ibu menerima uang dan pakaian bekas tersebut dengan sukacita. Sambil mengucapkan beribu terima kasih, dia berkata dengan suara lirih dalam bahasa Sunda, yang kira-kira artinya: semoga pemberian tersebut dibalas oleh Allah, ibu doakan semoga diberi kesehatan, murah rezeki, dan sebagainya.

 

Penulis yang mendengar doa ibu itu dari dalam kamar berkata dalam hati, mungkin doa dari orang – orang dhuafa seperti itu yang lebih didengar oleh Allah SWT. Doa dari orang – orang  yang teraniaya dan mendapat kesusahan hidup. Dalam hati penulis hanya berharap semoga doa ibu itu tadi yang mendoakan kesehatan keluarganya dikabulkan oleh Allah SWT. Semoga saja doa itu mujarab buat anaknya yang suhu badannya sedang panas.

 

Satu jam setelah ibu tadi pergi, anak penulis yang demam mulai uring – uringan. Penulis sudah paham bahwa sebentar lagi dia akan muntah. Penulis pun membawanya ke kamar mandi, ternyata benar dia muntah. Apa yang tadi dimakannya keluar lagi. Setelah muntahnya habis, tidak lama kemudian suhu badannya turun. Penulis meraba badannya dan ternyata tidak panas lagi. Alhamdulillah, demamnya hilang dan sesudah itu dia tertidur lelap. Penulis lantas bersyukur. Sakit anaknya sembuh dan tidak perlu membawanya ke dokter dengan kondisi habis dikhitan. Padahal kalau sudah demam biasanya bisa beberapa hari baru sembuh.

 

Penulis menduga – duga bahwa mungkin ada faktor X yang hanya Allah yang tahu sehingga anaknya  sembuh dari demam dengan cepat. Mungkinkah berkat doa ibu dhuafa tadi? Penulis yakin iya dan menjadi terharu. Ternyata Tuhan yang mengirimkan ibu tadi ke rumahnya tepat pada saat anaknya sakit, yang doanya didengar dan dikabulkan oleh Allah SWT. Hanya karena sedekah yang tidak seberapa itu Allah mengabulkan doanya dan doa ibu tadi. Penulis semakin percaya bahwa sedekah itu dapat membuka pintu – pintu  langit sehingga doa kita sampai dan dikabulkan oleh-Nya. Buktinya penulis sudah mengalaminya sendiri.

 

 

Dikutip dari http://rinaldimunir.wordpress.com/category/agama/page/3/

About springocean83

I'm a quiet shy man who have soft feeling but can be hot and have more attention if meet anyone who honest and have more understanding of each other. I like travelling, swimming and reading. The most bored thing for me is PARTY because I'm a personal who like peaceful and equanimity.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s