Buddha Dharma Sebagai Ajaran

Standar

Sering kali dipertanyakan, apakah Buddha Dharma hanya sekedar suatu agama ? Untuk itu  perlu dimengerti, apakah yang disebut ‘agama’ itu. Kata “agama” berasal dari bahasa Sansekerta (bahasa agama Brahma pertama yang berkitab Veda) yang berarti “tradisi” sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah ‘religi’ yang berasal dari bahasa Latin dan berasal dari kata kerja “re-ligare” yang berarti “mengikat kembali”. Maksudnya dengan be-religi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan. Agama adalah kosa-kata dari bahasa Sansekerta, ialah peraturan menurut konsep Veda (dikutip dari keterangan Dr. Muhammad Ghalib).

 

Dalam bahasa Arab, ada yang mirip artinya dengan kata ‘Agama’ ( Sansekerta ) tersebut, yaitu ‘Din’, yang artinya : taat, takut dan setia, paksaan, tekanan, penghambaan, perendahan diri, pemerintahan, kekuasaan, siasat, balasan, adat, pengalaman hidup, perhitungan amal, hujan yang tidak tetap turunnya,dan lain-lain.

 

Sekarang mengenai agama Buddha. Ajaran Buddha disebut melampaui “Agama” , karena Buddhisme tidak dibangun berdasarkan ‘tradisi’ semata, tidak dibangun atas kepercayaan membuta terhadap tradisi yang ada, tapi dibangun atas kecerdasan ‘Budi’. Dalam Buddhisme juga tidak ada ‘ikatan’ terhadap Tuhan, janji kepada Tuhan untuk setia, tidak dibangun atas ketakutan, paksaan, tekanan, penghambaan, perendahan diri, adat, dan lain-lain arti kata yang sesuai / senada / sejalan dengan definisi ‘Din’.

 

Di sisi lain, Ajaran Sang Buddha bisa, dan memang demikian halnya, disebut agama, sepanjang Agama itu berarti hubungan manusia dengan Yang Maha Suci yang dinyatakan dalam bentuk suci pula dan sikap hidup berdasarkan doktrin tertentu (definisi agama menurut Drs. Sidi Gazalba) , juga bisa disebut filsafat, juga bisa disebut ilmu psikologi, juga bisa disebut ilmu-alam, dan yang pasti, sangat sejalan dengan hukum alam dan ilmu pengetahuan alam modern, bahkan melampauinya.

 

Ajaran Buddha berkaitan dengan kecerdasan, dengan bathin, dengan yang mengetahui, yang berarti dengan Budi, sebab, mengapa disebut Buddha, karena “Tercerahkan Budinya “.Kata ‘Budi’, seperti sudah dijelaskan terdahulu, berasal dari kosakata bahasa Sansekerta “BUDDHI’, dimana bentuk asli kata “BUDDHI” tersebut adalah : “BUDDH’, yang artinya ‘untuk-mengetahui’. Sebutan bagi seorang rohaniwan yang maju, yang mencapai pencerahan ‘Buddhi’ disebut ‘BUDDHA’ (Bahasa Sansekerta : बुद्ध berarti, Mereka yang SadarYang mencapai pencerahan sejati. dari perkataan Sansekerta: “Budh” = untuk mengetahui).

 

Sedangkan “Dharma”, mempunyai banyak arti. Dalam arti umum, dharma adalah “doktrin” atau “ajaran”. Namun inti sari dari arti “Dharma” adalah “sifat dari sananya” seluruh jagad raya / alam semesta, mencakup sifat seluruh makhluk penghuni alam semesta termasuk fenomena nama ( aspek mental ) dan rupa ( aspek fisik / tubuh jasmani ). Menurut Dharma, di dalam kenyataannya yang sejati, tidak ada sesuatu apapun yang secara objektif sebagai : sebuah rumah, sebuah pohon, atau seorang lelaki. Jika kita melihat kesemuanya itu dengan lebih dekat, jika kita memeriksa dan menganalisanya, mereka menjadi tanpa substansi ( inti ). Jika dianalisis terus menerus, pada puncaknya kesemua hal tersebut diatas akan tereduksi menjadi sebuah fluks, continuum dinamis / aliran dari elemen-elemen pemebentuknya yang sangat kecil dan tidak bisa direduksi lebih lanjut, yang impersonal dan tanpa substansi, suatu proses psiko-fisikal. Inilah yang disebut DHARMA.

 

Di zaman Kali-Yuga ini, yang menggemakan ajaran Pencerahan – Buddha Dharma – ini adalah Sang Buddha Gautama. Sebelum menjadi Buddha, ia adalah seorang Pangeran dari suku Sakya di India ( tepatnya kini dikenal sebagai Nepal ) bernama Pangeran Siddharta Gautama. Ia dilahirkan 623 SM di Taman Lumbini. Ayahnya adalah Sri Baginda Raja Suddhodana dan ibunya adalah Sri Ratu Dewi Maha Maya. Ibunda dari Pangeran Siddharta meninggal dunia setelah tujuh hari melahirkan-Nya. Setelah meninggal, Ibunda Siddharta Gautama terlahir di alam Surga Tusita. Sejak itu yang merawat Pangeran Siddharta adalah Maha Pajapati, adik Sang Sri Ratu Dewi Maha Maya, yang juga menjadi istri Raja Suddhodana.

 

Oleh para pertapa dibawah pimpinan Asita (Kaladewala) diramalkan, bahwa Pangeran Siddharta kelak akan menjadi Maharaja-diraja dunia yang memimpin kerajaan dengan luar biasa sempurna, atau jika tidak, kebalikannya ia akan menjadi Buddha. Ayahanda Sang Pangeran sangat tidak menyukai ide anaknya menjadi Buddha, dimana ia hidup bertapa melepaskan ikatan keduniawian. Sang Ayahanda lebih suka bila anaknya kelak menjadi Maharaja-diraja dunia yang meneruskan tahtanya. Atas pertanyaan Sang Raja, akhirnya para petapa menjelaskan, jika tidak menginginkan Pangeran Siddharta menjadi Buddha, maka seyogyanya Sang Pangeran jangan sampai melihat empat peristiwa, yaitu :

1. Orang Tua

2. Orang Sakit

3. Orang Mati

4. Seorang Petapa

 

Semenjak itu, Sang Pangeran selalu dijaga, hidup dalam kemewahan. Ia dilayani oleh pelayan-pelayan yang masih muda dan cantik rupawan di istana yang megah dan indah.

 

Dalam usia 16 tahun Pangeran Siddharta menikah dengan puteri Yasodhara yang dipersuntingnya setelah memenangkan sayembara. Namun ternyata akhirnya Sang Pangeran melihat empat peristiwa yang oleh Ayahandanya selalu diupayakan untuk tidak dilihatnya. Setelah melihat keempat peristiwa itu Pangeran Siddharta tampak murung dan kecewa melihat kenyataan hidup yang penuh derita ini.

 

Ketika berusia 29 tahun, putera pertama-Nya lahir dan diberi nama Rahula, yang artinya = belenggu. Setelah itu Pangeran Siddharta dengan tekad yang mantap memutuskan untuk meninggalkan istana, keluarga, kemewahan, untuk pergi berguru mencari ilmu sejati yang dapat membebaskan manusia dari ikatan dunia material yang penuh duka, membebaskan dari kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian. Inilah letak pengorbanan terbesar beliau. Demi kebahagiaan semua makhluk, beliau rela meninggalkan semua kesenangan dan kenikmatan yang telah digenggamnya. Jadi ini bukan suatu keegoisan, melainkan suatu pengorbanan yang tiada taranya.

 

Pertapa Siddharta berguru pada Alara Kalama dan kemudian Uddhaka Ramaputra, tetapi tidak merasa puas, karena tidak memperoleh yang diharapkannya. Kemudian beliau bertapa menyiksa diri dengan ditemani lima pertapa selama enam tahun. Akhirnya beliau juga meninggalkan cara yang ekstrim itu dan bermeditasi seorang diri.

 

Dalam usia 35 tahun pertapa Siddharta memperoleh Penerangan Agung dan menjadi Buddha sewaktu bermeditasi dibawah pohon Assatha ( yang kemudian hari dikenal sebagai pohon Boddhi ), ditepi sungai Neranjara di Buddha Gaya ( dekat Gaya di Bihar ).

 

Munculnya Siddharta Gautama sebagai Buddha diawali oleh adanya dua aliran Hindu yaitu Tithiyas dan Carwakas.  Aliran Tithiyas dan Carwakas sama-sama meyakini bahwa penderitaan itu karena keterikatan manusia pada kehidupan duniawi yang tidak langgeng ini. Mereka berbeda dalam hal cara mengatasi keterikatan nafsu tersebut.

 

Carwakas memandang agar nafsu tidak mengikat maka nafsu itu harus dituangkan bagaikan menuangkan air di gelas. Dengan nafsu itu terus dipenuhi sesuai dengan gejolaknya maka nafsu itu akan habis dan lenyap maka manusia pun akan bebas dari ikatan hawa nafsu. Sebaliknya aliran Tithyas berpendapat bahwa nafsu itu harus dimatikan dengan menghentikan fungsi alat-alatnya. Agar mata tidak ingin melihat yang baik-baik dan indah-indah saja maka mata dibuat buta dengan cara melihat mata hari yang sedang terik. Lidah dibuat sampai tidak berfungsi. Ada yang sampai membakar kemaluannya agar nafsu seksnya hilang.

 

Kedua aliran itu membuat umat menderita. Dalam keadaan seperti itulah muncul Siddharta Gautama yang telah mencapai ke-Buddha-an memberikan pentunjuk. Ajarannya adalah Delapan Jalan Utama yang disebut juga dengan Jalan Tengah yang terbagi dalam Sila, Prajna dan Samadhi. Sila artinya berbuat baik sesuai dengan suara hati nurani. Suara hati nurani ini adalah yang disebut ‘Budi”. ‘Budi’, yakni yang untuk mengetahui, oleh umat Hindu biasa disebut sebagai ‘Kusir-Kereta’ ; “ buddhim tu sarathim viddhi “ (Katha Upanisad 1.3.3 dan 4 ). Teknis berbuat baik itu akan menunjang pelatihan konsentrasi yang sempurna (Samadhi) yang pada akhirnya akan memunculkan kebijaksanaan (Prajna). Inilah inti wacana dari Siddharta Gautama, Sang Buddha, dalam menyelamatkan umat dari perbedaan yang dipertentangkan itu.

 

Dalam pembabaran Dharma selama 45 tahun, beliau juga menunjukkan bakti kepada orang tuanya dan juga kasih sayang yang sesungguhnya kepada anak istrinya. Hal ini terlihat dari pemberian beliau yang terbesar dan teragung kepada mereka, yakni pembabaran Dharma hingga mereka mencapai tingkat kesucian Arahat sehingga mereka bisa bebas dari roda tumimbal lahir dan mencapai Nibbana. Sedangkan untuk ibu yang melahirkan-Nya, yakni Dewi Maha Maya, Sang Buddha juga sering mengunjungi alam surga untuk membabarkan Dharma. Salah satunya adalah pembabaran Ksitigarbha Bodhisattva Pranidhana Sutra yang dibabarkan di alam Tavatimsa.

 

Setelah seratus tahun Sang-Buddha memasuki Maha-Parinibbana, barulah wacana sucinya itu dikumpulkan menjadi tiga keranjang sehingga bernama Tri Pitaka ( Pali : Tipitaka ).

 

Ajaran Sang Buddha Gautama teringkas dalam Fourth Noble Truth, atau Empat Kesunyataan Mulia :

1). Hidup ( dalam bentuk apapun ) adalah dukkha, misalnya ; dilahirkan, usia tua, dan mati adalah penderitaan, berhubungan dengan orang yang tidak disukai adalah penderitaan, ditinggalkan oleh orang yang dicintai adalah penderitaan, tidak memperoleh yang dicita-citakan adalah penderitaan, dicela, tidak dikenal, adalah penderitaan.

2). Sebab dukkha, yaitu Tanha, atau nafsu keinginan yang tiada habisnya.

3). Berakhirnya dukkha, yaitu saat seseorang mampu melenyapkan segala bentuk nafsu keinginan. Keadaan ini dinamakan Nirvana / Nibbana.

4). Jalan menuju berakhirnya dukkha, yaitu Jalan Tengah , atau yang juga dikenal sebagai Jalan Mulia Beruas Delapan ( Ariya Atthangika Magga ), yang terdiri dari :

1). Prajna :

1.a). Pengertian Benar ( Samma-ditthi ),

1.b). Pikiran Benar ( Samma-sankappa ), ;

2).Sila :

2.a). Ucapan Benar ( Samma-vaca ),

2.b).Perbuatan Benar ( Samma-kammanta ),

2.c). Pencaharian Benar ( Samma-ajiva ). ;

3). Samadhi :

3.a). Daya-upaya Benar ( Samma-vayama ),

3.b).Perhatian Benar ( samma-sati ),

3.c). Konsentrasi Benar ( Samma-samadhi ).

 

 

Dikutip dari http://ratnakumara.wordpress.com/buddha dengan perbaikan dan penambahan seperlunya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s