Istana – Istana Kerajaan di Indonesia yang Masih Ada di Pulau Andalas

Standar

1. Istana Maimun, Medan, Sumatera Utara

 

Istana Maimun adalah salah satu dari ikon kota Medan, Sumatera Utara, yang terletak di kelurahan Sukaraja, kecamatan Medan Maimun.

 

Istana ini didesain oleh arsitek Italia dan dibangun pada tahun 1888 atas prakarsa Sultan Deli, Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah yang merupakan putra sulung pendiri kota Medan yakni Sultan Mahmud Perkasa Alam. Namun ada versi lain yang menyebutkan bahwa arsitek istana ini adalah seorang Kapitan Belanda yang bernama T.H. van Erp.

 

Istana Maimun memiliki luas sebesar 2.772 m2 dan 30 ruangan serta memiliki desain interior yang unik, yang memadukan unsur-unsur warisan kebudayaan Melayu, dengan gaya Islam, Spanyol, India dan Belanda. Pengaruh arsitektur Belanda tampak pada bentuk pintu dan jendela yang lebar dan tinggi. Tapi, terdapat beberapa pintu yang menunjukkan pengaruh Spanyol. Pengaruh Islam tampak pada keberadaaan lengkungan (arcade) pada atap. Tinggi lengkungan tersebut berkisar antara 5 sampai 8 meter. Bentuk lengkungan ini amat populer di kawasan Timur Tengah, India dan Turki.

 

Di dalam kompleks istana ini juga terdapat meriam buntung yang memiliki legenda tersendiri. Orang Medan menyebut meriam ini dengan sebutan meriam puntung. Kisah meriam puntung ini punya kaitan dengan Putri Hijau. Dikisahkan, di Kerajaan Timur Raya, hiduplah seorang putri yang cantik jelita, bernama Putri Hijau. Ia disebut demikian, karena tubuhnya memancarkan warna hijau. Ia memiliki dua orang saudara laki-laki, yaitu Mambang Yasid dan Mambang Khayali. Suatu ketika, datanglah Raja Aceh meminang Putri Hijau, namun, pinangan ini ditolak oleh kedua saudaranya. Raja Aceh menjadi marah, lalu menyerang Kerajaan Timur Raya. Raja Aceh berhasil mengalahkan Mambang Yasid. Saat tentara Aceh hendak masuk istana menculik Putri Hijau, mendadak terjadi keajaiban, Mambang Khayali tiba-tiba berubah menjadi meriam dan menembak membabi-buta tanpa henti. Karena terus-menerus menembakkan peluru ke arah pasukan Aceh, maka meriam ini terpecah dua. Bagian depannya ditemukan di daerah Surbakti, di dataran tinggi Karo, dekat Kabanjahe. Sementara bagian belakang terlempar ke Labuhan Deli, kemudian dipindahkan ke halaman Istana Maimun.

 

2. Istana Darul Arif, Serdang Bedagai, Sumatera Utara

 

Pada tanggal 29 Juli 1889, Sultan Sulaiman Shariful Alamshah yang merupakan raja kelima dari silsilah kesultanan Serdang, mendirikan istana Darul Arif dalam kraton kota Galuh. Pada masa sebelumnya Istana Darul Arif, berada dalam wilayah Rantau Panjang. Sejak tahun 1894 yaitu dengan selesainya istana Darul Arif di kota Galuh, maka ibu kota Kesultanan Serdang dipindahkan dari Rantau Panjang Ke Perbaungan.

 

Adapun penyebab perpindahan ini adalah karena Sultan Alamshah menolak memindahkan ibukotanya ke Lubuk Pakam sesuai permintaan pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1891. Sebagai bentuk penolakan, Sultan Alamshah malah membangun istana baru yakni Istana Perbaungan ini dan pada tahun 1896, beliau juga mendirikan Mesjid Raya Sulaimaniyah. Selain itu, beliau  juga membangun kedai, pasar ikan dan kompleks pertokoan sehingga berdirilah sebuah kota kecil yang diberi nama Simpang Tiga Perbaungan. Kota inilah yang dijadikannya sebagai tandingan ibukota Serdang versi pemerintah colonial Hindia Belanda.

 

3. Istana Indra Sakti, Tanjung Balai, Sumatera Utara

 

Asahan adalah sebuah kabupaten di Provinsi Sumatera Utara. Pusat pentadbiran Kabupaten Asahan adalah Tanjungbalai yang berjarak ± 180 km dari Kota Medan, ibukota Provinsi Sumatera Utara. Sampai tahun 1946, Asahan merupakan salah satu Kesultanan Melayu yang struktur kerajaannya tidak jauh berbeda dari struktur negeri-negeri Melayu di Semenanjung Malaka pada masa itu. Namun pada tahun 1946, sistem kerajaan di Asahan telah digulingkan oleh sebuah pergerakan anti kaum bangsawan dalam sebuah revolusi berdarah yang dikenal sebagai Revolusi Sosial.

 

Sejarah pemerintahan kerajaan ini dimulai dengan penabalan Sultan Abdul Jalil sebagai raja pertama Kerajaan Asahan di Kampung Tanjung pada tahun 1630. Dalam catatan sejarah, Kerajaan Asahan pernah diperintah oleh sebelas orang raja, sejak raja pertama Sultan Abdul Jalil pada tahun 1630 sampai dengan Sultan Syaiboen Abdul Jalil Rahmadsyah tahun 1933, yang kemudian mangkat pada tanggal 17 April 1980 di Medan dan dimakamkan di kompleks Mesjid Raya Tanjungbalai. 

 

4. Istana Niat, Batubara, Sumatera Utara

 

Istana Kerajaan Lima Laras ini terletak di Desa Laras, Kecamatan Tanjung Tiram, Kabupaten Batubara, Sumatera Utara. Istana ini dibangun oleh Datuk Muhammad Yuda, Raja ke-11 dari Kerajaan Lima Laras pada tahun 1907 dan selesai 1912. Artinya usia istana ini telah lebih dari 1 abad. Kekuasaan kerajaan ini berakhir sekitar tahun 1923 di masa pemerintahan raja ke-12 yakni Datuk Muda Abdul Roni.

Pembangunan istana dengan empat anjungan dan menghadap ke selatan ini mengadopsi arsitektur campuran Eropa, Cina, Melayu. Unsur Melayu pada bangunan ini sangat dominan pada bentuk hiasan di atap dan jalusi pintu serta jendela. Lantai pertama istana ini digunakan sebagai tempat bermusyawarah, sedangkan lantai kedua digunakan sebagai tempat tinggal.

 

Tepat di depan Istana Lima Laras terdapat dua buah meriam. Namun uniknya, meriam ini bukan digunakan untuk menembak musuh, melainkan untuk mengumpulkan rakyat apabila ada pengumuman dari raja.

 

5. Istana Tunggang Bosar, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara

 

Istana Tunggang Bosar yang merupakan simbol utama Kesultanan Dhasa Nawalu berdiri megah di Desa Janji Maulu Muara Tais, Kec. Batang Angkola, Kab. Tapanuli Selatan. Kesultanan Dhasa Nawalu yang mengandung arti delapan arah mata angin ini menobatkan Sultan Haji Baharuddin Harahap, S.Ag, keturunan Ompu Toga Langit yang merupakan moyangnya marga Harahap sebagai sultan pertama dengan gelar Ompu Toga Langit Raja Tuan Tua Patuan Nagaga Najungal Yang Dipertuan Dhasa Nawalu Tapanuli Bagian Selatan.

 

Adapun sang permaisurinya merupakan gadis keturunan pewaris kesultanan Yogyakarta, Permaisuri Naduma Sari Gusti Raden Ayu Boru Siagian yang tidak lain cucu Sultan Hameng Kubuwono ke-IX.

 

Pembangunan istana yang didanai secara pribadi oleh keturunan raja luat ini adalah untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur adat budaya Dalihan Natolu masyarakat suku Batak Angkola yang selama ini telah mati suri. Bukan itu saja, pembangunan adat ini juga disandingkannya dengan agama. Kini istana Tunggang Bosar Janji Mauli telah memiliki sebuah pondok pesantren modern yang dinaungi Yayasan bagas Godang dan telah menjadi patron pendidikan agama bagi masyarakat Sumatera dan khususnya Pantai Barat Sumatera Utara.

Istana ini telah diresmikan Wakil Bupati Tapsel, Aldinz Rapolo Siregar dan prasastinya ditandatangani Sultan Hameng Kubuwono X diwakili adiknya Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Hadi Winoto.

 

6. Istano Basa, Tanah Datar, Sumatera Barat

 

Istano Basa yang lebih terkenal dengan nama Istana Pagaruyung, adalah sebuah istana yang terletak di kecamatan Tanjung Emas, kota Batusangkar, kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

 

Istano Basa yang berdiri sekarang sebenarnya adalah replika dari yang asli. Istano Basa asli terletak di atas bukit Batu Patah dan terbakar habis pada sebuah kerusuhan berdarah pada tahun 1804. Istana tersebut kemudian didirikan kembali namun kembali terbakar tahun 1966 akibat petir yang menyambar puncak istana.

 

Proses pembangunan kembali Istano Basa dilakukan dengan peletakan tunggak tuo (tiang utama) pada 27 Desember 1976 oleh Gubernur Sumatera Barat waktu itu, Harun Zain. Bangunan baru ini tidak didirikan di tapak istana lama, tetapi di lokasi baru di sebelah selatannya.

 

7. Istano Silinduang Bulan,Tanah Datar, Sumatera Barat

 

Istanao Silinduang Bulan merupakan istana yang terletak di nagari Pagaruyung, Tanah Datar, Sumatera Barat. Kini istana tesebut sedang direnovasi, setelah mengalami kebakaran pada tanggal 21 Maret 2010. Padahal istana yang terletak 2 km dari Istano Basa ini merupakan tempat penyimpanan Harta pusaka Kerajaan Pagaruyung.

 

Sepanjang sejarah berdirinya, istana ini sudah tercatat tiga kali mengalami musibah kebakaran, yakni :

  • Pada tahun 1821 akibat kecamuk Perang Paderi
  • Pada tanggal 03 Agustus 1961
  • Pada tanggal 21 Maret 2010

8. Istana Asseraya Al Hasyimiyah, Siak, Riau

 

Istana Siak Sri Inderapura ini merupakan kediaman resmi Sultan Siak yang mulai dibangun pada tahun 1889, yaitu pada masa pemerintahan Sultan Syarif Hasyim. Istana ini selesai dibangun pada tahun 1893. Istana ini merupakan peninggalan Kesultanan Siak Sri Inderapura yang merupakan sebuah Kerajaan Melayu Islam yang pernah berdiri di bumi Indonesia yang pada masanya muncul sebagai sebuah kerajaan bahari yang kuat serta menjadi kekuatan yang diperhitungkan di pesisir timur Sumatera dan Semenanjung Malaya di tengah tekanan imperialism Eropa. 

 

Kini istana yang juga dijuluki Istana Matahari Timur ini, masuk wilayah administrasi pemerintahan Kabupaten Siak karena setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Sultan Siak terakhir, Sultan Syarif Kasim II menyatakan kerajaannya bergabung dengan Republik Indonesia.

 

9. Istana Sayap, Pelalawan, Riau

 

Istana ini adalah istana kebanggaan Kesultanan Pelalawan yang terletak di Kab. Pelalawan, Riau. Istana yang memiliki luas 4.327 m2 ini dibangun dalam dua periode pemerintahan di Kesultanan Pelalawan, yakni masa pemerintahan Tengku Sontol Said Ali (1886-1892) dan selesai dibangun pada masa pemerintahan Sultan Syarif Hasyim II pada tahun 1896.

 

Arsitektur istana ini sarat dengan muatan filosofi Melayu Riau yang diwujudkan dengan tiga bangunan utama, yakni Bangunan Induk, Bangunan Sayap Kanan dan Bangunan Sayap Kiri.

 

Pada tahun 2009, istana ini mengalami pemugaran yang dilakukan oleh PT. Riau Andalan Pulp and Paper dan menghabiskan anggaran sebesar Rp 10.3 milyar. Usai dipugar, secara resmi pengelolaan istana ini diserahkan kepada Pemkab Pelalawan pada tanggal 3 Maret 2009.

 

Akan tetapi, pada tanggal 19 Feb 2012, istana ini mengalami musibah kebakaran sehingga beberapa ruangan mengalami kerusakan parah, bahkan ratusan benda pusaka peninggalan Kesultanan Pelalawan ikut musnah dilalap si jago merah, termasuk singgasana Sultan Pelalawan.

 

10. Istana Indragiri, Indragiri Hulu, Riau

 

Kesultanan Indragiri adalah salah satu kesultanan yang pernah berkuasa di Tanah Riau. Masyarakat Riau menyebut Kesultanan Indragiri dengan sebutan Kerajaan Negeri Maghligai.

 

Berdasarkan sumber sejarah, Kesultanan Indragiri pada mulanya diperintah secara langsung oleh Kesultanan Malaka yang mana pada saat itu Kesultanan Malaka sedang diperintah oleh seorang raja yang bernama Raja Iskandar atau Narasinga I. Kemudian pada generasi keempat Kesultanan Malaka, Kesultanan Indragini mempunyai Sultan baru yang tak lain adalah Narasinga II yang kemudian mendapat gelar Zirullah Fil Alam dimana pada masa pemerintahannya Istana Kesultanan ini dibangun.

 

Sangat disayangkan bahwa Istana Kesultanan Indragiri yang asli telah roboh pada tahun 1964 akibat adanya abrasi Sungai Indragiri. Untuk menjaga kelestarian budaya khususnya budaya Riau, pemerintah daerah setempat membuat replika bangunan Istana Kesultanan Indragiri di lokasi sekitar 100 meter dari  lokasi Istana Kesultanan Indragiri yang sesungguhnya.

 

11. Istana Kantor, Pulau Penyengat, Riau

 

Istana Raja Ali yang terletak di Pulau Penyengat ini pertama kali digunakan sebagai Kantor Pemerintahan Kerajaan Riau oleh Yang Dipertuan Muda Raja Ali (1844-1855). Karena fungsi bangunan ini selain sebagai rumah juga sebagai kantor, maka dikenal juga dengan Istana Kantor.

 

Komplek istana ini sangat besar dan  dikelilingi oleh tembok tebal lengkap dengan pintu gerbang di bagian belakangnya. Setelah wafat, Raja Ali dikenal dengan Marhum Kantor. Sekarang istana ini dinamakan Komplek Istana Kantor.

 

12. Istana Kuto Lamo, Palembang, Sumatera Selatan

 

Istana ini dibangun oleh Sri Paduka Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo bin Sultan Muhammad Mansyur Jayo Ing Lago. Istana ini digunakan oleh Sultan-Sultan Palembang Darussalam sebelum dibangunnya Istana Kuto Anyar di dalam Benteng Besak / Kuto Anyar. Selanjutnya, Kuto Kecik ini dibongkar oleh Belanda dan dibangun menjadi Rumah Residen Belanda. Sekarang lokasi Istana Lamo dipergunakan sebagai Museum Sultan Mahmud Badruddin II dan Monumen Perjuangan Rakyat (MONPERA) Sumatera Selatan pada masa Revolusi Fisik Pertempuran Lima Hari Lima Malam (1 Januari sampai 5 Januari 1947).

 

Peletakkan batu pertama dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus 1975 pada masa pemerintahan H. Asnawi Mangku Alam dan pembukaannya diresmikan oleh Menko Kesra yang waktu itu dijabat oleh H. Alamsyah Ratu Perwira Negara pada tanggal 23 November 1988. Lokasi Istana Kuto Kecik / Lamo ini terletak di antara Jembatan Ampera dan Benteng Besak Kuto Anyar, Palembang.

About springocean83

I'm a quiet shy man who have soft feeling but can be hot and have more attention if meet anyone who honest and have more understanding of each other. I like travelling, swimming and reading. The most bored thing for me is PARTY because I'm a personal who like peaceful and equanimity.

2 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s