Istana – Istana Pemerintah Negara Republik Indonesia

Standar

1. Istana Negara, Jakarta

 

Merupakan salah satu dari dua istana di kompleks Istana Presiden di Jakarta. Istana Negara merupakan bangunan yang lebih tua. Istana ini menghadap Ciliwung (Jln. Veteran) dan awalnya dibangun pada tahun 1796-1804 sebagai rumah peristirahatan seorang pengusaha Belanda, J.A van Braam. Istana ini kemudian diambil alih oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai pusat kegiatan pemerintahan serta kediaman para Gubernur Jendral Belanda. Istana ini kemudian disebut Istana Rijswik. Istana ini sekarang digunakan hanya untuk seremonial saja.

Pada mulanya bangunan yang berarsitektur gaya Yunani kuno itu bertingkat dua, namun pada tahun 1848 bagian atasnya dibongkar, dan bagian depan lantai bawah dibuat lebih besar untuk memberi kesan lebih resmi. Bentuk bangunan hasil perubahan 1848 inilah yang bertahan sampai sekarang, tanpa perubahan yang berarti. Luas bangunan ini lebih kurang 3.375 meter persegi.

 

Sesuai dengan fungsi istana ini, pajangan serta hiasannya cenderung memberi suasana sangat resmi, bahkan kharismatik. Ada dua buah cermin besar peninggalan pemerintah Belanda, disamping hiasan dinding karya pelukis – pelukis besar, seperti Basoeki Abdoellah.

 

Banyak peristiwa penting yang terjadi di Istana Negara. Diantaranya ialah ketika Jendral de Kock menguraikan rencananya kepada Gubernur Jendral Baron van der Capellen untuk menindas pemberontakan Pangeran Diponegoro dan merumuskan strateginya dalam menghadapi Tuanku Imam Bonjol. Juga saat Gubernur Jendral Johannes van de Bosch menetapkan sistem tanam paksa atau cultuur stelsel. Setelah kemerdekaan, tanggal 25 Maret 1947, di gedung ini terjadi penandatanganan naskah persetujuan Linggarjati. Pihak Indonesia diwakili oleh Sutan Sjahrir dan pihak Belanda oleh Dr. Van Mook.

 

Istana Negara berfungsi sebagai pusat kegiatan pemerintahan negara, diantaranya menjadi tempat penyelenggaraan acara – acara yang bersifat kenegaraan, seperti pelantikan pejabat – pejabat tinggi negara, pembukaan musyawarah, dan rapat kerja nasional, pembukaan kongres bersifat nasional dan internasioal, dan tempat jamuan kenegaraan.

 

Sejak masa pemerintahan Belanda dan Jepang sampai masa pemerintahan Republik Indonesia, sudah lebih kurang 20 kepala pemerintahan dan kepala negara yang menggunakan Istana Negara sebagai kediaman resmi dan pusat kegiatan pemerintahan Negara.

 

2. Istana Merdeka, Jakarta

 

Terletak di kompleks yang sama dengan Istana Negara. Istana ini pertama kali disebut Istana Gambir. Istana dengan luas sekitar 2.400 m² ini dibangun pada tahun 1873 oleh arsirtek Drossares pada masa pemerintahan Gubernur Jendral Louden dan selesai pada tahun 1879 pada masa pemerintahan Gubernur Jendral Johan Willem van Landsbarge dalam kaveling yang sama dengan Istana Rijswijk yang mulai sesak.

 

Pada masa awal pemerintahan Republik Indonesia, istana ini menjadi saksi sejarah dilakukannya penandatanganan naskah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat oleh Pemerintah Belanda pada tanggal 27 Desember 1949. Republik Indonesia Serikat diwakili oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX, sedangkan Kerajaan Belanda diwakili oleh A.H.J Lovink, Wakil Tinggi Mahkota di Indonesia.

 

Setelah penandatanganan naskah kedaulatan Republik Indonesia Serikat, bendera merah putih dikibarkan menggantikan bendera Belanda, bersamaan dengan dinyanyikannya lagu Indonesia Raya dan pekik merdeka oleh bangsa Indonesia. Sejak saat itu nama Istana Gambir diganti menjadi Istana Merdeka.

 

Istana ini hanya didiami oleh Presiden Soekarno, Presiden Abdurahman Wahid dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden Soeharto lebih senang tinggal di kediamannya di Jln Cendana, Menteng sementara Presiden B.J.Habibie tinggal di kawasan Patra Kuningan.Presiden Megawati pun memilih tinggal di kediamannya di Jalan kebagusan atau Jalan Teuku Umar. Kini Istana ini hanya digunakan untuk seremonial karena Presiden lebih sering berkantor di Bina Graha di kompleks yang sama.

 

3. Istana Bogor, Bogor

 

Istana Bogor merupakan istana paling indah di antara istana kepresidenan yang lain. Istana ini dulunya disebut Buitenzorg. Istana Bogor dibangun pada bulan Agustus 1744 dan berbentuk tingkat tiga. Pada awalnya merupakan sebuah rumah peristirahatan bagi Gubernul Jendral Van Imhoff. Ia sendiri yang membuat sketsa dan membangunnya dari tahun 1745-1750, mencontoh arsitektur Blehheim Palace, kediaman Duke Malborough, dekat kota Oxford di Inggris. Istana ini terus mengalami perubahan setiap pergantian gubernur jendral.

 

Dalam perjalanan sejarahnya, bangunan ini sempat mengalami rusak berat sebagai akibat serangan rakyat Banten yang anti Kompeni, di bawah pimpinan Kiai Tapa dan Ratu Bagus Buang, yang disebut Perang Banten 1750 – 1754. Kemudian istana ini pernah rusak berat akibat gempa 1834. Dibangun kembali pada tahun 1850 dan baru terwujud secara utuh pada masa kekuasaan Gubernur Jendral Charles Ferdinand Pahud de Montagerdan. Pada tahun 1870 menjadi kediaman resmi gubernur Hindia Belanda.

 

Setelah kemerdekaan istana ini sering digunakan untuk kegiatan kenegaraan seperti menerima tamu negara. Istana ini memiliki koleksi seni yang tiada tara seperti lukisan Basuki Abdullah, patung dari Swedia dan Polandia, Tengkorak Harimau dari Siam, Lukisan Russia. Istana yang berada satu kompleks dengan Kebun Raya Bogor memiliki populasi rusa yang didatangkan langsung dari Nepal yang sangat indah di tamannya

 

4. Gedung Agung, Yogyakarta

 

Istana ini terletak di pusat kota Yogyakarta tepatnya di ujung jalan Maliboro. Gedung Agung awalnya dibangun sebagai rumah kediaman resmi residen Ke-18 di Yogyakarta, Anthonie Hendriks Smissaert. Arsiteknya adalah A. Payen dan dibangun pada bulan Mei 1824 dengan gaya bangunan yang mengikuti arsitektur Eropa yang disesuaikan dengan iklim tropis. Bangunan ini rampung pada tahun 1869.

 

Gedung ini menjadi saksi sejarah ketika Bung Karno berkantor di situ saat masa Republik. Di gedung ini pula Jendral Sudirman dilantik sebagai Panglima Besar TNI. Saat ini Gedung Agung menjadi kantor dan kediaman resmi Presiden saat di Yogyakarta. Di depan gedung ini terdapat patung penjaga dari batu Andesit yang mengawasi istana ini dengan setia.

 

5. Istana Cipanas, Cipanas

 

Istana ini terletak di kaki Gunung Gede di desa Cipanas. Istana ini bermula dari sebuah bangunan yang didirikan pada tahun 1740 oleh pemiliknya pribadi, seorang tuan tanah Belanda bernama Van Heots. Namun pada masa pemerintahan Hindia-Belanda, tepatnya mulai pemerintahan Gubernur Jenderal G.W. Baron van Imhoff (1743), karena daya tarik sumber air panasnya, dibangun sebuah gedung kesehatan di sekitar sumber air panas tersebut. Kemudian, karena kharisma udara pegunungan yang sejuk serta alamnya yang bersih dan segar, bangunan itu sempat dijadikan tempat peristirahatan para Gubernur Jenderal Belanda.

 

Setelah kemerdekaan Indonesia, secara resmi gedung tersebut ditetapkan sebagai salah satu Istana Kepresidenan Republik Indonesia dan fungsinya tetap digunakan sebagai tempat peristirahatan Presiden atau Wakil Presiden Republik Indonesia beserta keluarganya, seperti halnya Camp David di AS. Istana ini dilengkapi kebun dan taman yang indah seluas 22 hektar. Peristiwa penting di Istana ini adalah berlangsungnya siding kabinet yang dipimpin oleh Presiden Soekarno pada Desember 1965, yang menetapkan perubahan nilai uang dari Rp 1.000,- menjadi Rp 1,-.

 

Di Istana ini disimpan koleksi lukisan dan ukiran karya seniman terkenal seperti Basuki Abdullah dan Lee Man Fong. Istana ini awalnya dibangun untuk kediaman pengusaha Belanda.

 

6. Istana Tampak Siring, Bali

 

Istana Tampaksiring adalah satu-satunya istana yang dibangun setelah Indonesia merdeka, yang terletak di Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali. Diprakarasi oleh Presiden Soekarno, istana ini dibangun oleh arsitek R.M Soedarsono dari tahun 1957-1960.

 

Nama Tampaksiring berasal dari dua buah kata bahasa Bali, yaitu “tampak” dan “siring”, yang masing-masing bermakna telapak dan miring. Konon, menurut sebuah legenda yang terekam pada daun lontar Usana Bali, nama itu berasal dari bekas tapak kaki seorang raja yang bernama Mayadenawa. Raja ini pandai dan sakti, namun sayangnya ia bersifat angkara murka. Ia menganggap dirinya dewa serta menyuruh rakyatnya menyembahnya. Akibat dari tabiat Mayadenawa itu, Batara Indra marah dan mengirimkan bala tentaranya. Mayadenawa pun lari masuk hutan. Agar para pengejarnya kehilangan jejak, ia berjalan dengan memiringkan telapak kakinya. Dengan begitu ia berharap para pengejarnya tidak mengenali jejak telapak kakinya.

 

Usaha Mayadenawa gagal. Akhirnya ia ditangkap oleh para pengejarnya. Namun, sebelum itu, dengan sisa-sisa kesaktiannya ia berhasil menciptakan mata air beracun yang menyebabkan banyak kematian bagi para pengejarnya setelah mereka meminum air dari mata air ciptannya itu. Batara Indra pun menciptakan mata air yang lain sebagai penawar air beracun tersebut. Air Penawar racun itu diberi nama Tirta Empul (yang bermakna ‘airsuci’). Kawasan hutan yang dilalui Raja Mayadenawa dengan berjalan di atas kakinya yang dimiringkan itulah yang dikenal dengan nama Tampaksiring.

 

Selain istana presiden, kompleks ini juga berisi balai pertunjukan dan gedung konferensi. Sudah banyak pemimpin negara yang tinggal di istana ini seperti Presiden Ne Win dari Birma (sekarang Myanmar), Presiden Tito dari Yugoslavia, Presiden Ho Chi Minh dari Vietnam, Perdana Menteri Nehru dari India, Perdana Menteri Khruchev dari Uni Soviet, Ratu Juliana dari Negeri Belanda, dan Kaisar Hirihito dari Jepang.

 

7. Istana Wakil Presiden, Jakarta

 

Istana tempat Wakil Presiden Indonesia berkantor ini terletak di Jalan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.  Istana ini bersebelahan dengan kantor Kedutaan Amerika Serikat.

 

Istana ini juga pernah menjadi istana perdana menteri Hindia Belanda dan bernama Indische Woonhuis.

About springocean83

I'm a quiet shy man who have soft feeling but can be hot and have more attention if meet anyone who honest and have more understanding of each other. I like travelling, swimming and reading. The most bored thing for me is PARTY because I'm a personal who like peaceful and equanimity.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s