Hentikan Kekerasan Terhadap Anak

Standar

Mengejutkan ketika membaca di salah satu harian Nasional, kasus kekerasan terhadap anak terus meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Arist Merdeka Sirait mengatakan Indonesia dalam situasi darurat nasional kejahatan seksual terhadap anak. Data dari Komnas PA mencatat sepanjang Januari-Oktober 2013, tercatat 2.792 kasus kekerasan terhadap anak. Meningkat 48 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu yang sebesar 1.383 kasus. Yang tak kalah mengejutkan sekaligus memprihatinkan, ada 1.424 kasus atau 52 persen diantaranya merupakan kejahatan seksual. Ironisnya lagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak adalah orang yang terdekat dengan si anak.

 

Anak menjadi tidak nyaman dan aman lagi berada di lingkungan sekitarnya. Ancaman penganiayaan, pemerkosaan, pencabulan, perampokan, eksploitasi, diperdagangkan bahkan pembunuhan sewaktu-waktu dapat menimpa dirinya. Terus kalau lingkungan sekitarnya sudah tidak lagi aman, kemana anak mencari tempat perlindungan bagi kehormatan hidupnya dan lebih jauh lagi kepastian masa depannya? Ada apa dengan bangsa ini? Bangsa yang dulunya dikenal ramah tamah, saling menghormati baik antara yang muda sama yang tua dan sebaliknya, bangsa yang menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan. Kemana semua slogan-slogan manis yang selama ini menjadi kebanggaan bangsa Indonesia, yang sudah dikenal di dunia? Jawabannya ada di diri kita sendiri.

 

Sudah sering kita dengar tagline ataupun slogan-slogan bahwa bumi ini merupakan warisan dari anak cucu kita, anak adalah generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa. Tidak ada orang dewasa yang hidup sampai saat ini yang tidak melewati masa anak-anak. Bahkan kalau ditanyakan kepada orang-orang tua, tidak ada yang dapat menyangkal bahwa masa kanak-kanak merupakan masa yang paling indah dan tidak akan pernah terulang. Masa dimana bermain dan belajar merupakan masa tumbuh dan berkembang seorang anak menjadi dewasa nantinya. Terus akankah kita sebagai orang dewasa yang seharusnya melindungi dan mendidik anak-anak kita menjadi generasi penerus bangsa, melakukan pembiaran atau lalai membimbing generasi emas ini? Sekali lagi jawabannya ada di diri kita sendiri.

 

Hentikan Kekerasan Terhadap Anak

 

Sedemikian istimewanya posisi anak, sehingga anak memiliki hak yang sudah diatur baik di dalam negeri maupun Internasional. Konvensi Hak Anak (KHA) yang mengatur hak-hak anak sudah disahkan oleh PBB pada tanggal 20 November 1989. Negara kita sendiri telah meratifikasi Konvensi Hak Anak (KHA) dengan Keputusan Presiden (Keppres) No.36 tahun 1990 tertanggal 25 Agustus 1990. Di dalam negeri sendiri, pemerintah Indonesia telah mengeluarkan Undang-Undang No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dimana pasal 1 angka (1) menyatakan bahwa “Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan”. Dalam pasal 2, diatur empat prinsip dasar hak anak yaitu non diskriminasi; kepentingan yang terbaik bagi anak; hak hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan serta penghargaan terhadap pendapat anak. Sudah sedemikian lengkap regulasi yang mengatur mengenai perlindungan anak, tinggal implementasinya yang harus terus disosialisasikan kepada seluruh masyarakat.

 

Anak karena tingkat kematangannya yang masih “rendah” baik fisik maupun mental, menjadi sosok yang rentan di tengah-tengah masyarakat. Perlindungan terhadap anak menjadi sesuatu yang mahal, dikarenakan masih banyaknya orang dewasa yang belum atau tidak menyadari bahwa anak juga seorang manusia yang di dalam dirinya melekat hak-hak asasi manusia seutuhnya. Masih sering kita lihat, dengar dan rasakan, kerentanan anak terhadap permasalahan pangan yang mengakibatkan kurang gizi dan timbulnya berbagai penyakit. Keluar atau dikeluarkan dari sekolah, diperlakukan salah dan dieksploitasi. Mendapat pelecehan seksual dan kekerasan baik di rumah maupun sekolah. Tidak mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai, rentan akan diperjualbelikan dan mendapatkan perlakuan tidak berperikemanusiaan.

 

Banyak faktor yang menyebabkan budaya kekerasan menjangkiti anak-anak, yang semakin meningkat dari hari ke hari. Di keluarga, faktor kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan seorang suami terhadap istri dan anak-anaknya, akan membekas di ingatan si anak. Tidak memandang apakah anak tersebut lahir dari keluarga berada maupun miskin. Efeknya anak tersebut tumbuh menjadi pribadi yang terbiasa dengan budaya kekerasan, baik di sekolah maupun masyarakat. Anak pun kurang mendapatkan perhatian, kasih sayang dan tuntunan pendidikan orang tua, tidak dibiasakan disiplin dan tidak terpenuhi kebutuhan fisik maupun psikisnya sehingga menyebabkan anak menjadi kacau dan liar. Sehingga mereka mencari pelarian untuk mengatasi kerisauannya di luar dan inilah yang dapat menyeret anak kepada perbuatan kriminal dan kekerasan.

 

Di lingkungan tempat tinggal, pergaulan anak dengan teman sebaya maupun yang lebih tua tanpa kontrol orang tua dan keluarga, menjadikan anak tidak terkendali dan hilang arah. Orang tua yang sibuk dengan segala urusan dan kegiatannya, sehingga melupakan perannya dalam merawat, mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Perannya kemudian tergantikan oleh lingkungan sekitar anak yang bilamana lingkungan tersebut tidak mendidik, tidak bersahabat bahkan cenderung keras, akan membentuk anak menjadi pribadi yang terbiasa dengan kekerasan.

 

Pun di sekolah, system pendidikan yang lebih menekankan aspek kognitif tanpa menyediakan ruang untuk berkreasi dan berekspresi kian menekan kebebasan anak. Padahal dunia anak adalah dunia belajar dan bermain. Tuntutan yang tinggi dari system pendidikan di sekolah demi kenaikan kelas atau pun kelulusan anak, semakin menambah beban mereka. Kurikulum atau bahan ajar yang kurang tepat, metodologi, system belajar mengajar yang tidak interaktif dan lingkungan sekolah yang tidak atau kurang nyaman menyebabkan emosi siswa menjadi labil dan membuat siswa merasa tidak mendapat perlindungan maupun pemenuhan hak atas pendidikannya. Sudah saatnya dihapus anggapan bahwa kekerasan merupakan hal yang wajar untuk mendisiplinkan dan mengejar kepatuhan pada anak. Sudah jelas diatur dalam pasal 54 UU No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menyatakan “anak di dalam dan di lingkungan sekolah wajib dilindungi dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh guru, pengelola sekolah atau teman-temannya di dalam sekolah yang bersangkutan, atau lembaga pendidikan lainnya”

 

Di tingkat pemerintah, kurangnya atau ketiadaan ruang bermain hijau yang aman dan nyaman, wadah berekspresi bagi anak untuk menyalurkan bakat dan minatnya maupun program pembangunan yang belum mengakomodir dan mengarusutamakan hak-hak anak, menjadikan anak resah dan kurang diperhatikan. Oleh karenanya mereka melakukan perbuatan yang tidak patut menjurus kekerasan untuk menarik perhatian.

 

Begitu ragam dan kompleksnya permasalahan yang terkait perlindungan anak, sehingga menjadi tugas kita bersama baik itu di keluarga, lingkungan sekitar, dunia pendidikan dan masyarakat serta bangsa dan negara untuk menjamin tumbuh kembang dan terpenuhinya hak-hak anak demi masa depan bangsa dan negara. Perlu diingat kegagalan melindungi anak-anak mengancam pembangunan nasional dan memiliki pengaruh negative dan akibatnya akan terbawa sampai mereka dewasa nanti. Berikan yang terbaik bagi anak dan lindungi mereka dari segala tindakan kekerasan, perlakuan salah dan eksploitasi.***

 

 

Dikutip dari tulisan Amrizal Nasution yang merupakan staf Yayasan Pusaka Indonesia Medan

 

Iklan

About springocean83

I'm a quiet shy man who have soft feeling but can be hot and have more attention if meet anyone who honest and have more understanding of each other. I like travelling, swimming and reading. The most bored thing for me is PARTY because I'm a personal who like peaceful and equanimity.

One response »

  1. I feel this is among the such a lot vital information for me.
    And i’m glad studying your article. However wanna observation on few common issues, The site taste is perfect,
    the articles is really nice : D. Good process, cheers

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s