Dewa – Dewi dalam Mitologi China : Hou Tu

Standar

Hou Tu (后土) yang berarti Penguasa Bumi adalah dewa alam yang dipuja secara resmi hingga akhir masa kekaisaran China. Ia juga disebut Dizhi (地祗) dan merupakan persamaan dari Taiyi (太一 atau Persatuan Agung) mewakili Surga. Pemujaan untuknya dilakukan di musim panas.

 

Pada masa Dinasti Han (前漢) (206 SM – 8 M), altar untuknya didirikan di dalam lingkungan ibukota, terutama di sebelah selatan. Gendernya Hou Tu tidak tetap, seringkali dianggap sebagai dewa dan terkadang sebagai dewi. Sebagai dewi, ia juga disebut Hou Tu Nainai.

 

Naskah Lǐjì (禮記), Bab Jifa (祭法), menyebutkan Hou Tu sebagai putra dari Gong Gong (共工) yang menguasai sembilan provinsi. Ia bertugas menyamaratakan (ping 平) semua wilayah di dalam kerajaan. Itulah sebabnya ia dipuja sebagai Dewa Tanah.

 

Namun ada versi lain yang menyamakan legenda Zhang Ming De sebagai Fu De Zheng Shen sebagai Hou Tu. Hal ini terutama muncul di saat sebelum akhir masa Dinasti Zhou.

 

Pada masa Dinasti Qin, banyak masyarakat awam yang ditangkap untuk bekerja paksa dalam proyek pembangunan Tembok Raksasa Cina.. Banyak pria-pria dewasa dari Mengjiang yang akhirnya tewas dalam proyek ini. Para wanita dari Mengjiang berduka cita sehingga mereka menangis sepanjang perjalanan mereka menuju lokasi pembangunan. Setelah melalui perjalan panjang yang sukar, mereka berhasil mencapai Tembok Besar dan melihat tulang-belulang putih berserakan yang tidak dapat teridentifikasi lagi. Seorang pria tua berambut serta berjanggut kelabu tiba-tiba muncul dan berkata, “Teteskan darahmu pada tulang. Jika tulang itu berubah warna, tulang itu adalah tulang kerabatmu.” Banyak yang mengikuti petunjuk itu sehingga mereka berhasil menemukan tulang-belulang keluarga mereka. Kisah tersebut melahirkan legenda mengenai Hou Tu.

 

Houtu mulai dipuja semenjak pemerintahan Kaisar Wu dari Han pada tahun 113 SM. Awalnya ia dipuja sebagai satu sosok dewa bumi. Ia merupakan dewa bumi dan panen, disamping merupakan bagian dari kosmologi China mengenai langit dan bumi.

 

Persembahan untuknya biasanya dipendam dalam tanah. Selain dipuja pada altar kekaisaran di ibukota, ia juga dipuja pada lokasi berupa gundukan tanah pada setiap desa dan kota. Ia terkadang dianggap sebagai pemelihara dinasti kekaisaran atau roh anggota keluarga kaisar yang telah meninggal.

 

Kultus Hou Tu berubah menjadi dewi Houtu Nainai pada abad ke-14 tanpa diketahui penyebabnya. Pada dinasti-dinasti selanjutnya, dalam ritual untuk Houtu Nainai, kaisar secara simbolis mencangkul tanah yang paling pertama pada permulaan tahun, di depan Altar Pertanian di Beijing, dengan harapan  kesuburan pertanian sepanjang tahun menjadi terjamin.

 

Dalam Taoisme, Hou Tu dianggap sebagai asisten Huangdi (黃帝, Kaisar Kuning) dan merupakan salah satu dari Empat Pemandu (四御). Sebagai asisten, ia membawa tali yang ia gunakan untuk mensurvei tanah.

 

Berdasarkan Naskah Lǐjì (禮記), Bab Yueling (月令), pusat dunia diperintah oleh Huangdi sebagai sang “kaisar” atau “penguasa” (di 帝), dan Hou Tu merupakan spiritnya (shen 神).

 

Pada teks Xiaojing wei (孝經緯), dijelaskan bahwa dunia terlalu luas jika hanya memuja satu dewa saja, sehingga kuil-kuil lokal (she 社) didirikan. Persembahan diberikan kepada setiap dewa lokal (sheshen 社) masyakarat tersebut.

 

Kumpulan naskah Chuci (楚辭, Puisi dari Selatan) menjelaskan bahwa Hou Tu memerintah wilayah gelap (youdu 幽都) di bawah permukaan bumi.

 

Dalam kultur lain yang lebih luas, Hou Tu terkadang digunakan sebagai gelar pejabat lokal yang mengatur tanah dan bangunan (tu zheng 土正 atau “orang yang meralat tanah”)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s