Dewa – Dewi dalam Mitologi China : Fu De Zheng Shen

Standar

Fu De Zheng Shen (福德正神) atau Hok Tek Ceng Sin (Hokkien) yang berarti dewa bumi atas kemakmuran dan jasa adalah salah satu dewa dalam panteon agama tradisional China yang seringkali dianggap sama atau merupakan nama resmi dari dewa bumi Tu Di Gong. Pemujaan keduanya sebenarnya memiliki latar belakang serta lingkup yang berbeda.

 

Berbeda dengan Tu Di Gong, Fu De Zheng Shen hanya satu sosok dewa saja. Ia merupakan pelindung masyarakat serta dianggap sebagai dewa bumi. Altar untuk Fu De Zheng Shen selalu diletakkan sejajar dengan altar-altar dewata yang lain (sejajar kepala atau dada manusia dewasa) dan tidak memiliki koneksi dengan pemakaman.

 

Ada beberapa legenda mengenai asal muasal dewa ini. Sebuah versi  mengatakan bahwa Tu Di Gong sesungguhnya adalah seorang yang pernah hidup di jaman Dinasti Zhou, pada masa pemerintahan kaisar Zhou Wu Wang, bernama Zhang Fu De yang lahir pada tahun 1134 SM.

 

Sejak kecil Zhang Fu De sudah menunjukkan bakat sebagai orang yang pandai dan berhati mulia. Ia memangku pangkat sebagai menteri urusan pemungutan pajak kerajaan. Dalam menjalankan tugasnya ia selalu bertindak bijaksana dan tidak memberatkan rakyat, sehingga rakyat sangat mencintainya. Ia meninggal pada usia 102 tahun.

 

Jabatannya digantikan oleh seorang yang bernama Wei Chao. Wei Chao adalah seorang tamak dan rakus lagi kejam. Dalam menarik pajak ia tidak mengenal kasihan, sehingga rakyat banyak sangat menderita. Akhirnya karena derita yang tak tertahankan, mereka banyak pergi meninggalkan
kampung halamannya, sehingga sawah ladang banyak terbengkalai.
Dalam hati mereka mendambakan seorang bijaksana seperti Zhang Fu De yang telah almarhum itu. Sebab itu kemudian mereka memuja Zhang Fu De (Thio Hok Tek — Hokkian) sebagai tempat memohon perlindungan. Dari nama Zhang Fu De inilah kemudian muncul gelar Fu De Zheng Shen yang dianggap sebagai Dewa Bumi.
Versi lainnya terjadi pada masa Dinasti Zhou. Zhang Ming De merupakan seorang pelayan sederhana pada sebuah rumah tangga pemilik tanah yang kaya-raya. Tuan Shang bermaksud menikahkan putri bungsunya dengan kerabat yang jauh sehingga ia memerintahkan Zhang Ming De untuk mengawalnya selama perjalanan. Di tengah perjalanan, tiba-tiba turun badai salju dan gadis tersebut hampir meninggal karena kedinginan. Zhang Ming De bergegas melepas seluruh pakaiannya untuk ia tutupkan pada putri tuannya. Meskipun si gadis selamat, Zhang Ming De sendiri meninggal. Tak lama setelah kematian Zhang, di langit muncul enam huruf 南天門大仙福德神 (Dewa Fu De Gerbang Langit Selatan). Tuan Shang merasa sangat bersyukur kepada Zhang Ming De karena telah menyelamatkan hidup putrinya dan kemudian membangun sebuah kuil untuk menghormatinya.

 

Fu De Zheng Shen digambarkan sebagai seorang pria tua yang tersenyum ramah, berambut serta berjanggut panjang berwana putih, dan seringkali digambarkan dalam posisi duduk. Tidak banyak kelenteng yang membedakan antara Fu De Zheng Shen dengan Tu Di Gong. Jika kelenteng tersebut membedakan altar untuk keduanya, altar Fu De Zheng Shen selalu berada di atas (sejajar dengan ketinggian altar-altar dewa-dewi yang lain), sementara altar Tu Di Gong berada di bawah (hampir sejajar dengan lantai) dan biasanya ditempatkan di bawah altar dewa yang lain. Kelenteng yang membedakan altar untuk Fu De Zheng Shen dan Tu Di Gong misalnya adalah TITD De Long Dian di Rogojampi, Banyuwangi dan Hok Tek Se di Jln. Ternak II, Medan, Sumatera Utara.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s