Dewa – Dewi dalam Mitologi China : Tu Di Gong

Standar

 

Tu Di Gong (Thouw Te Kong — Hokkian) adalah para Dewa Bumi yang menguasai tanah (area) lokal, misalnya adalah tanah tempat suatu bangunan didirikan. Masing-masing wilayah memiliki Tu Di Gong yang berbeda, serta masa jabatannya ada batasnya (tidak untuk selama-lamanya). Mereka adalah kelompok dewa yang berkedudukan paling rendah dalam Birokrasi Surga dan yang paling dekat dengan umat manusia. Karena berhubungan dengan tanah (juga termasuk pemakaman), altar untuk Tu Di Gong selalu diletakkan sejajar dengan lantai atau tanah. Makam China biasanya selalu memiliki sebuah bangunan kecil di sampingnya yang digunakan untuk memuja Tu Di Gong.

 

Menurut para ahli sejarah , pemujaan terhadap Tu Di Gong sebetulnya berasal dari gabungan pemujaan-pemujaan terhadap Dewa-Dewa Palawija seperti Xian Se, Tian Jun, Fang Shen, dan Shui Yong Shen, dewa-dewa penunggu rumah seperti pemujaan Bunda Bumi oleh kaisar purba.

 

Pada China kuno, kekayaan seseorang diukur dari luas tanah yang ia miliki. Hanya pada tanahlah seseorang dapat menanam padi-padian, dan melalui padi-padian itulah seseorang dapat bertahan hidup dan menjadi kaya. Hal tersebut yang menyebabkan kultus Tu Di Gong berkembang pesat dan banyak “bentuk” Tu Di Gong yang diciptakan. Meskipun ada banyak sekali Tu Di Gong, Tu Di Gong yang paling awal tercatat sejarah adalah pada tahun 2514 SM pada suatu tempat bernama Jiu Zhou.

 

Dikatakan bahwa, Kaisar Zhu Yuanzhang (朱元璋) dari Dinasti Ming dilahirkan dalam sebuah kuil Tu Di Gong. Itulah sebabnya pada zaman Dinasti Ming, kuil-kuil untuk Tu Di Gong dibangun di seluruh penjuru negeri. Altar untuknya merupakan altar yang harus dimiliki oleh setiap rumah tangga.

 

Pemujaan terhadap Dewa Bumi ini sangat luas sekali wilayahnya dan paling banyak jumlahnya. Ada yang besar, adapula yang kecil sekali dan sebetulnya tak layak disebut kelenteng. Umumnya kelenteng pemujaan Tu Di Gong dinamakan Tu Di Miao atau Fu De Ci (Hok Tek Su -Hokkian). Kelenteng-kelenteng kecil umumnya terdapat di dusun-dusun, di tepi pematang sawah dan bahkan di halaman rumah. Karena kecilnya kelenteng ini, kadang-kadang  untuk satu orang bersembahyang saja sulit.

 

Bahkan di desa-desa terpencil yang melarat, pemujaan Tu Di Gong dilakukan di dalam sebuah jambangan air yang sudah pecah. Jambangan itu dibalik dan dari bagian dinding yang  pecah ditempatkan sebuah area Tu Di Gong, dan dianggap sebagai “kelenteng”. Sebab itu ada pemeo di kalangan rakyat yang mengatakan “You-wu zhu da—tang, mei wu zhu po—gang” yang berarti “kalau ada rumah tinggal di dalam ruangan besar, kalau tak ada rumah jambangan pecah-pun jadi”.

 

Kecuali kelenteng-kelenteng khusus, di kelenteng-kelenteng lain, biasanya disediakan juga altar pemujaan Tu Di sebagai pelengkap. Pada masa kuno, hanya para pejabat pemerintah yang diperbolehkan untuk membangun kuil pemujaan kepada tatanan para dewata. Masyarakat awam tidak diperbolehkan untuk berdoa di sana. Namun, masyarakat menemukan cara untuk bersembahyang kepada Tu Di Gong. Masyarakat yang kebanyakan merupakan petani atau penggarap sawah yang miskin itu membuat papan dari tanah liat kemudian meletakkan di tanah sebagai media untuk berdoa. Itulah sebabnya altar untuk Tu Di Gong diletakkan di atas tanah, sementara altar untuk Fu De Zheng Shen diletakkan di atas meja altar.

 

Di semua tempat, Tu Di Gong biasanya di tampilkan dalam bentuk yang kurang lebih sama yaitu seorang tua, berambut dan berjenggot putih, dengan wajah yang tersenyum ramah. Pakaiannya bercorak seorang hartawan atau Yuan-wai (wan-gwe – Hokkian), demikian juga topinya.

 

Tapi ada juga di beberapa tempat yang menampilkan Tu Di dengan pakaian ala Cheng Huang Lao Ye (Dewata Pelindung Kota), dengan wajah putih, berambut dan jenggot hitam. Ada juga yang ditampilkan dengan berpasangan, yaitu Tu Di Gong di sebelah kiri, dan Tu Di Po (Nenek Tu Di) di sebelah kanan.

Mengenai sosok Du Ti Po ada legenda tersendiri tentangnya. Dalam cerita tersebut, Tu Di Po dinyatakan adalah seorang wanita muda. Setelah Tu Di Gong menerima peringkat langit, ia memberikan segala sesuatu yang masyarakat minta. Ketika salah satu dari dewa turun ke Bumi untuk melakukan pemeriksaan, ia melihat bahwa Tu Di Gong membagikan berkat yang tidak seperlunya. Segera setelah itu, dewa tersebut kembali ke Istana Langit dan menyampaikan kepada Kaisar.

 

Setelah Kaisar mendengar berita tersebut, ia mengetahui bahwa ada seorang wanita yang akan dibunuh, tetapi sebenarnya wanita itu tidak bersalah. Oleh karena itu, Kaisar memerintahkan seorang dewa untuk turun ke Bumi dan membawa wanita tersebut ke langit. Ketika wanita itu dibawa ke langit, Kaisar menganugerahinya sebagai istri Tu Di Gong dan diperintahkan untuk memantau seberapa banyak berkat yang dibagikan oleh Tu Di Gong sehingga berkat tersebut tidak seharusnya dibagikan secara sia-sia. Hal inilah yang menyebabkan banyak penganut tidak ingin menyampaikan doa kepada Tu Di Po karena takut jika Tu Di Po tidak memperbolehkan Tu Di Gong memberikan berkat kemakmuran yang banyak kepada mereka.

 

Biasanya Tu Di Gong selalu tampak menggenggam sebongkah uang emas  di tangan kanannya. Tu Di Gong yang dipuja di dalam rumah umumnya tanpa pasangan. Adakalanya sang Dewa Bumi ini ditemani oleh seekor harimau yang biasanya disebut Hu-jiang-jun (Houw Ciang Kun – Hokkian). Ia dianggap dapat membantu Tu Di Gong mengusir roh-jahat dan menolong rakyat dari malapetaka.

 

Versi lain menyebutkan bahwa dua pengawal setia Tu Di Gong dan Tu Di Po adalah Bai Hu Shen (白虎神 atau Dewa Macan Putih) dan Long Shen (龙神 atau Dewa Naga) yang bertugas melindungi manusia dari gangguan manusia lain.
Seperti juga Cheng Huang, Tu Di Gong mempunyai masa jabatan yang terbatas. Jabatan Tu Di Gong biasanya diduduki oleh orang-orang yang selama hidupnya banyak berbuat kebaikan dan berjasa bagi masyarakat. Setelah meninggal tokoh pujaan rakyat itu lalu diangkat sebagai Tu Di Gong. Sebab itu tiap tempat mempunyai Tu Di Gong tersendiri.

 

Tu Di Gong bertugas menjaga agar kehidupan rakyat aman dan bahagia, juga mengingatkan mereka agar selalu berbuat kebaikan. Tugas lain adalah memeriksa dan mencatat kelakuan orang apakah yang bersangkutan sering berbuat yang bertentangan dengan ajaran Tian. Catatan yang dikumpulkan ini diserahkan kepada Cheng Huang sebagai bahan pemeriksaan apabila orang tersebut meninggal.
Kaum petani menganggap Tu Di Gong sebagai Dewa pelindungnya. Kaum pedagang memandangnya sebagai roh suci yang memasok rejeki. Dan masyarakat umum memandangnya sebagai pelindung keselamatan. Sebab itulah perayaan dan sembahyang untuk Tu Di Gong paling banyak dilakukan dalam setahun.

 

Pada masa lalu banyak kaum pedagang yang bersembahyang pada tiap tanggal 1 dan  16 Imlek tiap bulan. Sembahyang ini disebut “zuoya” atau “ya-fu” dengan tujuan untuk memohon perlindungan dan rejeki dari sang Dewa. Upacara sembahyang pada tanggal 2 bulan 1 Imlek disebut “tou-ya” (Thou-ge – Hokkian), tanggal 2 bulan 2 Imlek disebut sembahyang “ya-li” untuk merayakan hari ulang tahun Tu Di, dan tanggal 16 bulan 12 Imlek disebut “wei-ya” (atau penutup). Biasanya sembahyang ini diikuti dengan perayaan yang dimeriahkan dengan pertunjukkan wayang dan tari-tarian.

 

Sedangkan kaum tani karena menganggap  hasil jerih payahnya itu adalah hasil lindungan dari sang Dewa Bumi, maka mereka memilih tanggal 15 bulan 8 Imlek yaitu masa panen akhir tahun sebagai tanggal untuk bersembahyang. Festival ini dinamakan “Qiu Bao” (秋報) dimana pada hari itu, masyarakat melaporkan hasil panen tahun tersebut kepada Tu Di Gong. Festival tersebut kini dikenal dengan nama Zhong Qiu Jie (中秋節) atau festival musim gugur. Perayaan Zhong-qiu ini sangat meriah, tidak hanya di dusun tapi juga di kota-kota.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s