Potret Buram Dunia Pendidikan Indonesia : Tewasnya Dimas Handoko

Standar

Hasil penelitian UNESCO tahun 2012 menunjukkan mutu pendidikan Indonesia menempati peringkat ke 64 dari 120 negara di dunia, sementara untuk standar Asia Tenggara Indonesia menempati peringkat ke 10 berdasarkan penelitian pada tahun 2010 berdasarkan penelitian pada tahun 2005. Kenyataan yang sungguh sangat memalukan, bahkan Indonesia ditinggalkan oleh Vietnam dalam bidang mutu pendidikan yang mengalami konflik dan instabilitas politik dalam negerinya selama beberapa periode.

 

Sebagai negeri yang besar dan memiliki kebudayaan yang luhur, Indonesia selayaknya mampu melampaui pencapaian negara-negara tetangga seperti Vietnam dalam bidang pendidikan. Indonesia memiliki sumber daya manusia yang potensial. Dalam beberapa kompetisi olimpiade sains kontingen Indonesia beberapa kali memperoleh gelar juara dan medali.

 

Realita saat ini prestasi yang diperoleh anak-anak bangsa Indonesia tidak serta-merta menjamin mutu pendidikan Indonesia baik. Sebaliknya justru mutu pendidikan Indonesia cenderung statis, tanpa perkembangan. Salah satu faktor yang turut mendukung statisnya mutu pendidikan Indonesia adalah sistem pendidikan Indonesia.

 

Sistem pendidikan Indonesia yang menjadi fokus kajian kali ini adalah sistem pendidikan sekolah atau perguruan tinggi yang memiliki sistem “kaderisasi” senior-junior. Sistem ini memberi peluang tumbuh-suburnya praktek-praktek kekerasan dalam proses penyambutan dan pembinaan siswa atau mahasiswa baru. Anehnya praktek “kaderasi” gaya militer ini justru banyak berlangsung di lembaga-lembaga pendidikan yang dikelola oleh pemerintah, seperti IPDN, ATKP, STIP dan lainnya.

 

Belum lagi hilang ingatan masyarakat akan kekerasan yang mengakibatkan tewasnya taruna ATKP asal Kisaran kabupaten Asahan bernama Hendra pada tahun 2010, mahasiswa IPDN Sulut bernama Yonoli Untajana tewas dalam melewati ringtangan air pada tahun 2013 dan kasus yang terbaru adalah tewasnya Dimas Handoko mahasiswa STIP Jakarta pada 25 April 2014. Dimas tewas dengan cara tidak wajar. Kerabat keluarga melihat terdapat luka lebam di perut dan ulu hati jenazah Dimas. Informasi sementara Dimas diduga dianiaya kakak seniornya sesama mahasiswa STIP Jakarta. Tak tanggung-tanggung, diperkirakan ada dua belas kakak senior yang turut menganiaya Dimas hingga tewas.

 

Kasus terakhir ini semakin menambah panjang daftar kebobrokan mutu dan sistem pendidikan Indonesia. Sekolah dan perguruan tinggi selayaknya merupakan tempat anak-anak bangsa menuntut ilmu dan mengembangkan pola pikir serta wawasan. Sebaliknya, sekolah dan perguruan tinggi ternyata menjadi arena tindak kriminalitas dan kekerasan. Hasilnya dapat ditebak, bagi siswa atau mahasiswa yang mampu bertahan bukan semakin berilmu dan berwawasan, tetapi malah semakin kejam dan bringas. Sebaliknya bagi siswa atau mahasiswa yang tidak mampu bertahan “kematian” akan selalu menyertainya.

 

Tindakan-tindakan kekerasan dipercaya oleh beberapa oknum dapat mendisiplinkan, membentuk mentalitas dan karakter siswa, mahasiswa baru atau junior menuju lebih baik. Tindakan-tindakan ini telah menjadi tradisi yang mengakar sejak lama secara tidak resmi di lembaga-lembaga pendidikan pemerintah. Ada proses pewarisan tradisi kekerasan ini kepada junior sehingga tindakan kekerasan ini tetap terus lestari sampai saat ini. Maka tidak mengherankan ada kesulitan pihak sekolah atau perguruan tinggi untuk menghapus tradisi ini dari sekolah dan perguruan tinggi.

 

Suatu paradigma yang keliru jika menganggap kekerasan sebagai solusi membentuk mentalitas dan karakter siswa atau mahasiswa. Dalam kajian ilmu psikologi kekerasan justru dapat menimbulkan efek psikologis dan traumatik jangka panjang pada korban yang mengalaminya. Efek psikologis ini akan mempengaruhi korban dalam melakukan berbagai tindakan di masyarakat.

 

Salah satu visi perguruan tinggi pemerintah tersebut adalah mendidik dan mempersiapkan anak-anak bangsa menjadi calon pemimpin bangsa. Tetapi kenyataannya dengan materi pendidikan yang terbatas dan justru mahasiswa lebih banyak mendapat penyiksaan di sekolah membuat sumber daya manusia yang lulus dari perguruan tinggi tersebut tidak memiliki kecakapan kepemimpinan yang maksimal di lapangan.

 

Sungguh sangat paradoksal ketika pendidikan sipil membentuk kedisiplinan dan karakter anak bangsa dengan mengadopsi sistem militer. Insan sipil yang dididik bukanlah calon prajurit yang hendak bertempur, sebaliknya mereka adalah calon pemimpin bangsa yang akan kembali dan tinggal di tengah-tengah masyarakat. Mereka harus memiliki nilai-nilai dan kecakapan kepemimpinan, seperti wibawa, kharisma, kecerdasan intelenjensi, emosional, spiritual, kejujuran, keterbukaan, ketegasan dan disiplin.

 

Menimbang Kembali Pendidikan Pancasila dan Kebangsaan  

 

Menelisisk sistem pendidikan Australia dalam menyambut siswa dan mahasiswa baru akan menambah wawasan kita. Di Australia ada pekan orientasi siswa dan mahasiswa baru yang diisi dengan kegiatan pembekalan kepada mahasiswa dalam memasuki akademik sekolah dan perguruan tinggi.

 

Dalam pekan orientasi tersebut jajaran pihak sekolah atau perguruan tinggi akan memperkenalkan staf pengajar, pegawai, senior, fasilitas sekolah, serta klub atau organisasi intra sekolah serta yang terpenting adalah memperkenalkan sistem pendidikan sekolah dan peraturannya kepada siswa dan mahasiswa baru.

 

Cara penyambutan siswa dan mahasiswa tersebut dirasa jauh lebih efektif dan  manusiawi daripada menggunakan kekerasan untuk membuat siswa atau mahasiswa menjadi tunduk dan patuh karena takut. Cara damai dan persuasif dipilih sebagai cara pendekatan senior kepada junior, itu jauh lebih membuat junior bersimpati dan hormat kepada seniornya.

 

Selain itu, akan terjalin hubungan yang harmonis dan damai antara senior dengan junior. Setelah hubungan kedua belah pihak ini terjalin dengan baik, selanjutnya akan terjadi proses pembelajaran dan transfer pengalaman serta pengetahuan antara senior dengan junior secara damai. Cara ini jauh lebih mencerdaskan ketimbang hubungan yang dibina atas dasar tekanan dan ketakutan.

 

Permasalahan berikutnya beberapa oknum menganggap siswa dan mahasiswa harus dibentukan karakter dan mentalitasnya agar menjadi pribadi yang tangguh. Pertanyaannya apakah dengan tindakan kekerasan, karakter dan mentalitas tangguh anak akan tercipta? Sebaliknya tindakan kekerasan justru menyisakan banyak kelemahan.

 

Jauh lebih efektif pembentukan karakter anak dilakukan pemerintah melalui lembaga pendidikan dengan kembali memaksimalkan pendidikan Pancasila dan kebangsaan.

 

Pada dua poin ini generasi muda bangsa Indonesia sangat lemah. Pancasila hanya menjadi simbol tanpa pengamalan. Sedangkan kebangsaan di mata generasi muda, suatu pemahaman yang teramat dangkal, karena dianggap tak begitu penting. Maka tidak heran generasi muda Indonesia saat ini cenderung kurang berdisiplin, kurang tanggung jawab dan kurang tegas.

 

Padahal dalam pancasila tekandung banyak sekali nilai-nilai luhur. Jika pancasila diajarkan secara benar dan serius, maka akan membentuk insan yang saleh, bertanggung jawab, adil, memiliki rasa kemanusiaan dan damai. Sedangkan nilai-nilai yang terkandung dalam kebangsaan adalah cinta tanah air.

 

Jika dijabarkan lebih lanjut maka insan yang mendapat pemahaman kebangsaan akan lebih patuh menjalankan kewajiban terhadap negara, mematuhi segala peraturan dan perundang-undangan serta menghindari segala tindakan yang merugikan negara seperti korupsi.

 

Dengan pendidikan dan pengamalan pancasila serta kebangsaan diyakini dapat membentuk karakter dan mentalitas anak-anak bangsa yang baik dan  tangguh. Perlu diingat bahwa anak-anak bangsa yang bersekolah di lembaga pendidikan pemerintah adalah manusia. Maka, perlakukanlah mereka layaknya manusia. Karena sesungguhnya tindakan kekerasan dan penganiayaan adalah tindakan binatang. Tentu kita tidak mau di masa depan bangsa ini dipimpin oleh generasi binatang.

 

 

Dikutip dari tulisan Hanif Harahap yang merupakan Alumnus Pendidikan Sejarah Program Pascasarjana Universitas Negeri Padang.

About springocean83

I'm a quiet shy man who have soft feeling but can be hot and have more attention if meet anyone who honest and have more understanding of each other. I like travelling, swimming and reading. The most bored thing for me is PARTY because I'm a personal who like peaceful and equanimity.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s