Setiap Warga Negara Indonesia (Tidak) Mempunyai Hak Mendapatkan Pendidikan

Standar

Amanat Undang Undang Dasar (UUD) 1945 menyebutkan, “Setiap warga negara Indonesia mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak.” Artinya semua masyarakat Indonesia tanpa terkecuali mendapatkan hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan dan pendidikan yang didapatkan secara nasional yang berkualitas.

 

Pemerintah katanya terus berupaya menciptakan pendidikan di Indonesia yang berkualitas secara nasional. Pelaksanaan pendidikan di Indonesia harus merata dari Sabang sampai Marauke. Pemerataan secara kuantitas dan pemerataan secara kualitas pada semua daerah yang ada di Indonesia.

 

Pemerintah katanya berupaya mewujudkan adanya sarana dan prasarana pendidikan secara standar nasional pada semua daerah di Indonesia tanpa terkecuali. Adanya sarana dan prasarana berstandar nasional pada semua daerah di Indonesia telah menjadi keinginan semua masyarakat Indonesia dan cita-cita luhur para pendiri Republik ini yang dituliskan dalam UUD 1945.

 

Faktanya hari ini begitu banyak anak-anak Indonesia yang harus putus sekolah, berapa banyak anak-anak Indonesia yang tidak bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang pendidikan tinggi atau mendapatkan pendidikan tinggi. Jujur, kondisi pendidikan formal di Indonesia masih sangat memprihatinkan.

 

Keinginan atau cita-cita itu sampai hari ini belum menjadi kenyataan dan kenyataan yang ada adalah Ujian Nasional (UN) yang memaksakan kualitas pendidikan secara nasional, tetapi sarana dan prasarana pendidikannya belum berstandar nasional. Penulis menjadi tenaga pendidik (guru) tahun 90-an menilai sarana dan prasarana sekolah jauh lebih baik dari pada sekarang di era Reformasi hari ini.

 

Pemerintahan Orde Baru secara bertahap memberikan berbagai fasilitas untuk sekolah-sekolah di daerah agar mampu mensejajarkan diri dengan sekolah-sekolah yang ada di perkotaan. Ratusan gedung Sekolah Dasar Negeri (SDN) dan gedung Sekolah Dasar Instruksi Presiden (SD) Inpres dibangun. Sekolah-sekolah swasta yang masih tertinggal fasilitas pendukungnya dibantu pemerintah dengan menjadikan sekolah-sekolah swasta itu bersubsidi. Secara perlahan, bertahap penyeragaman sarana dan prasarana pendidikan dilakukan di seluruh Indonesia. Hasilnya, sekolah-sekolah yang ada di Indonesia tumbuh dan berkembang dengan pesat.

 

Wajar pada era Orde Baru itu sepi dari protes tentang pendidikan nasional. Mulai dari pendidikan dasar, menengah sampai kepada pendidikan tinggi. Buktinya, tidak ada terlihat para mahasiswa unjukrasa turun ke jalan menuntut perbaikan masalah sistem pendidikan, apa lagi para siswa. Semuanya damai, tenang melakukan proses belajar mengajar dan begitu juga dengan tenaga pendidik tidak gusar, gelisah dalam melakukan proses mendidik anak didik.

 

Sejalan dengan itu, Pemerintah Orde Baru melakukan penyeragaman kualitas pendidikan dengan memberikan buku paket pelajaran untuk Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah tingkat Pertama (SMP) secara gratis tanpa membeda-bedakan status sosial orangtua murid, semuanya mendapat buku paket gratis dengan bertuliskan di buku tidak untuk diperjualbelikan.

 

Kini ratusan SD Negeri dan SD Inpres yang dibangun pada era pemerintahan Orde Baru tidak bertambah pada pemerintahan era Reformasi hari ini. Sulit kita mencari berita adanya sekolah negeri yang dibangun, sulit mencari berita di surat kabar adanya sekolah SD, SMP dan SMA Negeri yang dibangun. Jangankan bertambah, untuk memelihara yang sudah ada saja tidak mampu, begitu banyak SD Negeri dan SD Inpres yang tidak dirawat. Sangat disayangkan dan yang ironinya keinginan menyeragamkan kualitas pendidikan nasional menggebu-gebu. Kualitas pendidikan pada pemerintahan era Orde Baru ingin diterapkan dengan melakukan Ujian Negara yang merupakan standar untuk menilai kualitas pendidikan secara nasional. Berbeda ketika penulis menjadi guru pada pemerintahan era Orde Baru, tidak ada Ujian Nasional (UN), yang ada Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Ebtanas).

 

Menyamakan Kualitas Pendidikan

 

Keinginan pemerintah menyamakan kualitas pendidikan di Indonesia sangat baik dan perlu didukung karena ini cita-cita atau keinginan semua orang akan tetapi keinginan itu baru bisa diperoleh jika proses untuk itu dilakukan secara terus menerus, bukan hanya retorika atau pencitraan dari para pemimpin negeri ini.

 

Mewujudkan cita-cita itu harus dibuktikan dengan adanya kerja nyata yakni membangun sarana dan prasarana pendidikan. Bila hal ini tidak dilakukan maka cita-cita atau keinginan itu hanya sebatas mimpi dan janji-janji dari ucapan keinginan menyamakan kualitas pendidikan di Indonesia.

 

Keinginan, cita-cita menyeragamkan kualitas pendidikan secara nasional oleh pemerintah era Reformasi belum direalisasikan dengan terlebih dahulu membenahi sarana dan prasarana pendidikan nasional itu. Bila ini tidak dilakukan maka dapat dikatakan keinginan itu hanya sebatas keinginan tanpa realisasi atau sekadar janji-janji untuk meninabobokkan masyarakat guna pencitraan diri para pejabat di negeri ini.

 

Pendidikan pada era Reformasi ini belum memiliki konsep yang jelas sebab pada satu sisi ingin menyamakan kualitas pendidikan dengan melaksanakan UN bagi para siswa SD, SMP dan SMA/SMK meskipun ekses-ekses negatif dari pelaksanaan UN setiap tahun terus terjadi seperti kecurangan dan tindak kriminal.

 

Hal ini satu bukti bahwa konsep pendidikan itu belum jelas dan tidak baik bagi dunia pendidikan nasional apa bila dalam proses belajar mengajar selalu muncul ekses-ekses negatif sebab dalam dunia pendidikan tidak saja mentransfer ilmu pengetahuan tetapi juga pembinaan mental spiritual, moral dan etika anak didik. Namanya juga pendidikan yakni mendidik, bukan sekadar mengajar atau mentransfer ilmu pengatahuan. Mendidik melahirkan manusia-manusia yang berilmu pengetahuan sekaligus bermoral, beretika dan bermental spiritual yang baik maka baru bisa melahirkan manusia-manusia Indonesia yang paripurna.

 

Melaksanakan UN boleh saja akan tetapi terlebih dahulu harus ada standarisasi sarana dan prasarana yang berstandar nasional. Hal ini sangat penting, bila tidak maka terjadi terus ketimpangan.

Ujian Nasional pada dasarnya baru bisa dilaksanakan apa bila seluruh penyelenggaraan pendidikan baik, merata, berkualitas dan terjangkau.

 

UN bisa dilakukan apa bila sarana dan prasarana pendidikan sudah memadai, distribusi dan kualitas guru terpenuhi dan kurikulum pendidikan akuntabel.

 

 Perbedaan UN dengan Ebtanas

 

Pelaksanaan Ebtanas sangat berbeda dengan pelaksanaan UN. Penyelenggaraan Ebtanas cukup bagus. Buktinya tidak ada siswa yang stress, apa lagi ada siswa sampai bunuh diri, tidak ada yang protes, apa lagi ada siswa sampai unjuk rasa turun ke jalan.

 

Kualitas pendidikan tumbuh dan berkembang sesuai dengan karakter daerah, kearifan lokal terjaga, berkembang dan siswa memiliki pendidikan moral yang baik dengan konsep nasional pendidikan moral Pancasila. Para anak didik yang lulus berdasarkan evaluasi yang terus-menerus dari guru yang mendidiknya dengan berorientasi kepada keinginan nasional.

 

Ketika pelaksanaan Ebtanas selalu berjalan lancar, tenang dan sukses, tidak pernah ada pelaksanaan Ebtanas yang dijaga aparat kepolisian, tidak ada tenaga pendidik dan anak didik yang sampai berurusan dengan kepolisian dalam masalah pelaksanaan Ebtanas.

Semuanya berjalan tenang, damai dan lancar sebab sudah bertahun-tahun para siswa mendapat pendidikan moral agama, pendidikan moral Pancasila agar memiliki akhlak mulia, berbuat baik dan jujur dalam bertindak.

 

Tidak heran hasilnya para siswa tenang-tenang saja dalam mengikuti Ebtanas, cukup para guru mereka saja yang mengawasi, Ingat! Hanya mengawasi, bukan menjaga, apa lagi dengan penjagaan aparat kepolisian di lingkungan sekolah.

 

Sesungguhnya yang utama adalah mengimplementasikan amanat UUD 1945 bahwa setiap warga Negara Indonesia mempunyai hak mendapatkan pendidikan, bukan sebaliknya setiap warga Negara Indonesia tidak mempunyai hak mendapatkan pendidikan. Sesungguhnya itulah makna dasar dari Hari Pendidikan Nasional.

 

 

Dikutip dari tulisan Dra. Yusna Hilma Sinaga yang merupakan seorang  tenaga pendidik (guru) dan juga alumnus Fakultas Tarbiyah (Pendidikan) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Medan

About springocean83

I'm a quiet shy man who have soft feeling but can be hot and have more attention if meet anyone who honest and have more understanding of each other. I like travelling, swimming and reading. The most bored thing for me is PARTY because I'm a personal who like peaceful and equanimity.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s