Bau Urine Bisa Menekan Populasi Tikus

Standar

Kualitas dan kuantitas riset hewan cerdik, “tikus”, kini makin naik saja. Bukan saja buat membongkar misteri anatomi manusia, pun kerugian manusia akibat ulah tikus, seperti dalam pertanian. Entah berapa hektar sawah dan kebun di setiap negara yang rusak akibat kecerdikan dan kecepatan tikus menggerogoti aneka pangan milik manusia. Jadi tak heran bila banyak negara sering menyatakan “perang” dengan tikus.

 

Di Amerika Serikat, tikus telah menyantap dan menggerogoti bahan pangan dengan nilai Rp. 500 milyar per bulan. Walaupun sudah ratusan sampai ribuan macam ditemukan trik menangkap dan membunuh tikus, tetapi tetap saja atraksi tikus memusingkan pemerintah AS. Sering pejabat AS minta kepada para ilmuwan buat memecahkan hal kerugian bahan pangan oleh tikus.

 

Persepsi bahwa laju jumlah tikus sangat tinggi itu sudah lama. Setiap bersalin bukan lagi satuan ekor, tetapi sudah puluhan ekor. Setiap ekor cepat tumbuh serta kembali hamil.

 

Namun mengacu pada riset di Cambridge University, Inggeris, rupanya tak 100% demikian. Buat membuat tikus betina jadi hamil tak saja memerlukan sperma, juga bau urine jinak (milik sang suami : tikus jantan yang baru saja mengawini atau membuahinya).

 

Jadi walaupun hamil, tetapi sering mencium bau urine tikus lain, cepat/lambat akan menggugurkan janin yang dikandung. Karena bisa mengacaukan gerak-gerik hormon seksi pengawas dan pendeteksi janin, agar tetap menempel pada rahim (syarat alami bila janin tikus ingin terus tumbuh).

 

Rupanya terdapat pertalian yang sensitif antara bau urine dengan hormon. Maksudnya, hormon akan terus bekerja dengan sempurna bila tikus betina hanya mencium bau urine sang pacar.

 

Asumsi para biolog di sana : relevasi bau urine dengan janin terprogram serta terkordinir pada otak. Maksudnya, pada otak ada sistim buat menjaga ketenangan dalam membedakan bau urine. Sedangkan tikus betina hanya mengenal satu jenis saja buat mengenali dan mendeteksi sang pacar dari berbagai tikus jantan di sekitarnya. Jenis itu terekam pada otak di mana umumnya sulit terlupakan. Ada juga tikus mampu mengenal lebih dari satu jenis urine, tetapi jarang.

 

Kalau bau urine asing terlalu sering tercium atau terhirup, menandakan menghidupkan sel-sel penghalang dan penghambat identitas janin, sampai menimbulkan sinyal pada otak. Impuls saraf ini tak bisa dipantau serta akan segera ke hipotalamus (pusat kontrol buat sel-sel perkembangan tikus). Kemudian bila hipotalamus memerintahkan kelenjar bawah otak buat menyetop prolaktin, menandakan mengakhiri pengawasan terhadap janin buat tetap menempel dalam rahim. Ini jelas sama saja dengan abortus.

 

Bau urine jinak pun sangat perlu bagi perlindungan anak-anak tikus dari terkaman ataupun gangguan ayah lain, lebih-lebih saat sang ayah sedang tak ada di tempat. Bila bau urine asing tercium, sang ibu segera mengungsi sambil menggiring mereka ke sarang yang lebih : aman, leluasa, dan nyaman. Setiap saat mereka meninggalkan sarang buat melihat, apakah sang ayah sudah datang.

 

Kata para ilmuwan di kampus tenar itu, gerak-gerik tikus seperti ini bisa dijadikan modal buat menekan jumlah tikus (populasi). Dengan ilmu itu, tentu mereka akan memanfaatkannya dan menerapkannya buat hajat hidup, seperti: bagaimana menekan jumlah tikus yang konon bisa menggeser jumlah manusia.

About springocean83

I'm a quiet shy man who have soft feeling but can be hot and have more attention if meet anyone who honest and have more understanding of each other. I like travelling, swimming and reading. The most bored thing for me is PARTY because I'm a personal who like peaceful and equanimity.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s