Sudahkah Kita Disiplin Berlalu Lintas ?

Standar

Tepatnya pada Minggu (26/1/2014) lalu, dicanangkan    “Gerakan Nasional Pelopor Keselamatan Berlalu Lintas”. Acara yang digelar di Bundaran Hotel Indonesia itu dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Melalui gerakan ini, masyarakat diminta untuk sadar akan keselamatan berlalu lintas. Presiden berharap, dengan begitu, paling tidak, angka kecelakaan bisa ditekan. Apa yang diutarakan Presiden tentunya patut dicermati. Apalagi, berdasarkan catatan Mabes Polri, setiap harinya kecelakaan lalu lintas memakan korban jiwa di Indonesia. Penyumbang terbanyak kecelakaan adalah sepeda motor. Menurut data Polri, ada 27 ribu orang tewas dalam kecelakaan pada 2012 dan 25 ribu orang pada 2013. Sekitar 75 persen korban kecelakaan adalah warga usia produktif yang menjadi tulang punggung keluarga.

 

Menurut Kapolri, Jenderal Sutarman, setiap hari ada delapan kecelakaan terjadi. Rata-rata empat korban meninggal, dan setiap tahun ada 200 kecelakaan. Berbagai upaya telah dilakukan kepolisian untuk menekan jumlah korban kecelakaan, seperti pembinaan dan workshop di sejumlah tempat. Sayangnya, kata Kapolri, hal ini belum mampu menekan angka tersebut. Misalnya saja masih banyak yang tak mengenakan helm atau nekat menyerobot lampu lalu lintas. Untuk itulah gerakan ini dicanangkan secara serentak oleh Polda, Polres, dan Polsek di seluruh Indonesia.

 

Jujur saja, disadari atau tidak, kecelakaan lalu lintas telah menjadi semacam “mesin pembunuh” luar biasa di negeri ini ketimbang bencana alam atau kejadian lain. Apalagi, saat musim mudik Lebaran. Tragisnya, kecelakaan lalu lintas salah satu faktornya karena rendahnya disiplin berlalu lintas pengendara kendaraan bermotor di jalan raya. Korban kecelakaan lalu lintas itu sebagian besar berada pada usia produktif.  Berdasarkan data pada 2013, terdapat 12 kasus kecelakaan lalu lintas per jam dengan menimbulkan korban rata-rata tiga orang meninggal dunia, tiga orang mengalami luka berat, dan 13 orang mengalami luka ringan. Memang ada penurunan dari tahun sebelumnya, pada 2012, yang terdata 29.544 orang meninggal dunia dari 117.949 kasus kecelakaan. Meski turun, angka kecelakaan masih memprihatinkan.

 

Dari angka per tahunnya, jika dirata-ratakan, sebanyak 80 orang meninggal dunia tiap harinya di jalanan akibat kecelakaan lalu lintas atau empat orang per jamnya. Kapolri Jenderal Sutarman dalam acara pencanangan Gerakan Nasional Pelopor Keselamatan Berlalu Lintas di Jakarta, Minggu (26/1), mengatakan, angka kasus kecelakaan lalu lintas dan korbannya berpotensi meningkat. Hal itu seiring meningkatnya pertumbuhan penduduk dan terus meningkatnya tren penjualan kendaraan bermotor setiap tahunnya. Kapolri benar. Angka pertumbuhan penduduk naik dua persen, sedangkan penjualan kendaraan bermotor mencapai delapan persen. Kondisi itu masih ditambah tingkat disiplin berlalu lintas yang diperlihatkan pengguna kendaraan bermotor masih rendah.

 

Prihatin

 

Kita prihatian melihat angka kasus kecelakaan dan jumlah korban meninggal dunia, luka berat, dan ringan itu. Persoalan ini sudah seharusnya menjadi perhatian bersama semua pihak dan lapisan masyarakat. Peran masyarakat sangat besar dalam mewujudkan keselamatan berlalu lintas di jalan dan mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas yang dapat menimbulkan banyak korban jiwa atau luka-luka. Untuk itu, agaknya perlu upaya meningkatkan peran masyarakat tersebut melalui program pembinaan yang terus dilakukan dengan menggalakkan kegiatan sosialisasi mengenai keselamatan berlalu lintas di sekolah-sekolah, universitas, dan pusat kegiatan masyarakat lainnya.

 

Hal yang dirasakan penting lainnya adalah cara menyadarkan orang tua untuk tidak menghadiahkan sepeda motor sebagai apresiasi anak lulus sekolah atau prestasi lain. Banyak kasus kecelakaan lalu lintas yang korbannya adalah siswa sekolah menengah pertama (SMP) atau sekolah menengah atas (SMA). Mereka belum siap secara mental berlalu lintas, malah di antaranya tidak mempunyai surat izin mengemudi (SIM). Namun, mereka begitu bebasnya bersepeda motor tanpa helm atau pengaman keselamatan berlalu lintas lain. Khusus untuk kepolisian, sudah waktunya memperketat mengeluarkan SIM. Perlu langkah seleksi yang ketat, terutama bagi para remaja yang sudah cukup usia, untuk mendapatkan SIM tersebut. Praktik-praktik percaloan yang selama ini terjadi dalam pengurusan SIM harus diberantas habis.

 

Dalam sejumlah kasus kecelakaan berlalu lintas, ternyata pengendara tidak cukup usia, tetapi memiliki SIM. Ini sesuatu yang mustahil, tetapi terjadi. Kita yakin, kepolisian serius untuk persoalan yang satu ini. Kita dukung setiap upaya instansi ini untuk terus membenahi proses mendapatkan SIM. Selain itu, kita belum cukup disiplin dalam berlalu lintas. Oleh karena itu, maka gerakan semacam pelopor keselamatan berlalu lintas tentunya harus disambut baik dan ditindaklanjuti oleh semua pihak. Jangan sekadar seremoni, tapi harus betul-betul dilaksanakan. Semua pengguna jalan, entah itu pejalan kaki, pemotor, pengemudi angkutan umum, ataupun pengguna mobil pribadi, harus mematuhi kaidah dan tata tertib berlalu lintas. Sebab, faktanya, kita sering menemukan mereka yang tak mematuhi aturan.  Para pengendara sepeda motor, misalnya, sering banyak yang nekat melawan arus, terutama di saat jam sibuk, pagi dan sore hari.

 

Kadang, di malam hari, ada juga yang sengaja tak menggunakan lampu. Hal itu tentunya amat membahayakan diri sendiri dan orang lain. Mungkin jika disebut, masih banyak bentuk pelanggaran lalu lintas lainnya, entah itu yang dilakukan kendaraan pribadi, sopir angkutan umum, maupun pejalan kaki yang menyeberang seenaknya. Tentu ini perlu kesadaran semua pihak, bukan cuma petugas kepolisian. Masyarakat sebagai pengguna jalan seharusnya menjadi garda terdepan mengampanyekan gerakan ini. Minimal mereka sadar bahwa nyawa mahal harganya sebab ceroboh di jalan raya fatal akibatnya. Mulailah dari diri sendiri untuk disiplin dan tertib berlalu lintas.

 

Sayangi diri dan keluarga. Sebab, mereka tentu menanti Anda kembali selamat sampai di rumah.  Memang perlu kesabaran dan kehati-hatian tersendiri dalam berkendara, terutama di kota besar seperti Jakarta. Namun, ada baiknya mengalah dan meredam ego demi keselamatan diri Anda. Sudah banyak contoh kasus kecelakaan lalu lintas hanya lantaran persoalan sepele semacam ini. Ungkapan usang, “biar lambat, asal selamat” sepertinya masih ampuh untuk menjaga keselamatan Anda di jalan raya. Selain kesadaran masyarakat, gerakan ini tentunya harus didukung para stakeholder lainnya. Tak hanya kepolisian, Dinas Perhubungan, dan Dinas Pekerjaan Umum, para produsen kendaraan bermotor, pihak asuransi, ataupun penyedia fasilitas kredit harus ikut bertanggung jawab atas keselamatan para pengguna jalan.

 

Jangan sekadar meraup keuntungan dari penjualan produk tanpa mau tahu dampak buruknya di masyarakat. Sebab, meningkatnya jumlah kendaraan bermotor setiap tahun, selain menyumbang kemacetan, berkorelasi secara tidak langsung dengan meningkatnya jumlah kecelakaan. Gerakan safety riding harus terus dikampanyekan secara luas lewat berbagai cara. Entah itu dengan merangkul berbagai komunitas, melalui media sosial, atau semacamnya. Jangan pernah lelah untuk selalu mengingatkan tentang perlunya kedisiplinan karena itu tak akan sia-sia. Akhirnya, memang kita tidak ingin kecelakaan lalu lintas menjadi masalah luar biasa di negeri ini. Karena itu, kita mendukung setiap upaya menekan angka kecelakaan berlalu lintas tersebut.

 

 

Dikutip dari tulisan Bhakti Dharma MT yang merupakan peminat masalah ekonomi, politik dan sosial kemasyarakatan, aktif di KomPedan Medan

About springocean83

I'm a quiet shy man who have soft feeling but can be hot and have more attention if meet anyone who honest and have more understanding of each other. I like travelling, swimming and reading. The most bored thing for me is PARTY because I'm a personal who like peaceful and equanimity.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s