“Tolbok Haleon”, Lentera Mengarungi Modernitas

Standar

Sutan Pangurabaan Pane, seorang pegiat jurnalistik dari Sipirok, menulis novel berjudul “Tolbok Haleon: Siriaon di na Tobang, Sipaingot toe Naposo Boeloeng” (Musim Kelaparan: Hiburan bagi Orang Tua, Saran bagi Kaum Muda). Ditulis dalam bahasa Batak Angkola. Semula tersaji reguler dalam surat kabar Poestaha edisi sekitar tahun 1914-1915 di Padangsidempuan.

 

Setelah terpublikasi di surat kabar, dikemas dalam format buku dan diterbitkan sebagai edisi perdana. Pada 1916, Partopan Tapanoeli, Padangsidempuan, menerbitkan edisi kedua. Handel Mij. Indische Drukkerij, Medan, menerbitkan edisi keempat, 1937.

 

Penerbitan berulang kali itu mengindikasikan bahwa novel Tolbok Haleon cukup populer pada masa kolonial. Paling tidak di kalangan masyarakat Tapanuli, secara khusus bagi warga penutur bahasa Batak Angkola.

 

Melawan Arus

 

Pada masa kolonial, penggunaan bahasa Batak dalam menulis sastra terbilang melawan arus zaman. Karena bahasa elite masa itu adalah bahasa Belanda dan Melayu (Indonesia).

 

Lagi pula, hingga tahun 1930-an, perusahaan percetakan dan penerbitan Balai Pustaka, milik pemerintah Hindia-Belanda, di Batavia (Jakarta kini) nyaris tidak pernah menerbitkan karya sastra berbahasa Batak. Karya pribumi yang diterbitkan Balai Pustaka berkisar pada sastra berbahasa Melayu, Jawa, Sunda, dan Madura.

 

Bahkan sejak berdiri pada 14 September 1908 hingga tahun 1930-an, sesuai catatan Wikipedia, id.wikipedia.org, Balai Pustaka menjadi penanda penyebaran sastra Jawa modern. Jumlah buku berbahasa Jawa lebih banyak dibandingkan dengan buku berbahasa Melayu. Dalam situasi ini, Sutan Pangurabaan Pane justru memilih melawan arus. Meskipun fasih berbahasa Belanda dan Melayu, tapi ia menulis sastra berbahasa Batak,.

 

Dengan langkah itu, Pane menunjukkan bahwa bahasa Batak dapat menjadi bahasa sastra. Sekaligus pula menyiratkan pesan agar orang-orang Batak tetap melestarikan bahasa ibu di tengah pengutamaan arus bahasa Indonesia dan Belanda. Ia tampak menolak bahasa Batak tergerus kemajuan zaman atau modernitas.

 

Dalam perjalanan lebih lanjut, novel “Tolbok Haleon” dan juga penulisnya kurang dikenal di kalangan pembaca Indonesia. Kecuali di daerah Tapanuli Selatan. Karena kabarnya, sampai tahun 1980-an, novel Tolbok Haleon masih menjadi bahan bacaan di sekolah-sekolah di Tapanuli Selatan.

 

Tapi kebanyakan masyarakat Tapanuli kurang mengetahui novel tersebut dan juga kiprah Sutan Pangurabaan Pane. Guru-guru sejarah maupun sastra di bagian utara Tapanuli hampir tidak pernah menyebut nama Sutan Pangurabaan Pane dan novel Tolbok Haleon. Sekadar ilustrasi, saya dapat mengungkapkan pengalaman pribadi. Ketika masih sekolah dasar di Pollung dan sekolah menengah pertama di Doloksanggul, Humbang, pada tahun 1960-1970-an.

 

Para guru giat mengintroduksi nama penulis dan novel berbahasa Indonesia, seperti Sanusi Pane, Armijn Pane, Merari Siregar. Ketiga sastrawan ini juga berasal dari daerah Tapanuli Selatan atau satu kampung halaman dengan Sutan Pangurabaan Pane.

 

Seingat saya, guru-guru kami tidak pernah menyinggung tentang sastra berbahasa Batak. Pelajaran mengarang pun harus berbahasa Indonesia. Hal ini mungkin saja terjadi karena para guru kami terlalu patuh pada ketentuan kurikulum pemerintah. Mereka tampaknya agak kurang kreatif ‘melawan arus’.

 

Tapi boleh jadi pula, guru-guru kami itu tidak tahu tentang adanya novel-novel berbahasa Batak. Mereka juga barangkali tidak ingin memotivasi murid untuk memproduksi tulisan dalam bahasa Batak. Begitulah, kebanyakan warga Tapanuli tidak mengetahui karya sastra Batak termasuk novel Tolbok Haleon.

 

Lentera dalam Modernitas

Keberadaan novel Tolbok Haleon (Musim Kelaparan) mendapat perhatian dari Susan Rodgers, profesor antropologi di Sekolah Tinggi Salib Kudus, Massachusetts, Amerika. Yakni dalam kajian bertajuk “A Batak Literature of Modernization” (1981) dan “Sutan Pangurabaan Rewrites Sumatran Language Landscapes: The Political Possibilities of Commercial Print in the Late Colonial Indies” (2012). Kedua tulisan ini dapat ditemukan dalam http://cip.cornell.edu dan www. kitlv-journals.nl.

 

Ulasan Prof. Dr. Susan Rodgers memang tidak terfokus pada novel Tolbok Haleon. Tapi Uraiannya pun sangat bermanfaat jadi rujukan untuk memahami konteks zaman novel Tolbok Haleon. Rodgers mencatat novel ini sebagai karya besar (masterwork) Sutan Pangurabaan Pane.

 

Naskah yang jadi acuan dalam tulisan ini adalah novel edisi kedua, 1916. Diperoleh dari perpustakaan perhimpunan kefilsafatan Amerika, diakses dari laman http://quod.lib.umich.edu. Novel ini ditulis dalam konteks proses modernisasi di Tapanuli. Modernisasi berpretensi memajukan kehidupan agar lebih baik dan bermartabat.

 

Novel ‘Tolbok Haleon” diawali dengan kalimat “Tarsingot di na jolo” (teringat masa lalu). Ceritanya mengenai posisi yang bersifat marginal. Dituturkan suatu peristiwa musim kelaparan terjadi di Tapanuli sekitar tahun 1880-1890-an. Peristiwa ini membuat masyarakat kesulitan untuk memperoleh beras dan sumber-sumber penghasilan.

 

Kisah tersebut diangkat sebagai introduksi dan diarahkan untuk menggambarkan bahwa peristiwa Tolbok Haleon dengan versi berbeda masih berpotensi terjadi di Tapanuli.

 

Oleh karena itu, sesuai istilah Sutan Pangurabaan, “halak hita” (‘orang kita’, tentu menunjuk Batak Angkola) secara bersama perlu memformulasikan sikap dalam mengarungi modernitas. Terutama agar musim kelaparan (tolbok haleon) tidak lagi menimpa masyarakat Tapanuli.

 

Novel Tolbok Haleon menampilkan kisah di sekitar wilayah Tapanuli (Selatan dan Tengah kini). Tercantum nama-nama daerah, antara lain Sipirok, Kampung Tobu, Padang Sidempuan, Sihitang, Mandailing Julu, Sitinjak, Padang Bolak, Gunung Tua, Sibuhuan, Sibolga Julu.

 

Semua nama tokoh menggunakan identitas Batak Angkola, kecuali seorang pengusaha yakni “toke G.T. Tji” yang boleh jadi menunjuk pada identitas Tionghoa. Tauke ‘G.T. Tji” di Mandailing itu fasih berbahasa Batak Angkola dan terbuka memberi pekerjaan kepada Lilian Lolosan.

 

Tokoh utama novel Tolbok Haleon adalah Lilian Lolosan dan Sitti Bajani. Kedua tokoh ini tampil sebagai representasi muda-mudi di zaman kolonial. Kedua tokoh digambarkan sebagai anak desa yang berusaha keras untuk masuk dalam persaingan memperoleh pekerjaan di daerah perkotaan.

 

Lilian Lolosan dan Sitti Bajani dicitrakan sebagai sosok yang jujur, cerdas, disiplin, tekun, sabar dan tawakal. Potret karakter ini bisa saja sengaja ditonjolkan Sutan Pangurabaan Pane untuk menginspirasi orang tua dan kaum muda. Sikap maupun kepribadian Lilian Lolosan dan Sitti Bajani dikesankan bagaikan sebuah ‘lentera’ yang efektif untuk mencegah musim kelaparan di Tapanuli.

 

Pada simpul itu, novel Tolbok Haleon juga memuat pesan agar warga Tapanuli tidak sebatas merengkuh modernitas. Tapi hendaklah membarui pola pikir dan karakter dalam bekerja. Transformasi sikap hidup dipersepsikan ampuh menjadi sebuah ‘lentera’ dalam mengarungi modernitas.

 

Sutan Pangurabaan Pane seakan hendak menggarisbawahi urgensi pembaruan watak. Tanpa mengubah paradigma berpikir maupun karakter, maka ditengarai peristiwa kerawanan pangan masih akan mengancam kehidupan di era modernitas. Pesona pesan ini niscaya masih tetap aktual bagi kita pada masa kini.

 

 

Dikutip dari tulisan Sahat P. Siburian yang merupakan anggota Lembaga Pemberdayaan Media dan Komunikasi (LAPiK), Medan

About springocean83

I'm a quiet shy man who have soft feeling but can be hot and have more attention if meet anyone who honest and have more understanding of each other. I like travelling, swimming and reading. The most bored thing for me is PARTY because I'm a personal who like peaceful and equanimity.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s