Belajar dari Masyarakat Adat dalam Menjaga Lingkungan

Standar

Kerusakan lingkungan di bumi ditandai dengan berbagai macam bencana alam yang ditimbulkannya menjelaskan bahwa alam sudah tidak lagi bersahabat dengan manusia. Atau lebih tepatnya, manusialah yang membuat alam tidak lagi bersahabat dengannya. Padahal alam dan manusia adalah dua komponen yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya memiliki keterkaitan satu sama lain.

 

Namun karena dewasa ini perubahan pola pikir manusia yang lebih memanfaatkan alam dengan mengeksploitasinya tanpa diiringi pemeliharaan didalamnya maka alam pun menjadi murka. Bagaimana tidak, manusia sekarang cenderung melihat alam dari sisi ekonomisnya sajadalam memenuhi kebutuhan, ketimbang aspek keberlangsunganhidup dari alam. Mau tidak mau, berbagai kerusakan lingkungan menimbulkan fenomena alam yang pada akhirnya merugikan manusia itu sendiri.

 

Berbagai upaya pemulihan terhadap kerusakan lingkungan pun menjadi isu hangat yang dibicarakan. Mulai upaya reboisasi, pemaksimalan RTH, pembangunan DAS dan lain sebagainya. Namun disamping itu semua, sebenarnya ada pelajaran berharga yang bisa kita teladani guna memulihkan dan menjaga lingkungan ini, yaitu dari warisan nilai budaya para leluhur bangsa ini yang tercermin dari sikap masyarakat adatnya dalam menjaga lingkungan.

 

Masyarakat adat dan lingkungan

 

Sudah terbukti, bahwa masyarakat adat adalah masyarakat yang sangat menghargai dan menghormati alam serta lingkungan sekitarnya. Bagaimana cara mereka bertahan hidup dari memanfaatkan alam dengan tetap mematuhi norma-norma dan aturan adat yang berlaku secara turun temurun. Aturan dan nilai-nilai budaya yang pada dasarnya membawa kebaikan bagi mereka serta kondisi lingkungan sekitarnya itu, melekat dengan sangat kuatnya, sehingga keseimbangan antara alam dan manusia bisa terjaga.

 

Masyarakat adat menyadari betapa hidup mereka sangat bergantung dengan alam. Segala aktivitas yang dilakukan dalam pemenuhan kebutuhan tidak terlepas dari alam. Baik dari berburu, bertani (bercocok tanam), mencari ikan, mendirikan rumah dan lain-lain, semua itu adalah hasil yang mereka peroleh dari alam. Untuk itu, menciptakan keharmonisan dengan alam yaitu menjaga, melestarikan, dengan tidak mengakibatkan kerusakan yang berkelanjutan adalah lumrah sebagai wujud terima kasih serta penghormatannya terhadap alam.

 

Dalam menciptakan keharmonisan itu, pengelolaan lingkungan yang dilakukan beberapa masyarakat adat di Indonesia seperti masyarakat adat Kasepuhan, Kampung Naga, Baduy, Banten Kidul, Cipta Gelar,dan diikuti beberapa masyarakat adat lainnya, umumnya selalu menjurus kepada 3 hal berikut, yaitu mengenai tata wilayah (penentuan wilayah), tata wayah (penentuan waktu) dan tata lampah (cara berprilaku). Ketiga unsur tersebut menjadi semacam aturan yang harus dipatuhi agar alam selalu berpihak kepada mereka. Karena mereka percaya, apa yang dilakukan terhadap alam menentukan kehidupan mereka nantinya.

 

Pada tata wilayah, pengelolaan lingkungan disertai dengan batasan wilayah mana yang diperbolehkan untuk dikelola dan mana yang dilarang. Disini, dikenal 3 istilah batasan tata wilayah. Pertama, leuweung larang atau wilayah yang dilarang untuk dikelola. Karena dianggap wilayah ini sangat penting demi terjaga keseimbangan alam. Banyaknya keanekaragaman hayati dan hewani yang hidup di wilayah ini juga menjadi faktor kenapa wilayah ini dilarang untuk dikelola.

 

Kedua, leuweung titipan atau wilayah yang boleh dikelola untuk sementara waktu atau tidak dianjurkan dalam kurun waktu yang lama. Ketiga, leuweung sampalan atau wilayah yang dianjurkan untuk dikelola. Pada wilayah leuweung sampalan, masyarakat secara luas diperbolehkan dalam mengelola lingkungan untuk dimanfaatkan demi pemenuhan kebutuhan hidupnya.

 

Sedangkan pada tata wayah, pengelolaan lingkungan juga didasarkan oleh waktu. Artinya, ada waktu-waktu tertentu dimana masyarakat adat melakukan aktivitasnya. Seperti waktu yang tepat untuk berburu, mencari ikan, bercocok tanam dan memungut hasil panen. Karena dalam hal ini, masyarakat adat melakukan pemanfaatan alam atas dasar kebutuhan bukan keinginan seperti sebagaimana yang dilakukan masyarakat modern saat ini. Jadi, pemanfaatan lingkungan tidak dilakukan secara terus menerus, ada waktu di mana alam bisa mengembalikan keadaannya seperti semula.

 

Kemudian unsur ketiga tata lampah, adalah cara prilaku masyarakat adat yang menyelaraskan hubungan yaitu kepada sesama, kepada alam, dan kepada sang maha pencipta. Sehingga, keselarasan dari ketiga unsur ini dimaksudkan agar prilaku pemanfaatan lingkungan yang dilakukan masyarakat adat tidak sampai mengakibatkan suatu kerusakan, melainkan tetap terjadi keseimbangan antara alam dan manusia.

 

Sebenarnya, selain menjurus kepada 3 unsur ini (tata wilayah, tata wayah, tata lampah), tentunya masih banyak cara pengelolaan lingkungan yang dilakukan masyarakat adat diluar sana. Dengan caranya yang berbeda dan unik, namun tetap memperhatikan keseimbangan lingkungan seyogianya menjadikan nilai-nilai luhur budaya masyarakat adat menjadi pelajaran yang baik untuk dapat dilestarikan atau bahkan dikembangkan.

 

Nilai budaya yang terkandung pada jiwa masyarakat adat yang teraplikasi pada prilakunya dalam menghargai dan menghormati lingkungan telah menghasilkan suatu tatanan ekosistem yang baik, antara alam dan segala isinya dengan manusia dengan segala kebutuhannya. Belajar dari masyarakat adat, menghargai dan menghormati lingkungan merupakan warisan nilai budayayang harusnya ditanamkan kembali pada jiwa-jiwa manusia sekarangditengah tingginya pengaruh globalisasi dan modernitas.Terlebih agar juga dapat diwariskan pada generasi mendatang tentang bagaimana mempertahankan dan melestarikan lingkungan ini.

 

Betapa masyarakat adat yang selama ini dianggap tertinggal dari berbagai kemajuan zaman, ternyata masih lebih mengerti bagaimana bersikap baik terhadap lingkungan, ketimbang masyarakat modern dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuannya, namun tidak menghiraukanalam tapi justru malah merusaknya. Oleh karena itu, mari belajar dari masyarakat adat, sebagaimana masyarakat adat belajar dari alam yang terkembang menjadi guru.

 

 

Dikutip dari tulisan Mas Arif yang merupakan Mahasiswa IAIN-SU dan peminat masalah lingkungan

Iklan

About springocean83

I'm a quiet shy man who have soft feeling but can be hot and have more attention if meet anyone who honest and have more understanding of each other. I like travelling, swimming and reading. The most bored thing for me is PARTY because I'm a personal who like peaceful and equanimity.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s