Perempuan Mabuk di Bar Menjadi Sasaran Empuk Pria Predator

Standar

Sebuah studi di Kanada menemukan perempuan yang tampak lebih mabuk di bar berisiko lebih besar jadi sasaran pria – pria predator. Sembilan dari sepuluh insiden agresif di bar – bar melibatkan pria – pria yang mendekati perempuan karena mereka tampak “empuk”

 

Penelitian itu, yang dipublikasikan dalam jurnal Alcoholm: Clinical & Experimental Research, meneliti agresi seksual di bar – bar. Studi tersebut mengungkapkan pria berkemungkinan lebih besar menunjukkan agresi seksual terhadap perempuan yang sudah teler.

 

Dan level gangguan itu dikaitkan dengan seberapa mabuk sasaran mereka dan bukan kemabukan mereka sendiri.

 

Dr Kate Graham dari University of Toronto mengemukakan bahwa data riset menyebut bahwa agresi terkait dengan godaan seksual merupakan hal yang sangat umum dewasa ini. Beliau berujar bahwa para peserta studi itu direkrut dalam perjalanan mereka ke bar – bar dan kemudian ditanyai beberapa pertanyaan tambahan soal dua bentuk umum agresi seksual yang mereka teliti — kontak seksual yang tidak dikehendaki dan godaan berkelanjutan.

 

Hasilnya ketika meninggalkan distrik bar, lebih dari 50 persen perempuan melaporkan mengalami satu dua dua jenis agresi seksual  itu pada petang survei itu.

 

Dr Jeannette Norris dari University of Washington menimpali bahwa mengingat besarnya jumlah orang muda yang bersosialisasi bersama di bar – bar, tidaklah mengherankan sangat banyak serangan seksual terjadi di sana.

 

Lolos

 

Pakar – pakar berkeyakinan bahwa pria – pria predator merasa dapat “lolos” dari perbuatan itu karena mereka menganggap bar – bar adalah sebagai lingkungan bebas aturan. Graham memaparkan bahwa dia berpendapat tidak ada yang bisa terbebas dari perbuatan seperti itu di kebanyakan keadaan.

 

Jika orang tak dikenal menghampiri seorang perempuan, kemudian merangkulnya pada bagian pinggang, dan merapatkan badannya ke tubuh perempuan itu di sebuah kafetaria kampus atau di kereta api bawah tanah, korban barangkali bisa menghubungi polisi. Di bar, wanita itu hanya mencoba menjauhi pria tersebut.”

 

Dr Norris menambahkan bahwa agresi berbasis di bar hampir dapat dipastikan dilakukan oleh orang – orang yang tidak saling kenal dengan baik atau tidak kenal sama sekali.

 

Noris menguraikan bahwa ini setidaknya bisa menimbulkan dua konsekuensi. Pertama, para pelaku lebih besar kemungkinannya men-depersonalisasi atau dehumanisasi wanita sasaran. “Kedua, perbuatan itu mungkin membuat pelaku merasa lebih ‘terlindungi’, yakni beranggapan mereka kecil kemungkinannya mengalami konsekuensi atas aksi – aksi mereka.

 

Para periset meneliti 1.057 insiden “agresi” antara tahun 2000 dan 2002 di berbagai jenis bar yang ada di Toronto, Kanada. Temuan itu menyebut bahwa sekira seperempat (24,4 persen) terlibat agresi seksual.

 

Keliru

 

Dr Graham memaparkan bahwa mereka menemukan memang terjadi konsepsi keliru dalam melakukan dan menerima godaan seksual, khususnya dalam lingkungan terseksualisasi yang jadi ciri khas banyak bar. Sebagian besar dari prilaku tersebut tampaknya merupakan gangguan atau agresi yang disengaja untuk senang-senang atau memuaskan diri pelaku atau membuat senang teman-temannya. Sebaliknya, perempuan yang lebih mabuk bisa jadi dipandang sebagai sasaran lebih empuk atau lebih mudah disalahkan, atau target yang tidak seberapa mampu melawan.

 

Para pakar mengungkapkan bahwa sembilan dari sepuluh insiden agresif melibatkan pria – pria  yang menghampiri perempuan yang “terlihat sebagai sasaran empuk”. Pakar – pakar berpendapat pria – pria tersebut merupakan oportunis yang mungkin juga berpandangan negatif terhadap perempuan yang minum.

 

Noris berujar bahwa harus ada pesan tegas kepada pria tentang jeleknya agresi seksual apapun jenisnya. Selain itu, perempuan perlu belajar mengatasi pesan-pesan yang mereka mungkin terima sejak kecil tentang gender mereka atau tidak ingin menyebabkan hal memalukan atau ‘menciptakan suatu adegan’.

 

Dia juga menambahkan bahwa wanita perlu dididik bersikap tegas membela diri, mengaku bahwa pria yang agresif secara seksual adalah seseorang yang mengalami suatu problema dan tanggungjawab harus ditempatkan padanya untuk menghentikan prilaku yang tidak dapat diterima.

 

Hamun Katie Russell, jurubicara Rape Crisis England & Wales, menjelaskan kepada MailOnline bahwa pemerkosaan adalah perbuatan yang diperhitungkan dan pemerkosa kerap menyasar para korban yang mereka anggap rentan atau yang mereka pikir tidak akan dipercayai.

 

Katie juga menambahkan bahwa karena itulah penting artinya menumbuhkan kesadaran bahwa 100 persen tanggungjawab perbuatan kekerasan seksual terletak pada pelaku. Para korban tidak boleh dipersalahkan, dan bahwa melakukan seks dengan seseorang yang terpengaruh minuman atau narkoba,  sehingga tidak bisa setuju dengan perbuatan itu, adalah pemerkosan.

About springocean83

I'm a quiet shy man who have soft feeling but can be hot and have more attention if meet anyone who honest and have more understanding of each other. I like travelling, swimming and reading. The most bored thing for me is PARTY because I'm a personal who like peaceful and equanimity.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s