Seandainya Pohon Bisa Bicara

Standar

Di gunung, pohon – pohon digugur oleh debu vulkanik dan awan panas. Di hutan, pohon – pohon ditebang dengan bebas. Di desa, pohon – pohon dibakar demi lahan pemukiman. Di kota, pohon – pohon jadi korban kampanye politik. Begitulah, seandainya pohon – pohon bisa bicara, mungkin mereka akan berteriak, memprotes sikap manusia yang kian serakah. Protes yang sebenarnya bukan untuk mereka, namun demi kepentingan seluruh penghuni planet ini.

 

Seperti yang kita rasakan bersama, sejak beberapa tahun terakhir, iklim dunia makin tak terkendali. Cuaca tak bisa diduga. Hari ini panas, besok hujan turun dengan derasnya. Dampaknya, bencana sering datang tak terduga. Kini, hampir di segala penjuru dunia, masyarakat mengeluh. Tak tahu ke mana mesti mengadu.

 

Di Indonesia, bersamaan dengan banjir bandang di Pulau Jawa dan sebagian Sulawesi, justru kemarau di Sumatera dan Kalimantan. Adalah pemandangan yang berbeda, ketika ada satu kelompok masyarakat kekurangan air, kelompok lain justru gerah karena huniannya diterjang banjir.

 

Begitu juga di Sumatera Utara, pasca erupsi Gunung Sinabung. Berapa banyak jiwa pengungsi yang terancam hidupnya? Lahan pertanian dan usaha tempat mereka mencari uang, telah porak-poranda oleh debu vulkanik dan awan panas. Pasca erupsi, perlu bertahun – tahun untuk merevitalisasi lahan pertanian yang terkena debu vulkanik Gunung Sinabung. Artinya, selama itu, para petani akan menganggur. Bertambahlah masyarakat miskin di negeri ini. Padahal kemiskinan dekat dengan kemusyrikan.

 

Para pengungsi Gunung Sinabung, yang sudah 4 bulan hidup dalam ketakpastian. Sudahlah lahan pertanian mereka hancur untuk beberapa tahun ke depan, keseharian hidup mereka juga didera derita. Bagaimana jika seandainya kita yang menjadi pengungsi. Malam menggigil, siang panasnya luar biasa. Bagaimana jika anak kita yang menangis setiap malam tiba karena kedinginan. Kepada siapa kita mengadu, bila mendadak sanak keluarga ada yang sakit.

 

Sementara masing – masing pengungsi sibuk dengan persoalannya sendiri. Dalam situasi seperti itu, tentu rasa panik dan emosional menjadi begitu rentan. Bisakah kita membayangkan, betapa gampangnya gesekan – gesekan itu terjadi, manakala mereka beradu cepat memanfaatkan fasilitas yang apa adanya disediakan pemerintah.

 

Bahkan, ketika beberapa hari lalu, sejumlah seniman Medan “naik gunung” demi menghibur pengungsi, mereka menumpahkan kepenatannya. Menandakan bahwa mereka sudah tak mampu menahan penat. Setidaknya diekspresikan salah seorang pengungsi yang masih balita. Anak itu berumur 4 tahun. Ketika seorang teman mengajaknya masuk ke dalam tenda, karena debu vulkanik mulai turun, dengan enteng ia membalas. “Biar aja, biar cepat mati sekalian!”

 

Demikian jua masyarakat Menado, Sulawesi Utara. Banjir bandang yang lalu dengan tinggi mencapai 3 meter itu, merusak tempat tinggal, infrastruktur, sawah dan ladang mereka. Bila pun banjir surut, terlanjur hidup mereka harus dimulai lagi dari minus.

 

Di belahan dunia yang lain, badai salju terekstrem di abad ini, tiba-tiba saja menyerang negara-negara yang biasa hidup di dua musim. Sulit dibayangkan, Air Terjun Niagara, bahkan ikut membeku, karena suhu sudah mencapai minus 50 derajat celcius. Lalu badai, gelombang tinggi, cuaca panas, banjir, longsor, kemarau berkepanjangan, erupsi gunung berapi, datang silih berganti. Apa sebenarnya yang terjadi dengan planet ini. Benarkah ramalan tentang kiamat itu, betul adanya?

 

Dan hari – hari kita pun disibukkan dengan penanganan bencana demi bencana. Energi, waktu, tenaga, pikiran serta materi, kita kerahkan. Akhirnya, sebagai manusia yang ingin hidup lebih baik, kita hampir tak sempat merancang perbaikan masa depan. Seperti membangun istana di atas pasir, hari – hari kita disibukkan dengan masalah-masalah mendasar, yang mestinya sudah selesai kita tuntaskan sejak lama.

 

Coba kita hitung, berapa besar kerugian suatu negara akibat bencana yang terus-menerus terjadi. Di Jakarta saja, seminggu setelah banjir melanda, kerugian ekonomi mencapai ratusan miliar per hari. Hitungan ini belum termasuk kerugian harta benda milik masyarakat.

 

Lalu bagaimana masa depan anak cucu para korban bencana ini. Selain ekonomi, beban mental dan trauma sudah pasti membayang-bayangi hidupnya. Bisakah kita bayangkan, bagaimana mereka akan tumbuh menjadi generasi yang sehat fisik dan jiwanya, jika ingatan – ingatan akan musibah yang melanda mereka selalu membayangi?

 

Junjunglah Beringinmu

 

Di manapun di belahan bumi ini, pohon adalah sumber kehidupan. Karena pohonlah, resapan air terjaga. Karena pohon pulalah sirkulasi air menjadi teratur. Di akar pohonlah tanah mengikatkan diri, menahan longsor. Berkat pohon jugalah udara menjadi bersih. Pun oleh pohon siklus oksigen dan karbondioksida berproses normal.

 

Maka dalam banyak kebudayaan, yang tak lain berawal dari pengalaman berhadapan dengan alam, pohon – pohon berada dalam posisi penting. Di banyak negara, pohon menjadi simbol semesta. Kita mengenal istilah “pohon hayat”. Demikian juga masyarakat Karo. Pohon hidup dalam kebudayaan mereka. Karenanya mereka berpantang menebang pohon. Bilapun terpaksa, mesti disertai dengan upacara – upacara budaya.

 

Kalau kita pernah mendaki Sinabung atau Sibayak, akan sering kita lihat bagaimana tingginya penghormatan masyarakat Karo terhadap pohon. Dapat kita lihat cara mereka memperlakukan pohon. Setiap kali ada pohon besar yang melintang di jalur pendakian, selalu ada penanda bagi pendaki, agar menjaga sikapnya. Mereka meyakini, sebagai sumber kehidupan, pohon harus diperlakukan seperti kita memperlakukan makhluk hidup lainnya.

 

Dalam kebudayaan Batak Toba juga, pohon merupakan permulaan kehidupan. Maka ada prinsip bagi orang Batak Toba, untuk selalu “menjunjung beringinnya” (pohon beringin). “Menjunjung beringin”nya, berarti menjaga martabat, yang tak lain  menghormati kehidupannya sendiri. Pohon hayat orang Batak Toba, dikenal dengan istilah “hariara sundung di langit”. Yakni pohon beringin yang menjulur ke langit. Kearifan lokal itu, berusaha menjelaskan, bahwa dengan pohonlah kehidupan bermula. Kehidupan yang mestinya mengarah pada kesempurnaan untuk dapat mencapai banua ginjang (surge).

 

Seluruh makhluk hidup pun bergantung kepada pohon. Itu sebabnya dalam kisah penciptaan menurut agama – agama, pohonlah yang lebih dulu diciptakan, sebagai modal untuk menopang kehidupan manusia itu sendiri.

 

Tapi kini, pohon – pohon itu tak lagi kita hargai. Semata-mata, pohon – pohon kita lihat sebagai benda ekonomis. Menganggapnya benda mati yang tak punya pengaruh apa – apa bagi kelangsungan hidup planet ini. Padahal dengan bersikap begitu, kita pun membunuh kehidupan kita sendiri. Kehidupan anak-cucu kita. Dan pada akhirnya menghancurkan planet ini. Seandainya pohon – pohon bisa bicara, mungkin mereka akan berkisah, bahwa semua yang dialami manusia itu, dimulai ketika mereka tak lagi diperdulikan. Bahwa bencana yang terjadi adalah konsekuensi dari bergesernya nilai – nilai kebersamaan. Atau, bila mungkin pohon – pohon bisa bicara, mungkin mereka memang tak akan pernah bicara. Mungkin mereka akan menangis.

 

 

Dikutip dari tulisan Jones Gultom yang merupakan pegiat gerakan budaya untuk lingkungan

Iklan

About springocean83

I'm a quiet shy man who have soft feeling but can be hot and have more attention if meet anyone who honest and have more understanding of each other. I like travelling, swimming and reading. The most bored thing for me is PARTY because I'm a personal who like peaceful and equanimity.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s