Para Janda Korban Perang di Thailand Memikul Beban Berat

Standar

Konflik antara pasukan dan kaum militan di Thailand Selatan terus berlanjut, dan korban juga kian banyak yang jatuh. Dan pihak yang paling menderita adalah kalangan janda.

 

Kebanyakan korban konflik yang telah bergolak selama sedekade itu menyebabkan lebih 5.900 orang menemui ajal. Perang pelik, keji dan umumnya berkecamuk di beberapa provinsi ujung selatan berpenduduk mayoritas Muslim itu adalah penduduk sipil yang terjepit antara pasukan keamanan Thailand dan pemberontak yang memperjuangkan otonomi lebih besar dari Thailand, yang mencaplok wilayah selatan negara tadi lebih seabad lampau.

 

Sekira 400 dari mereka yang tewas adalah wanita, sementara pihak berwenang menyebut terdapat 2.700 janda korban perang yang terdaftar setelah suami mereka tewas di tangan pemberontak atau pasukan keamanan di provinsi Narathiwat, Yala dan Pattani — titik nyala pemberontakan.

 

Banyak istri lainnya, saudara perempuan dan putri terpaksa memainkan peranan sebagai pencari nafkah keluarga setelah kepala rumahtangga dipenjarakan, kabur untuk menghindari penangkapan atau bergabung dengan gerakan pemberontak.

 

Pikul Beban

 

Banyak peristiwa mengerikan menimpa keluarga-keluarga dalam konflik tak kunjung berakhir tersebut. Salah satu dari sekian banyak janda yang kini memikul beban berat akibat perang tersebut adalah Tungrudee Jaiin, yang terpaksa mengurus empat anak sendirian.

 

Trungrudee yang memeluk Islam setelah menikah dengan suaminya mengenang kembali kejadian mengerikan yang menimpa keluarganya lima tahun lalu ketika pemberontak membunuh suaminya karena menjadi informan pemerintah.

 

Wanita berusia 39 tahun ini menuturkan bahwa dua pekan kemudian, para pemberontak datang lagi dan menembaknya untuk membunuhnya. Menurut pengakuannya, serangan tersebut mengakibatkan perut dan kedua kakinya diterjang peluru. Para penyerang juga membakar rumahnya dan mengakibatkan putra sulungnya menderita luka bakar parah dalam peristiwa itu.

 

Hidup miskin, Tungrudee dan anak-anaknya — kini berusia antara empat hingga 15 tahun — ditampung di sebuah “desa janda” Rotan Batu yang dijaga militer. Akibat konflik itu, desa tadi mendapat tambahan warga 140 wanita dan 300 anak-anak.

 

Tungrudee mengungkapkan bahwa kadangkala dia merasa lemah dan terpikir bagaimana dia hidup tanpa suaminya ? Tapi ketika melihat anak-anaknya dia pun berpikir, siapa yang akan mengurus mereka tanpa dirinya ?

 

Dia mendapat uang bantuan bulanan sebesar 140 dolar dari negara dikarenakan status sebagai janda. Tapi bantuan tadi tidak memadai sehingga dia terpaksa berjualan sayur di sebuah kota kecil setempat.

 

Ketegaran itu mencerminkan kekuatan para wanita tersebut dalam menghadapi konflik — gejolak yang dapat dipastikan akan memburuk setelah konflik politik di Bangkok menyebabkan terhentinya pembicaraan damai antara pemerintah dengan berbagai kelompok pemberontak.

 

Kesulitan

 

Kalangan pakar mengatakan para wanita Muslim menghadapi kesulitan berat di wilayah konservatif itu, yang secara kultural berbeda dari mayoritas penduduk lain di Thailand yang beragama Buddha.

 

Dengan tidak adanya suami, para wanita Muslim terpaksa banting tulang untuk menghidupi keluarga besar.

 

Namun wanita umumnya tidak menentukan, apalagi politik dan pemberontakan kerap jadi topik pembicaraan yang dikendalikan para kepala rumahtangga.

 

Sebuah survei beberapa waktu lalu oleh yayasan Angkhana Peace Foundation menemukan rendahnya tingkat pendidikan warga memperburuk keadaan para perempuan, yang hanya bisa melakukan pekerjaan bergaji rendah atau menganggur.

 

Lain-lainnya kurang melek huruf di Thailand untuk menempuh proses hukum yang pelik di kawasan tempat pasukan keamanan rutin menangkapi tersangka pemberontak — dan banyak orang yang tak bersalah dalam proses tersebut.

 

Kendati ada sedikit bantuan negara, para wanita merasa “hampir tidak masuk akal” untuk memberi makan keluarga atau membiayai pendidikan anak, ujar penelitian tadi, sehingga memperdalam siklus kemiskinan.

 

Sinyal

 

Namun kini ada beberapa sinyal menggembirakan bahwa wanita mulai melangkah ke ruang politik yang ditinggalkan para suami mereka.

 

Wanita bergabung dengan berbagai kelompok masyarakat sipil yang menyerukan keadilan — di sebuah wilayah Thailand tempat organisasi-organisasi hak asasi manusia menuduh pasukan keamanan dan pemberontak bertindak semena-mena.

 

Pembuat film Noi Thammasathien, yang banyak menangani berbagai isu perempuan di wilayah tersebut mengucapkan bahwa peranan wanita kini semakin besar karena peranan banyak pria telah berkurang jauh karena mereka dicurigai pihak berwenang, dipenjarakan atau tewas.

 

Para wanita Muslim kini memimpin pergeseran budaya melalui aksi-aksi mereka, ucap Anghkana, yang menambahkan mereka harus terwakili lebih baik dalam pembicaraan damai yang tersendat-sendat.

 

Suami sutradara itu sendiri dikhawatirkan sudah tewas setelah diculik orang pada 2004 lalu saat sedang menangani gugatan hukum dalam kasus penyiksaan terhadap pihak berwenang Thailand.

 

Lebih 50 orang meregang nyawa sejak awal tahun ini, termasuk dua wanita pemeluk Buddha yang tewas ditembak dan kemudian dibakar dalam peristiwa terpisah yang berselang kurang dari sepekan.

 

Dengan memudarnya prospek perdamaian, para janda Rotan Batu tidak begitu larut lagi dalam kedukaan di desa tadi.

 

Sama-sama menanggung kedukaan lintas agama, para wanita tadi bergurau saat menjalankan tugas rutin keseharian mereka di lahan-lahan sayur dan bengkel yang dikeliling bungalow-bungalow sederhana.

 

Saat membentuk guci secara hati-hati untuk dijual di sebuah bengkel desa tadi, Mariay Nibosu menuturkan bahwa wanita-wanita di sini banyak menderita. Namun mereka kuat karena harus memberi makan anak-anak mereka sendirian. Oleh sebab itu, mereka harus bertahan hidup.

Iklan

About springocean83

I'm a quiet shy man who have soft feeling but can be hot and have more attention if meet anyone who honest and have more understanding of each other. I like travelling, swimming and reading. The most bored thing for me is PARTY because I'm a personal who like peaceful and equanimity.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s