Sindrom Pernapasan Timur Tengah (MERS)

Standar

Dalam kurun beberapa tahun belakangan ini kita menghadapi penyakit virus yang mengenai saluran pernapasan sehingga komplikasi beberapa penderita menyebabkan kematian, seperti SARS, Flu Burung (avian influenza), influenza A baru (Swine Flu) dan sekarang kita menghadapi MERS-Cov (Middle East Respiratory Syndrome – Coronavirus).

 

Ingatkah dulu anda tahun 2003 kita menghadapi pandemi SARS (severe acute respiratory syndrome) yang mematikan orang di negara-negara terjangkit yaitu Hongkong dan Singapura sehingga WHO mengeluarkan pernyataan larangan berkunjung ke daerah yang terjangkit SARS.

 

SARS merupakan penyakit virus yang mematikan penderita dengan keluhan pernapasan sehingga menyebabkan pasien susah bernapas kemudian mengalami komplikasi ke paru berupa sindroma pernapasan berat sehingga menyebabkan kematian.SARS merupakan penyakit yang menyebabkan sindrom pernapasan berat yang disebabkan oleh coronavirus.

 

Pada saat ini wabah MERS sudah menjadi pembicaraan di kalangan dunia. MERS ini pertama sekali dilaporkan pada bulan April 2012 di Jordan. MERS Di Amerika Serikat satu orang kasus konfirmasi MERS-CoV dilaporkan dan sudah membaik kondisi kesehatannya, dan negara-negara lain pun terdapat beberapa kasus konfirmasi MERS-Cov ini terutama di Saudia Arabia. Di Semenanjung Arab telah dilaporkan kasus konfirmasi sekitar 449 kasus dengan kematian sekitar 121 penderita. Di Indonesia terdapat beberapa kasus suspek MERS ini dengan penderita riwayat kunjungan ke daerah semenanjung Arab seperti di Medan ada kasus suspek MERS meninggal dunia akibat sindrom pernapasan akut dengan gambaran radiologis mengarah radang di kedua paru (bilateral pneumonia) dan dilaporkan juga di Bali kasus suspek MERS juga meninggal dunia.

 

MERS merupakan penyakit saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus.

 

Pakar virus menyatakan strain ini berbeda dengan SARS, MERS ini dikenal dengan novel coronavirus atau “nCoV” yang merupakan beta coronavirus.

 

Gejala MERS

 

Penderita yang terinfeksi akan mempunyai gejala pernapasan akut dengan gejala demam, batuk dan sesak napas. Perkiraan sekitar 30% menyebabkan kematian akibat sindroma pernapasan berat tetapi beberapa penderita dilaporkan mempunyai gejala pernapasan yang ringan.

 

Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan yaitu PCR (Polymerase chain reaction) di Laboratorium Kesehatan seperti LitBang.

 

Bahan yang diambil berasal dari apusan tenggorokan atau hidung.

 

Definisi kasus :

 

1. Seseorang dalam investigasi (suspek) dengan karakteristik : 

Demam (temperatur ? 380C)  dan pneumonia atau gejala – gejala  menunjukkan sindrom pernapasan (berdasarkan klinis dan pemeriksaan radiologis).

 

Juga terdapat riwayat kunjungan ke semenanjung Arab sekitar 14 hari sebelum terjadi awal gejala. Atau kontak langsung dengan turis yang mempunyai gejala seperti demam dan penyakit saluran pernapasan akut (bukan pneumonia) dengan kunjungan ke semenanjung Arab selama 14 hari atau merupakan bagian dari kelompok penderita yang mempunyai penyakit saluran pernapasan akut (misalnya demam dan pneumonia yang membutuhkan perawatan selanjutnya di rumah sakit) dengan penyebab belum diketahui mengarah ke MERS-CoV yang harus dilaporkan ke dinas kesehatan setempat.

 

2. Kasus Probable

Kasus probable merupakan seseorang dalam investigasi dengan tidak ada hasil atau tidakcdapat disimpulkan hasil laboratorium mengarah infeksi MERS-CoV dengan penderita kontak langsung dengan kasus konfirmasi MERS-CoV.

 

3. Kasus Konfirmasi

 Kasus konfirmasi yaitu hasil laboratorium menunjukkan hasil positif MERS-CoV.

 

Penularan

 

MERS-CoV ini tertular dengan kontak langsung seperti :

* Penderita yang membutuhkan perawatan dari petugas kesehatan atau anggota keluarga penderita atau mempunyai kontak langsung secara fisik.

* Penderita yang tinggal satu rumah atau berkunjung ke tempat penderita yang terinfeksi.

 

Sumber penularan

 

Sumber penularan masih belum diketahui tetapi sumber virus berasal dari binatang.MERS-CoV ini ditemukan pada unta di Qatar, Mesir dan Saudia Arabia, dan kelelawar di Saudia Arabia.

 

Unta di beberapa negara dengan hasil positif antibodi terhadap MERS-CoV ini yang awalnya unta ini sudah terinfeksi MERS-CoV, tetapi dengan hasil ini belum yakin apakah unta menjadi sumber utama virus MERS tersebut.

 

Penelitian lebih lanjut di butuhkan mengenai peranan unta, kelelawar dan binatang-binatang lainnya yang menjadi sumber penularan dari virus MERS ini.

 

Risiko tinggi terkena MERS :

1. Usia lanjut > 65 tahun

2. Anak dibawah 12 tahun

3. Ibu hamil

4. Menderita penyakit paru kronis

5. Mempunyai komorbid seperti penyakit kencing manis (DM) dan hipertensi.

 

Pengobatan

 

Belum ada pengobatan yang di rekomendasikan untuk MERS-CoV.

 

Terapi diberikan sesuai dengan gejala – gejala yang dialami dan juga belum ada vaksin ditemukan untuk MERS ini.

 

Pencegahan

 

* Mencuci tangan anda dengan sabun dan air selama 20 detik dan bantu anak-anak anda untuk melakukan cuci tangan seperti itu. Jika sabun dan air tidak ada , anda bisa menggunakan hand sanitizer yang mengandung alkohol.

* Tutup hidung dan mulut dengan tisu ketika bersin maupun batuk dan buang tisu ke tempat sampah.

* Hindari menyentuh mata, hidung dan mulut dengan tangan yang belum dicuci.

* Cegah kontak langsung seperti berbagi minuman dengan pesakit

* Hindari kontak dengan orang yang menderita flu.

 

 

Dikutip dari tulisan dr. Noni Soeroso, M.Ked(Paru), Sp.P

About springocean83

I'm a quiet shy man who have soft feeling but can be hot and have more attention if meet anyone who honest and have more understanding of each other. I like travelling, swimming and reading. The most bored thing for me is PARTY because I'm a personal who like peaceful and equanimity.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s