Solar Sel, Secercah Jalan Terang Mengatasi Krisis Listrik

Standar

Tiada yang menyangkal penerangan dan listrik di zaman modern seperti saat ini adalah suatu kebutuhan vital masyarakat. Hampir semua aktivitas tergantung kontribusinya. Masyarakat Sumatera Utara (Sumut) tahu sekali rasanya hidup tanpa kehadiran keduanya. Dari zaman dulu, kini, dan masa depan, sangat jelas hanya satu teman setia penerangan tak pernah padam, yaitu matahari.

 

Matahari yang menyinari bumi paling tidak 12 jam sehari, energinya merupakan suatu kehidupan nan penting untuk semua makhluk hidup, seluruh negara di dunia jelas mengetahui dan berlomba-lomba untuk mencari cara memanfaatkannya. Kehadiran solar sel (panel surya) sebuah solusi tepat dikala alat ini berbasis ramah lingkungan yang dapat mengkonversi sinar matahari menjadi energi listrik. Apabila maksimal dimanfaatkan sepertinya salah satu masalah krisis listrik dapat teratasi.

 

Lambannya, Indonesia dengan letak geografis dan astronomis yang membuat matahari bersinar terus menerus sepanjang tahun, nyatanya belum maksimal memanfaatkaan energi besar ini. Padahal kebutuhan dan masalah akan listrik di Indonesia setiap tahun semakin meningkat. Seharusnya untuk kota-kota besar apalagi berlabel metropolitan sudah wajib total menerapkannya, setidaknya dimulai pada ruas jalan raya dan traffic light, semua demi krisis listrik Indonesia dan masa depan.

 

Sebagai contoh, adanya Kota Medan yang berlabel metropolitan terbesar ketiga di Indonesia yang sudah kepepet listrik belum juga total ataupun lambat untuk menerapkan listrik tenaga surya ini. Alhasil jikalau malam hari tiba, sebagian besar jalan protokol/besar masih sangat tergantung dengan penerangan PLN yang sering padam. Tak pelak, membuat jalanan kian menyeramkan serta mengakibatkan rawan tindakan kriminal terjadi.

 

Setidaknya Kota Medan malu dan harus belajar banyak dari kota kecil Binjai yang notabene tetangganya. Kota ini tahu bagaimana memanfaatkan penerangan masa depan tersebut. Meskipun belum merata, setidaknya keseriusan kota tersebut untuk membuat jalanan lintas kotanya terang benderang yang berdampak aman, nyaman, dan modern patut diacungi jempol. Setidaknya itulah yang dirasakan penulis saat berkunjung kesana pada awal bulan Mei lalu.

 

Bagaimana tidak, tepatnya pada saat memasuki awal jalan lintas Medan – Binjai kira-kira KM 17 hingga lapangan Merdeka Binjai tidak terlepas dari lampu penerangan jalannya dilengkapi oleh atap, tentu bukan sembarang atap, karena atap itu adalah alat panel solar yang membuat lampu penerangan jalan bertenaga matahari/surya, sehingga tak perlu listrik dari PLN. Negara maju seperti Belanda, Jepang, Amerika, Singapura, India, dan Arab giat-giatnya menerapkan sistem ini.

 

Solar Sel Pilihan Tepat

 

Solar sel bekerja dari sinar matahari, sinar matahari yang menyinari seluruh kota di Indonesia dengan suhu udara rata-rata 28 derajat Celsius, sangat tepat untuk sistem ini. Tiada alasan tepat sebenarnya bagi Pemerintah Kota (Pemko) di Indonesia untuk tidak menerapkannya, minimal di ruas jalan raya. Karena solar sel memiliki berbagai keunggulan. Adapun keunggulannya mengutip dari pelajaran di kampus dan browsing Internet adalah :

 

Pertama, ramah lingkungan karena tidak ada suara, gerakan ataupun sisa pembakaran yang dapat merusak. Kedua, hemat karena tidak memerlukan bahan bakar,cara kerjanya hanya menyerap sinar matahari, masa pakai yang panjang hingga 25 sampai 30 tahun, dapat menyimpan energi apabila sudah berlebih, sehingga apabila keesokannya tidak ada sinar matahari akan tetap berfungsi. Ketiga, perawatan dan rangkaian yang mudah karena tanpa jaringan listrik jadi ketika ada kerusakan tidak akan mengganggu lampu yang lain dan instalasi yang tidak rumit. Menggunakan lampu LED akan semakin melengkapi penerangan high-tech, hemat energi, dan tahan lama.

 

Bukan cuma itu, dari segi finansial, sistem ini suatu penghematan terlebih dalam jangka panjang akan sangat menguntungkan. Pemko tidak perlu mengeluarkan pajak penerangan jalan kepada PLN dari penggunaan energi listrik. Sistem ini juga dapat membantu PLN, karena akan mengurangi pasokan listrik kota.

 

Untuk sementara ini kekurangan yang penulis ketahui adalah harga dari panel surya yang mahal dan fungsi alat ini akan sangat tergantung dengan sinar matahari. Namun akan sangat baik jikalau ada kombinasi/cadangan dari PLN terhadap alat ini, jadi ketika sinar matahari tidak ada, dapat sedikit menutupi kekurangan dari segi ketergantungan akan matahari.

 

Dengan fakta yang ada, sangat disayangkan belum merata atau bisa dibilang masih sangat sedikit kota yang memanfaatkannya secara total. Saat ini yang penulis ketahui kota di Indonesia yang telah menggunakannya adalah sebagian Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya. Kota besar yang memang sangat butuh inovasi kelistrikan karena dinamika kotanya yang juga dinamis setiap harinya.Cukup apresiasi dengan Kota Binjai bisa menerapkan sistem ini dan mungkin menjadi contoh untuk tetangganya Kota Medan yang masih setengah hati menerapkannya.

 

Rencana Jangan Hanya Wacana

 

Energi matahari bisa dibilang abadi dan berlimpah ruah tersedia di planet bumi ini. Melihat geliat kota Metropolitan di Indonesia yang kian dinamis. Untuk menyesuaikan itu, penerangan tenaga surya merupakan sebuah alternatif yang harus dikebut realisasinya oleh pemko, jangan tanggung-tanggung ataupun setengah hati.

 

Walaupun pada awalnya untuk mengadakan biaya perlengkapan panel solar yang dikeluarkan cukup mahal. Namun, dalam jangka panjang dapat menghemat pengeluaran dan membangun image kota moderen pendukung Global Warming yang disuarakan negara di seluruh dunia.

 

Pada tahun 2014, Plt. Walikota Medan, Dzulmi Eldin berencana menyiapkan pembangunan lampu penerangan jalan dengan energi tenaga surya, guna menghindari kegelapan di jalan protokol. Hal ini sekaligus merupakan solusi dari krisis listrik yang terjadi di Sumut. Jadi, tidak tergantung pada pasokan energi listrik dari PLN. Menurutnya, perencanaan program tersebut akan dimasukkan dalam pembahasan rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Medan tahun 2014. Senin, 30 September 2013 (www.starberita.com).

 

Pelan (sangat pelan) namun pasti, setidaknya kini Medan baru memiliki 5 titik solar sel kata Kadishub Medan, Renward Parapat yang mengatakan rencana penambahan lampu solar cell ini akan dilakukan pada tahun 2015 dengan pagu anggaran sementara sebesar Rp 3 miliar untuk di 10 titik di Kota Medan. “Saat ini, kita sudah ada di 5 titik solar cell seperti ada di Jalan Iskandar Muda dan Jalan Gatot Subroto Medan. Dana kemungkinan bisa saja ditambahkan, kita lihat kondisi tahun depan.

 

Terpisah, Asisten Manager Jaringan PT PLN Area Medan, Effendi Limbong juga menyampaikan, pihaknya sudah selesai memasang peralatan dua penyulang yang di 16 titik traffic light yang padat kendaraan seperti simpang Majestik, Jalan Diponegoro, Pattimura/Wahid Hasyim, Gajah Mada/Iskandar Muda, Pondok Kelapa, Kapten Muslim, Jalan Brigjen Katamso (simpang kantor Waspada), simpang kantor TVRI dan Jalan AR Hakim. 22 Maret 2014 (analisadaily.com).

 

Ada sedikit rasa bangga, para wisatawan dan tentunya penulis sendiri sebagai salah satu warga kota Medan sekaligus mahasiswa teknik elektro dapat melihat kota yang katanya metropolitan ini dilengkapi sebahagian listriknya digunakan teknologi high-tech, seperti solar sel ini, setidaknya di ruas jalanan, traffic light, dan lampu hias kota. Sehingga kota selalu menyinari malam setiap harinya, meskipun dalam keadaan pemadaman listrik oleh PLN. Setidaknya akan menjadi suatu hiburan serta manfaat tersendiri bagi masyarakat.

 

Semoga saja, keadaan kejepit krisis kelistrikan di Sumut ini, bisa mendorong kota Medan untuk menyempurnakan kota metropolitan dengan mengimplementasikan tenaga matahari ke seluruh fasilitas umum yang ada,cepat terealisasi. Sehingga bisa menjadi kota percontohan berbasis nuansa moderen yang ramah lingkungan untuk Indonesia dan dunia. Penulis sangat yakin implementasi solar sel merupakan massa depan kelistrikan dan secercah jalan terang mengatasi ketergantungan listrik akan bahan bakar yang kian menipis persediaannya. Amin…

 

 

Dikutip dari tulisan Ari Saputra yang merupakan Mahasiswa Fakultas Teknik Elektro UMSU dan Alumni Pers Mahasiswa Teropong

About springocean83

I'm a quiet shy man who have soft feeling but can be hot and have more attention if meet anyone who honest and have more understanding of each other. I like travelling, swimming and reading. The most bored thing for me is PARTY because I'm a personal who like peaceful and equanimity.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s