Cram Hysteria : Kewajaran atau Gejala Kejiwaan ?

Standar

Pernahkah Anda mendengar bahwa seorang penulis (katakanlah seorang penulis buku/novel bestseller) tidak dapat menulis sebuah buku karena ia dihinggapi kram pada jari-jarinya sewaktu akan menulis? Berkaitan dengan kasus tersebut, sewaktu mengajar, saya pernah mendengar pernyataan siswa yang mengeluhkan bahwa jari-jarinya terasa kaku saat menulis.

 

Sontak pernyataan itu membuatku berpikir apakah benar prnyataan itu atau malah hal itu hanyalah sebuah alasan agar ia tidak dimarahi karena tidak dapat menuangkan ide dalam sebuah tulisan.

 

Pada umumnya menulis bukanlah pekerjaan yang mudah sebab menulis merupakan bidang pekerjaan yang membutuhkan pengetahuan yang kompleks. Menulis bukanlah sebatas menggoreskan kata/kalimat yang indah dalam bentuk lambang/huruf. Akan tetapi, lebih dari itu menulis sendiri akan bermakna bila si penulis menulis dengan “hati” dan si pembaca dapat memahami dengan “hati” pula. Maksudnya, sebuah tulisan akan bermakna manakala si penulis seolah dapat bercerita langsung kepada si pembaca. Ibarat dua orang yang bersahabat, penulis adalah orang yang curhat, sedangkan si pendengar curhat adalah si pembaca sendiri.

 

Sebegitu rumitnya syarat untuk menuliskan sebuah ide sehingga adakalanya seorang penulis tidak akan selamanya produktif untuk menulis. Terkhusus bagi mereka yang sudah menjadikan profesi menulis sebagai bidang profesionalnya untuk “mencari nafkah”. Ia tentunya akan lebih berusaha keras daripada orang yang hanya sebatas menuangkan ide dalam tulisannnya sebagai sebuah alternatif atau hanyalah untuk mengisi waktu yang luang.

 

Oleh sebab itu, kita dapat melihat bahwa sehebat apa pun penulis pastinya ia pernah mengalami masa-masa tidak produktif. Ketidakproduktifan itu tentu ada penyebabnya. Salah satunya sering dikaitkan dengan suatu gejala kejiwaan yang bernama cram hysteria. Sebenarnya, cram hysteria termasuk jenis neurasthenia yaitu salah satu gangguan jiwa yang cukup lama dikenal dengan sebutan penyakit saraf.

 

Penyakit ini lebih mengarah pada si penderita yang merasa payah, ketidakstabilan kejiwaan, gelisah, dan yang terpenting adalah pertentangan antara batin dan persaingan (Ardani dan kawan-kawan)., 2007:24-25). Sementara itu, cram hysteria lebih merujuk pada tekanan perasaan yang seringkali terjadi pada penulis yang mencari penghidupan melalui tulisannya. Karena menulis adalah sumber penghasilannya, kadang-kadang ia akan mengalami kram pada jari-jarinya sehingga ia tidak mampu untuk menulis. Akan tetapi, pekerjaan lain masih dapat ia lakukan. Saat ia merasa bahwa tulisannya tidak mendapat sambutan banyak orang, saat itulah ia akan mengalami kram pada jari-jarinya. Dengan kata lain, ia mungkin sudah berusaha keras untuk menulis sesuatu yang dianggapya sebuah ide yang cemerlang. Namun, bagi orang lain ide itu sudah biasa/umum.

 

Menulis dan Otak

 

Berbicara menulis memang tidak akan bisa dilepaskan dari struktur otak manusia. Sebab otak adalah seluruh inti/pusat motor manusia, menulis tentunya akan berkaitan erat dengan sistem tersebut. Salah satu bukti nyata hubungan antara menulis dengan otak adalah saat proses berpikir. Melalui berpikir maka ide-ide yang cemerlang dapat dituliskan ke dalam sebuah tulisan. Lebih lanjut lagi, di dalam otak menusia itu memiliki lokus bahasa yang khusus sebagai tempat untuk keterampilan menulis dan bahkan bentuk-bentuk keterampilan lainnya.

 

Oleh karena itu, sebenarnya kita semua sudah dianugerahi kemampuan itu hanya saja tidak benar-benar mengolah/mengasah kemampuan menulis tersebut. Lagi-lagi pepatah belakang parang yang tumpul sekalipun jika terus diasah akan tajam ternyata benar apa adanya.

 

Mengapa Siswa Sulit Menulis?

 

Terlepas seorang gurunya sulit untuk “menulis”, peserta didik juga seringkali mengeluh bahwa ia tidak dapat menulis. Jika diminta mereka memilih antara menulis dan berbicara, mereka lebih senang berbicara daripada menulis. Tidak tahu kebenarannya apakah memang kemampuan menulis itu ada hubungannya dengan budaya kita yang lebih senang berbicara daripada menulis. Namun, banyak ahli yang mengatakan bahwa budaya literasi masyarakat Indonesia umumnya masih relatif rendah jika dibandingkan budaya berbicaranya.

 

Mungkin ada benarnya juga mengingat bahwa tradisi lisan di Indonesia lebih dahulu melekat secara berabad-abad daripada sistem tulisannya. Oleh karena itu, bisa jadi sebuah hubungan kausalitas sulitnya siswa untuk menulis. Namun, tanpa mengesampingkan fakta di atas, tentunya banyak faktor yang turut andil menyebabkan siswa sulit menulis. Faktor yang terpenting mungkin faktor dari guru dan ada pada diri siswa itu sendiri.

 

Penulis pernah mengalami masa-masa di mana guru bahasa Indonesia lebih tidak bersahabat daripada guru MIPA. Mengapa saya berkata demikian? Alasannya adalah guru tersebut sering mengatakan dan menuntut kami (siswa) harus mampu menulis. Namun, ketika sudah dihasilkan sebuah tulisan, guru tersebut tidak pernah memeriksa baik-buruknya tulisan kami. Bahkan lebih parah lagi, guru tersebut malah tidak pernah menghasilkan sebuah tulisan (buku, artikel, atau semacamnya).

 

Barangkali hal itulah yang menjadikan beban dan tekanan batin yang cukup mendalam sehingga ketika dipaksa untuk menulis rasa-rasanya jemari sulit atau bahkan enggan untuk menulis. Jangan-jangan hal inilah yang dirasakan kebanyakan siswa pada zaman kekinian sehingga tidak mampu untuk menulis. Mereka lebih banyak mengeluh apabila sudah berhadapan dengan keterampilan menulis. Mungkin ide dalam pikiran mereka sudah ada, tetapi mereka sulit untuk menuliskannya.

 

Tanpa terlalu cepat menyimpulkan, sulitnya siswa untuk menulis dimungkinkan karena ia sedang mengalami cram hysteria. Meskipun mereka tidak menjadikan menulis sebagai mata pencaharian, ia tetap bisa saja mengalamai gejala itu. Terlebih lagi saat tuntutan guru semakin mendominasi siswa. Kondisi demikian akan menyebabkan siswa akan merasa terbebani secara batin. Seyogianya, guru harus lebih arif manakala siswa tidak dapat menuliskan idenya dalam sebuah tulisan.

 

Oleh karena itu, jika ada siswa yang mengeluhkan sulitnya menulis oleh karena jari-jarinya kram, kemungkinan itu tanda-tanda bahwa ia sedang mengalami cram hysteria. Kita tidak boleh menertawainya atau bahkan memarahinya dengan menyebut gejala itu adalah sebuah alasan semata.  Pasalnya bisa jadi siswa tersebut sedang mengalami peperangan batin dengan akal sehatnya sehingga perintah otak untuk menulis tidak sejalan dengan gerakan jari-jarinya.

 

Guru harus Mengenali Siswa

 

Guru harus mampu mengenali kepribadian anak. Terkhusus lagi bagi guru bahasa Indonesia yang selama ini lebih mendapat respons negatif dari siswa. Hal itu jelas nyata kita lihat pada hasil nilai UN dari tahun-tahun sebelumnya yang selalu mata pelajaran bahasa Indonesia lebih rendah daripada mata pelajaran lainnya. Lebih ironi lagi bahwa nilai bahasa Inggris lebih tinggi daripada nilai bahasa Indonesia.

 

Oleh sebab itu, lebih arif lagi bahwa kita sebagai guru  harus mampu mengenali kepribadian siswa yang termasuk di dalamnya harus memahami apakah cram hysteria adalah hal yang wajar pada siswa ataukah sebuah gejala kejiwaan yang sedang dihadapi siswa dalam kesulitan  mereka menuliskan idenya dalam sebuah tulisan.

 

Dengan demikian, guru akan lebih bijak menyampaikan sebuah pembelajaran terutama dalam hal mengajarkan keterampilan menulis. Menulis jangan dijadikan sebagai momok yang menakutkan, tetapi jadikan hobi yang lebih indah dari setangkai bunga mawar merah, sebab dengan menulis kita dapat berimajinasi secara bebas tanpa ada hambatan apa pun.

Iklan

About springocean83

I'm a quiet shy man who have soft feeling but can be hot and have more attention if meet anyone who honest and have more understanding of each other. I like travelling, swimming and reading. The most bored thing for me is PARTY because I'm a personal who like peaceful and equanimity.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s