Mahasiswa dalam Teror Pengangguran Intelektual

Standar

Wisuda, suatu prestasi dambaan bagi seluruh mahasiswa bahkan juga orangtuanya. Setelah bergelut, menempuh dunia akademik dengan dinamika kampus beberapa tahun, rasa suka cita tercurah seketika hingga beberapa hari setelah prosesi seremonial itu. Setidaknya itulah yang dirasakan 1481 total mahasiswa pasca sarjana, sarjana, dan ahli madya UMSU yang wisuda pada 12-13 Mei 2014 lalu.

 

Setelah mendapat gelar akademik beberapa hari, biasanya Si Eks Mahasiswa menjalankan berbagai rencana, seperti jalan-jalan, memilih universitas baru untuk melanjutkan studinya, dan yang paling banyak adalah rencana mencari kerja.

 

Hal terakhir inilah yang membuat Si Eks Mahasiswa merasakan rasa gelisah, gundah gulana karena sulitnya mencari kerja di Indonesia. “Selamat masuk ke kejamnya dunia” kata sebahagian orang. Karena nyatanya, banyak diploma maupun sarjana menganggur bertahun-tahun setelah lulus.

 

Seperti yang terjadi dijelang akhir tahun 2013 silam, diakui Menteri Tenaga kerja dan Transmigrasi (Menakertrans), Muhaimin Iskandar yang mengatakan, 610 ribu dari total 7,17 juta pengangguran terbuka di Indonesia, adalah “pengangguran intelektual” atau dari kalangan lulusan universitas. (Tribunnews.com)

 

Namun jikalau hendak melihat kenyataannya lebih mendalam, bukan hanya itu saja problemanya. Tak jarang gelar sarjana yang disandang Si Eks Mahasiswa hanya hiasan, karena kebanyakan yang telah bekerja pun menyimpang dari jurusan akademiknya sewaktu kuliah, seperti dari jurusan keguruan (S.Pd) menjadi wartawan, jurusan pertanian (S.P) ke bank, dan lain-lain.

 

Angka dan fakta ini cukup memprihatinkan, tampaknya perhatian serius pemerintah akan nasib Si Eks Mahasiswa sangatlah kurang, bagaimana dengan peluang bekerja yang tidak menempuh sarjana? Padahal pemerintah hanya menaruh target minimal pendidikan 12 tahun, tapi setelah itu apa yang dilakukan pemerintah untuk menekan angka pengangguran yang kian meningkat seiring jumlah penduduk yang meningkat? Ini menjadi PR besar yang harus segera diselesaikan pertama oleh pemerintahan baru nantinya.

 

Peran Pemerintah dan Perguruan Tinggi

 

Pemerintah dan perguruan tinggi sedikit banyaknya bertanggung jawab akan teror pengangguran intelektual ini, jangan biarkan tangisan bahagia sewaktu wisuda hanya beberapa waktu berselang berganti dengan tangisan kekecewaan akan minimnya dukungan dan sulitnya mencari lapangan pekerjaan di negeri ini.

 

Negara Indonesia katanya negara kategori “berkembang”, dengan kata “berkembang” seharusnya memerlukan banyak orang/tenaga ahli/pemikir untuk dapat mengembangkan negara tersebut. Untuk itu, perguruan tinggi harus menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang cerdas serta berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui ilmu pengetahuan dan budaya yang dikembangkannya.

 

Di pihak lain, pemerintah serta dunia industri tentunya perlu mendukung perguruan tinggi dalam menjalankan perannya itu. Jadi tidak hanya pendidikan yang berorientasi terhadap pusaran kampus saja, tetapi juga mengabdikan ilmunya kemasyarakat, seperti yang diimpikan sebahagian besar mahasiswa.

 

Namun menurut hemat penulis, sepertinya koordinasi antara perusahaan/industri dengan kampus pun sangatlah minim ataupun tidak ada sama sekali. Hal ini penulis katakan berdasarkan pengalaman pribadi sewaktu Praktek Kerja Lapangan (PKL) di suatu perusahaan. kebanyakan pelajaran ataupun studi yang diajarkan di kampus justru tidak dipakai di perusahaan tersebut.

 

Di zaman yang kian moderen ini, sudah sebaiknya koordinasi pihak kampus/pendidik menyusaikan ataupun bertanya yang dibutuhkan di dunia kerja itu bagaimana, bukannya asyik mengganti kurikulum yang nyatanya tidak tepat sasaran dan hanya berjalan di tempat saja.

 

Herannya, meskipun jumlah penggangguran intelektual tinggi serta tumbuh kembang Perguruan Tinggi Negeri (PTN) sangat minim, herannya Perguruan Tinggi Swasta (PTS) menjamur dan kian banyak saja, bahkan ternyata banyak PTS yang terkesan abal-abal alias asal-asalan.

 

Seperti yang diberitakan harian Analisa 18 Maret 2014 lalu, bahwa Koordinator Kopertis Wilayah I Prof. Dian Armanto menyebutkan 262 PTS di Sumatera Utara (Sumut) 100-an di antaranya masuk dalam kategori tak sehat.

 

“Informasi mengenai perguruan tinggi ini dapat diperoleh dari situs Pangkalan Data Pendidikan Tinggi dengan alamat forlap.dikti.go. id. Sebab perguruan tinggi yang bermutu salah satunya ditentukan oleh terpenuhinya Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SNPT),” ujarnya.

 

Jikalau standarnya saja tak dapat dipenuhi, khawatirnya pendiri kampus hanya mencari keuntungan materi semata. Maka wajar perguruan tinggi di dalam negeri ini dipandang sebelah mata, bahkan tak dipandang sama sekali. Dengan lebel pendidikan namun berorientasi mahasiswa sebagai komoditas, jadi universitas ibarat industri dan mahasiswa kelaennya, pendidikan yang diperjual belikan ibarat jasa.

 

Lulusan Luar Negeri Masih Menjadi Pilihan

 

Demi menyiasati hal demikian dan kurang mendukungnya pendidikan di Indonesia, tak heran kebanyakan orang Indonesia yang memiliki uang lebih ataupun memang sangat niat belajar memilih mengejar pendidikan ke luar negeri, mau secara beasiswa ataupun uang pribadi. Sudah banyak contoh tokoh besar, salah satunya Presiden RI ke-3, BJ. Habibie.

 

Berdasarkan data statistik Unesco, jumlah pelajar di Indonesia yang melanjutkan studi ke luar negeri terus mengalami pertambahan sejak tahun 2000 yang hanya 200 ribuan pelajar meningkat tajam hingga pada tahun 2011 mencapai 550 ribuan pelajar. (Sumber data: http://stats. uis.unesco.org.)

 

Benar saja, luar negeri masih menjadi negara favorit di hati para pelajar Indonesia. Bagaimana tidak, para pemuda bangsa yang ingin melanjutkan studi di luar negeri sangat antusias karena dibayang-bayangi kualitas, fasilitas, dan siapa yang tak bangga jika bisa berkuliah di universitas luar negeri, apalagi universitasnya mendominasi rangking universitas terbaik dunia.

 

Selain itu, para lulusan universitas luar negeri kemampuannya pun tidak diragukan lagi, begitu tamat kuliah, kembali ke Indonesia dengan kemungkinan besar diterima bekerja di perusahaan negeri ataupun swasta di Indonesia, bahkan mendapat jabatan tinggi. Dan pendidikan asli Indonesia pun menganggur atau berada jauh jabatannya dilulusan pendidikan luar negeri tadi.

 

Kerja Keras

 

Membangun bangsa, tak sekiranya hanya diawali dengan pendidikan yang baik dan merata, namun juga harus memperhatikan atau memikirkan lapangan pekerjaan untuk mendukung pendidikannya. Maka dari itu, seharusnya rumah produksi SDM intelektual bernama pendidikan dapat berjalan sesuai kebutuhan pasar, zaman dan dapat menjunjung tinggi tridharma perguruan tinggi serta memiliki visi mencerdaskan bangsa.

 

Penulis yakin, bahwa SDM Indonesia manusia pintar yang mampu bersaing ditingkat Internasional, terbukti seringnya pelajar Indonesia juara pada kejuaraan dunia. Yang memprihatinkan adalah dukungan negara yang tidak maksimal, terlihat dari mobil listrik yang dibuat orang asli didikan Indonesia yang dibanggakan Dahlan Iskan (menteri BUMN) tak dapat berjalan, padahal maksud dan tujuannya jelas. Ironinya kini, si pembuat harus kembali ke negeri orang untuk memajukan negara tersebut.

 

Harapannya untuk kepemerintahan yang baru, banyak mencanangkan dan merealisasikan lapangan pekerjaan. SDM Indonesia pun wajib dibudidayakan dengan baik dan maksimal. Sehingga paling tidak, tidak perlu menggunakan orang asing untuk megelola proyek-proyek yang ada, cukup memanfaatkan orang asli didikan Indonesia.

 

Si Eks Mahasiswa juga harus dituntut bekerja ekstra keras dengan mengambil segala peluang kerja yang ada, jangan terlalu banyak memilih. Inilah Indonesia yang berkembang. Butuh kerja keras. Semoga angka pengangguran dapat berkurang dan mahasiswa tidak dalam teror pengangguran intelektual kedepannya. Amin.

 

 

Dikutip dari tulisan Ari Saputra yang merupakan Mahasiswa Fakultas Teknik UMSU dan Alumni Pers Mahasiswa Teropong

About springocean83

I'm a quiet shy man who have soft feeling but can be hot and have more attention if meet anyone who honest and have more understanding of each other. I like travelling, swimming and reading. The most bored thing for me is PARTY because I'm a personal who like peaceful and equanimity.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s