Pendidik dan Masalah Kependidikan

Standar

“…… Hanja goeroe jang benar-benar Rasoel Kebangoenan dapat membawa anak kedalam alam kebangoenan. Hanja goeroe jang didadanja penuh dengan djiwa kebangoenan dapat “menoeroenkan” kebangoenan kedalam djiwa anak”. (Soekarno, Menjadi goeroe di masa kebangoenan, 1963).

 

Berbicara mengenai pendidikan memang tidak akan pernah ada habisnya. Bukan karena pendidikan Indonesia yang sudah maju, melainkan sebaliknya. Pendidikan di Indonesia selain belum merata hingga ke daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) juga seolah bergeser dari esensinya.

 

Oleh karena itu, untuk kembali meningkatkan mutu pendidikan sekurang-kurangnya memerlukan tiga hal diantaranya perbaikan sistem pendidikan, dana pendidikan yang memadai serta guru-guru yang berkualitas. Dari ketiganya, penulis akan lebih menyoroti betapa pentingnya peran guru dalam pendidikan.

 

Sumber Masalah

 

Tak dapat dipungkiri, guru merupakan bagian penting dalam memajukan pendidikan. Jika kita masih ingat pada dekade 1960-1970, Negara Malaysia sempat mengimpor banyak guru dari Indonesia. Hal itu menjadi tonggak sejarah kemajuan pendidikan di Malaysia, hasilnya dapat terlihat saat ini bahwa pendidikan di Malaysia mampu melampaui Indonesia.

 

Sebaliknya apa yang terjadi dengan Indonesia? Pendidikan Indonesia faktanya mengalami kemunduran dan semakin tertinggal dari Malaysia. Indonesia yang pada era tersebut banyak mengirimkan tenaga-tenaga ahli seperti guru, dokter dan insinyur, kini hanya dapat mengirimkan tenaga non formal seperti asisten rumah tangga.

 

Indonesia seharusnya sadar akan hal ini. Negeri ini harus segera bangkit agar tidak semakin tertinggal dengan Negara-negara lain terkhususnya di Asia. Selain memperbaiki sistem dan memaksimalkan penggunaan anggaran pendidikan, guru-guru yang berkualitas harus disiapkan.

 

Dalam filosofi Jawa, Guru adalah yang diguru dan ditiru, ujung tombak dan mata rantai keberhasilan sebuah pendidikan. Untuk mencapai keberhasilan pendidikan yang mencakup delapan standar nasional pendidikan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, guru harus memiliki kualitas. Kualitas seorang guru tidak hanya dipandang dari segi wawasan intelektual, tetapi hal yang terpenting adalah bagaimana caranya menyebarkan wawasan keilmuan ketika mengajar.

 

Indonesia faktanya kini sangat membutuhkan guru-guru yang professional dan berkualitas. Syarat guru professional dan berkualitas haruslah memiliki keseimbangan kompetensi akademik dan kreativitas dalam setiap aspek pembelajaran dan pembentukan karakter siswa.

 

Cara mengajar yang membosankan adalah kendala yang sering tidak teratasi, bahkan, cenderung diabaikan. Guru setelah berpuluh tahun mengajar seakan kehilangan gairah untuk mengolah potensi-potensi yang ada.

 

Oleh karenanya, jika tugas mendidik jadi membosankan dan sekedar rutinitas, maka siswa akan kehilangan sumber keilmuan dari guru. Tujuan siswa agar mendapat ilmu sebagai bekal masa depan menjadi berlawanan dengan esensi pendidikan itu sendiri. Inilah yang menjadi Pekerjaan Rumah bagi guru, sebab proses pembelajaran yang kurang menarik membuat daya serap siswa pada pelajaran tidak optimal.

 

Panggilan Hidup

 

Guru seharusnya dapat memadukan kreatifitasnya dan memanfaatkan media apapun dalam mengajar. Hal itu penting agar belajar tak hanya sekedar menjadi rutinitas.

 

Namun celakanya, kreatifitas seolah menurun dan penggunaan media belajar jarang digunakan. Cara mengajar guru di kelas dinilai masih minim dalam penerapan nilai-nilai demokrasi. Hal ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan murid menonjol dalam hafalan, tetapi lemah dalam penalaran (Kompas, 21/4/14).

 

Ironisnya, hasil penelitian terhadap “Potret Profesionalitas Guru Kota Yokyakarta dalam Kegiatan Belajar-Mengajar” yang dilakukan jaringan penelitian pendidikan kota Yogyakarta (JP2KY) pada tahun 2010 menunjukkan 75 persen guru peserta penelitian belum menggunakan media pembelajaran dalam mengajar.”

 

Kini, rutinitas yang membosankan itu menjadi penghambat untuk proses membangun kecerdasan bangsa dan meningkatkan mutu pendidikan. Oleh karena itu, perlu adanya kesadaran untuk menjadi guru kreatif dan professional.

 

Setiap guru hendaknya perlu melihat kembali motivasinya ketika menjadi guru. Guru pada hakikatnya harus memiliki panggilan hidup dan sadar bahwa menjadi seorang tenaga pendidik adalah keinginan hati. Dengan demikian guru akan tetap memiliki api semangat dan rela mendedikasikan hidupnya. Selain itu, problematika dalam mengajar akan dapat diatasi dengan menghasilkan langkah terbaik mengajar yang tak bosan-bosan.

 

Seseorang yang menjadi guru karena panggilan atau keinginan hatinya berarti ia memiliki perasaan dan naluri untuk berpartisipasi memperbaiki dan memperbaruhi dunia pendidikan. Ia ikut menyumbangkan tenaga dan pemikirannya untuk memperbaiki ketidakberesan pondasi sistem pendidikan.

 

Setiap apa yang kita kerjakan apabila itu terpusat pada Tuhan, maka akan berusaha memberi yang terbaik sehingga hasilnya maksimal. Begitu pula, dalam hal mengajar, apabila seorang guru terpola dalam benaknya, bahwa yang dikerjakan semua untuk Tuhan dan bukan semata untuk materi, maka tujuan untuk mencerdaskan anak bangsa pun dapat tercapai dengan mudah.

 

Hal itu patut disadari, sebab pada prinsipnya, guru yang berdedikasi adalah guru yang dianggap sebagai sosok penting dan menyenangkan oleh siswanya. Sekalipun seorang guru menunjukkan kemarahannya dengan memberikan hukuman pada siswanya, namun siswa tidak akan membencinya melainkan mengapresiasi guru tersebut.

 

Guru hendaknya mempunyai kemauan untuk menyelami siswanya, sehingga siswa merasa nyaman dan senang belajar. Guru yang baik biasanya memiliki motivasi dalam upaya menggali potensinya sehingga tidak membosankan. Guru yang baik akan selalu mempersiapkan terlebih dahulu sejumlah pengetahuan (bahan ajar) dan metode pembelajaran yang sesuai bahkan media pembelajaran yang menunjang. Maka transfer pengetahuan dari guru kepada siswa pun berjalan dengan baik, berkesan dan berbobot.

 

Pada akhirnya, mengajar dengan niat yang tulus dan tanpa rasa bosan, pasti bisa teratasi dengan baik, Apabila segalanya dimulai dari hati. Menggali terus potensi intelektual, belajar kreatif dan mampu menciptakan pembelajaran yang memudahkan siswa menerima materi harus diutamakan.

 

Penting untuk dipahami bahwa proses yang menyenangkan serta ditunjang pula dengan strategi mengajar sang guru yang tepat dan efektif akan sangat bermanfaat bagi siswa-siswi. Dengan demikian, pembelajaran yang berkesan akan membuat peserta didik lebih paham dan lebih kreatif. Oleh karena itu, mutu pendidikan Indonesia pun dapat terus meningkat dan berjalan beriringan dengan kesejahteraan. Semoga.

 

 

Dikutip dari tulisan Rohani Elita Simanjuntak yang merupakan Pendidik dan Pemerhati Masalah Pendidikan

 

 

Iklan

About springocean83

I'm a quiet shy man who have soft feeling but can be hot and have more attention if meet anyone who honest and have more understanding of each other. I like travelling, swimming and reading. The most bored thing for me is PARTY because I'm a personal who like peaceful and equanimity.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s