Mimbar Agama Buddha : “HIDUP ADALAH” Ibarat Disebuah Medan Peperangan

Standar

Oleh : Y.M Bhikkhu Aggacitto

 

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa,

 

Salah satu pesan terakhir Sang Buddha sebelum beliau Maha-Parinibbana (Wafat) yang dituliskan dalam kitab Digha Nikaya; 16.Maha Prinibbana Sutta, yaitu; “Ananda, Jadikanlah dirimu sebagai pulaumu, jadikanlah dirimu sebagai perlindunganmu, dan jangan pernah mencari perlindungan lain. Jadikanlah Dhamma sebagai pulaumu, jadikanlah Dhamma sebagai perlindunganmu dan jangan pernah mencari perlindungan lain, dan ingatlah selalu segala sesuatu yang ada didunia ini pada akhirnya akan mengalami kehancuran, maka dari itu berjuanglah dengan sungguh-sungguh (Handa dani bhikkhave amantayami vo vaya dhamma sankhara appamadena Sampadetha).

 

Dari sabda yang telah beliau uraikan tersebut, tersirat makna yang dapat kita jadikan renungan bersama bagi kita semua, bahwa; Buddha mengingatkan dan mengajarkan kepada kita, segala sesuatu yang berhubungan dengan kelangsungan hidup kita, sesungguhnya juga ada di dalam diri kita masing-masing, semuanya kita sendirilah yang menjadi arsiteknya dan apapun yang kita miliki juga tidak ada yang abadi. Tercapainya kesuksesan atas semua harapan dan keinginan yang telah menjadi cita-cita, tercapainya ketenangan dan kedamaian hidup, baik di dalam keluarga maupun di dalam lingkungan kita berada, dan tercapainya kebahagiaan duniawi maupun kebahagiaan surgawi semuanya adalah karena diri kita sendiri. Akan tetapi karena ketidaktahuan (moha) di dalam diri kita yang begitu besar, sehingga akhirnya semua itu kita abaikan.

 

Manusia sesungguhnya adalah salah satu makhluk yang memiliki kesempurnaan jika dibandingkan dengan makhluk – makhluk lainnya, tetapi pada kenyataannya masih banyak yang tidak mengerti akan hal itu, sehingga ia tidak mampu mengoptimalkan dirinya secara maksimal. Manusia sebenarnya memiliki kekuatan yang sangat luar biasa, sayangnya keyakinan dan kepercayaan itu sangat lemah sekali. Jika kita mau memperhatikan dan merenungkan sejenak, maka kita akan mengetahui bahwa betapa lebih baiknya sekumpulan “SEMUT”, mereka tidak pernah mengenal kata mengeluh di dalam segala hal, mereka tetap selalu berusaha dengan penuh semangat, meskipun mereka tergolong binatang kecil yang memiliki banyak kekurangan, tetapi mereka memahami hal itu sehingga mereka dapat bekerjasama satu sama lain tanpa ada rasa saling bermusuhan atau persaingan, mereka bersama-sama bahu-membahu demi mewujudkan hal yang menguntungkan dan membahagiakan bagi sekumpulan mereka. Mereka memiliki sikap yang mulia dengan cara tidak mau menang-menangan sendiri dan mencari keuntungan sendiri di dalam kelompoknya.

 

Hal tersebut sesuai dengan yang disabdakan oleh Buddha “Sukhakamani bhutani yo dandena vihimsati attano sukhamesano pecca so na labhate sukham; barang siapa yang mencari kebahagian dari dirinya sendiri dengan jalan menganiaya makhluk lain yang juga mendambakan kebahagian, maka setelah mati ia tak akan memperoleh kebahagiaan” (Dpd. Danda Vagga; X-131). Bahkan seekor kumbang saja tidak hanya mencari dan menggambil keuntungan dari sari bunga yang telah ia ambil, tetapi ia juga membantu proses penyerbukan bunga tersebut. “Lebah tidak pernah merusak kuntum bunga, baik warnanya maupun baunya; Yathapi bhamaro puppham vannagandham ahethayam paleti rasamadaya; (Dhp.49)”.

 

Jika dibandingkan dengan manusia tentu sungguh amat jauh berbeda, meskipun kita memiliki segala sesuatu yang tidak dimiliki “SEMUT”, kita masih saja suka mengeluh dan selalu bersikap manja dengan menggantungkan semuanya kepada sesuatu yang di luar dari diri kita sendiri (*jika tidak puas pun kita menyalahkan dan mengkambinghitamkan orang lain atau bahkan BUDDHA… DEWA… TUHAN…,  sungguh ironis sekali), bahkan pola pikir rasional kita terkadang mendorong untuk melakukan sesuatu dengan cara-cara yang salah, seperti; bergantung/ memuja/ menyembah kepada makhluk-makhluk lain atau bergantung kepada kekuatan black magic yang kita anggap sebagai penambah kekuatan, sebagai penyelamat, dll. Kita juga cenderung tidak mampu dengan baik untuk menyesuaikan diri dengan komunitas dilingkungan kita baik di dalam bekerjasama maupun hidup rukun harmonis bersama – sama, yang ada hanyalah saling bersaing dan saling menjatuhkan satu sama lain demi kepuasan dan kebahagiaan diri sendiri, kita masih saja melihat perbedaan (*baik dari sukuNya, rasNya, agamaNya, dll), sehingga akhirnya memperbanyak kebencian dan permusuhan terhadap sesama. Sungguh betapa lebih baiknya sekumpulan semut, jika dibandingkan dengan diri kita. Marilah kita menyadarkan diri kita dengan belajar kepada “Semut-Semut” yang ada disekeliling kita untuk menjalani kehidupan kita dengan penuh semangat juang yang baik yang sesuai dengan ajaran Buddha demi mewujudkan kebahagiaan bagi kehidupan kita semua. Berpikirlah positif dan selalu kreatif, jangan pernah pasif tetapi cobalah untuk selalu aktif.

 

Kayirace kayirathenam dalhamenam parakkhame

“Hendaknya seseorang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati” (Dpd. 313) niscaya semua akan indah pada akhirNya.

 

 

Sadhu… Sadhu… Sadhu…

Sabbe Satta Bhavantu Sukkhitata

Semoga semua makhluk turut berbahagia, Sadhu…

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s