Mengubah Perilaku Mempergunakan Air Menyelamatkan Lingkungan

Standar

Mengubah perilaku manusia dalam pemakaian air berhubungan erat dengan upaya menyelamatkan lingkungan hidup dan mengubah perilaku manusia dalam pemakaian air. Penentunya ada pada faktor psikologis atau kejiwaan dari manusia itu sendiri.

 

Faktor kejiwaan yang harus diubah bahwa anggapan air itu adalah gratis, tidak benar. Akibat adanya anggapan bahwa air itu adalah gratis maka muncul perilaku manusia yang boros mempergunakan air. Anggapan ini harus diubah sehingga perilaku manusia dalam mempergunakan air berubah.

 

Faktanya, hari ini air harganya sudah sama dengan bensin dan pada satu ketika bisa harga air lebih mahal dari bensin. Anggapan bahwa air itu gratis mengakibatkan banyak manusia boros dalam pemakaian air. Mengubah perilaku manusia yang cenderung boros mempergunakan air tidaklah mudah akan tetapi bisa dengan membangun kesadaran bahwa dengan hemat dalam pemakaian air berarti telah menyelamatkan lingkungan.

 

Di samping mengubah perilaku juga mencari teknologi hemat dalam pemakaian air yang baik dan benar. Tidak semua teknologi sekarang ini ternyata hemat dalam pemakaian air. Contohnya pada kamar mandi di hotel berbintang acapkali penulis lihat menyediakan kertas sebagai pembasuh. Secara kasat mata hemat air, akan tetapi justru sebaliknya mempercepat rusak sumber air yakni untuk memproduksi kertas berapa ratus kubik kayu di hutan harus ditebang sehingga hancur hutan alam.

 

Bila hutan alam sudah hancur maka sumber air atau wilayah penyimpanan air akan hilang akibatnya persediaan air berkurang dan bencana longsor, bencana banjir bandang mudah terjadi yang mengancam nyawa manusia dan harta benda. Mempergunakan kertas atau tissu pada kamar mandi bukan cara menghemat air yang benar dan sebaliknya menghancurkan sumber air.

 

Harus dicari teknologi penghematan pemakaian air yang baik dan benar. Kini banyak dilakukan inovasi dalam menghemat pemakaian air dengan mempergunakan teknologi, terutama dilakukan pada daerah perkotaan dan pada sejumlah hotel, perumahan, perkantoran, kampus dan lainnya dengan tujuan apa bila dilakukan penghematan air maka pengeluaran akan berkurang.

 

Teknologi Versus Perilaku

 

Pengamatan penulis kini sudah ada teknologi penghematan pemakaian air meskipun penentunya masih pada perilaku manusia itu sendiri dalam mempergunakan air akan tetapi dengan teknologi itu minimal dapat mengingatkan manusia untuk hemat dalam mempergunakan air.

 

Teknologi yang sederhana seperti kran air pada washtafel (tempat cuci tangan) kini dimodefikasi dengan teknologi hemat air yakni dengan cara kran akan mati secara otomatis. Kran air akan mengalir bila tangan diarahkan pada lubang kran dan kran air akan mengalir dengan jumlah yang telah ditentukan untuk kebutuhan mencuci tangan. Teknologi ini baik, tapi terkadang kalah dengan perilaku manusia yang kembali mengarahkan tangannya pada lubang kran dan air kembali mengalir. Kondisi ini memperlihatkan bahwa perilaku manusia yang lebih menentukan dalam pemakaian air.

 

Teknologi lain dalam penghematan pemakaian air dengan mendisain kamar mandi tanpa memiliki bak air, karena dengan memakai bak air maka mandi akan memakai gayung. Ketika mandi mempergunakan gayung akan terjadi pemborosan dalam pemakaian air. Kamar mandi tidak memiliki bak air akan tetapi memiliki shower (air pancuran) sehingga pemakaian air ketika mandi tidak boros.

 

Pemakaian shower (air pancuran) akan menghemat pemakaian air akan tetapi baru berhasil apa bila perilaku manusia diubah bahwa air itu tidak gratis karena meskipun pakai shower bila menilai air itu gratis akan terjadi juga pemborosan.

 

Perilaku hemat mempergunakan air harus ditanamkan pada setiap orang dan selalu diingatkan bahwa air itu tidak gratis. Air yang berasal dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) sudah pasti memiliki tagihan pemakaian air setiap meter kubik yang dipergunakan. Bukan saja air yang berasal dari PDAM tidak gratis akan tetapi air bersih dari Sumur juga tidak gratis. Sudah pasti ada biaya ketika pembuatan Sumur dan apa bila air Sumur dipompa membutuhkan mesin pompa air yang harus dibeli dan dalam mengoperasikannya membutuhkan listrik atau bahan bakar minyak yang tidak gratis.

 

Bila air Sumur tidak mempergunakan mesin pompa, harus membeli ember timba dan dalam operasionalnya membutuhkan tenaga dan waktu. Jadi tidak juga gratis. Bila memperoleh air bersih dari sungai, telaga dan danau juga tidak gratis karena membutuhkan tenaga dan waktu untuk mendapatkannya.

 

Kondisi ini harus selalu ditanamkan sehingga anggapan air itu gratis akan hilang dan bila anggapan itu telah hilang maka akan muncul perilaku hemat dalam pemakaian air. Penulis berharap dengan tulisan ini juga kita (Anda) dapat merenungkan bahwa tidak benar anggapan bahwa air itu gratis. Apa bila telah disadari bahwa air bersih itu tidak gratis maka hemat dalam pemakaian air akan terwujud. Air dipergunakan sesuai dengan kebutuhan dan peruntukannya.

 

Kebutuhan dan peruntukan air bagi setiap orang tidak sama dan pasti berbeda-beda. Kebutuhan air dikelompokkan kepada kepentingan dan peruntukannya. Kebutuhan air yang pokok atau wajib bagi setiap orang seperti untuk air minum, untuk kebutuhan mandi, kebutuhan mencuci pakaian, kebutuhan air untuk memasak makanan, untuk mencuci tangan setelah melakukan kegiatan, untuk berwudhu (air untuk sembahyang) bagi kaum muslim dan untuk kebutuhan lainnya.

 

Kebutuhan air yang digambarkan Abraham Maslow’s (1908-1972) dengan piramid kebutuhan air atau Hierarchy of Water Requitments menjelaskan piramida tentang kebutuhan air oleh manusia. Piramid Hierarchy of Water Requitments menunjukkan kebutuhan paling utama akan air berada pada bagian paling atas piramid yakni kebutuhan air minimal untuk bertahan hidup dalam jangka waktu pendek. Kebutuhan air minimum itu diperkirakan 20 liter per orang per hari. Angka kebutuhan minimum air per orang per hari ini menjadi alat untuk menghitung perkiraan berapa jumlah air yang dibutuhkan pada satu daerah. Caranya, mengalikan jumlah jiwa yang ada pada satu daerah dikalikan dengan tingkat kebutuhan air yang diperlukan.

 

Kebutuhan ini hanya untuk minimum, belum lagi untuk kebutuhan diatas minimum sebagaimana yang digambarkan Abraham Maslow’s pada piramida Hierarchy of Water Requitments yang dibaginya menjadi beberapa bagian, semakin bagian bawah piramida itu maka semakin besar kebutuhan akan air bersih.

 

Angka – angka pada piramida Hierarchy of Water Requitments perlu dicermati semua pihak yang menggunakan air bersih sehingga dicermati maka kekurangan pasokan air bersih, air minum tidak terjadi.

 

Bila telah dicermati secara seksama maka perilaku manusia dalam mempergunakan air akan berubah dari beranggapan bahwa air itu gratis akan menilai bahwa air itu tidak gratis. Bila perilaku mempergunakan air sudah baik dan benar maka secara otomatis perilaku manusia dalam mempergunakan air yang hemat, sesuai dengan peruntukan dan kebutuhan maka secara otomatis pula manusia itu telah menyelamatkan lingkungan.

 

 

Dikutip dari tulisan Fatimahhakki Salsabela yang merupakan pemerhati masalah psikologi lingkungan, mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Medan Area

 

About springocean83

I'm a quiet shy man who have soft feeling but can be hot and have more attention if meet anyone who honest and have more understanding of each other. I like travelling, swimming and reading. The most bored thing for me is PARTY because I'm a personal who like peaceful and equanimity.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s