Penyeruan Perlindungan Terhadap Negara-negara Pulau Kecil dari Perubahan Iklim

Standar

Memanfaatkan momen Hari Lingkungan Sedunia, PBB menyerukan tindakan terhadap perubahan iklim untuk melindungi negara-negara pulau kecil yang terancam kenaikan air laut, kemarau dan banjir.

 

Kepala iklim PBB Christiana Figueres kepada wartawan di Bonn dalam putaran baru perundingan tentang pemanasan global mengatakan bahwa PBB memiliki kabar yang sangat mengejutkan dari sains.

 

Figueres menegaskan bahwa kepekatan gas rumah kaca terus meningkat, dengan dampak paling mengancam terjadi di negara-negara pulau kecil.

 

Dalam kesempatan itu, Sekjen PBB, Ban Ki-moon menegaskan 52 negara pulau kecil di dunia menyumbang kurang dari satu persen emisi gas rumah kaca per tahun, namun mereka justru mendapati diri sendiri “ada di garis terdepan” berbagai konsekuensinya.

 

Dalam sebuah siaran pers, Ban berujar bahwa dia mendesak semua orang untuk memikirkan nasib negara – negara  berkembang pulau kecil dan mengambil inspirasi dari upaya – upaya mereka untuk mengatasi perubahan iklim, memperkuat ketahanan dan bekerja untuk masa depan berkelanjutan.

 

Ban juga berujar “Kuatkan suara Anda, bukan menaikkan level laut. Planet Bumi adalah pulau yang kita huni bersama. Ayoh satukan kekuatan untuk melindunginya.”

 

Perundingan Bonn yang berlangsung 12 hari yang dimulai Rabu (4/6/2014) berusaha mengatasi sebagian dari banyak kendala tercapai persetujuan pasca 2020 untuk menurunkan gas bahan bakar fosil pemerangkap panas.

 

Persetujuan itu, yang bertujuan membatasi pemanasan sebesar dua derajat Celsius dari level pra industri, diharapkan akan dirampungkan di Paris pada akhir 2015.

 

Namun pembicaraan itu terhalang berbagai hal pelik dan percekcokan tentang negara – negara mana yang sebaiknya menanggung sebagian besar biayanya.

 

Perundingan Bonn merupakan batu loncatan untuk sebuah pertemuan puncak iklim PBB khusus dalam September dan konferensi pengambilan keputusan tahunan pada Desember mendatang di kota Lima di bawah panji Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC).

 

Berlangsung

 

Para menteri dari tiga negara pulau kecil — Grenada, Maladewa dan Kepulauan Marshall — menegaskan negara mereka sudah merasakan dampak iklim yang berubah, utamanya instrusi air asin ke kawasan pesisir pantai dan menurunnya hasil tangkapan ikan.

 

Akibatnya, Maladewa kini terpaksa mengirim air minum ke banyak daerah hunian penduduk, ungkap Menteri Lingkungannya Abdullah Majeed. Menteri tersebut juga memaparkan bahwa hal ini menyebabkan mereka menderita kerugian jutaan dolar dan menambahkan bahwa tidak bisa mengulur – ngulur waktu lebih lama lagi dan berdebat soal isu-isu itu. Sains kini sudah sangat jelas dan semua tahu harus berbuat apa.

 

Sejawat Majeed, Roland Bhola dari Grenada mengatakan banyak penduduk pulau Karibia itu tinggal di daerah garis pantai dan mengandalkan berbagai sumber daya laut untuk kelangsungan hidup mereka.

 

Bhola mengungkapkan bahwa para nelayan di negaranya melaporkan hasil tangkapan yang semakin sedikit saja, padahal dulu begitu melimpah. Demikian juga keasinan air kini mempengaruhi kelangsungan hidup sebagian petani kami di kawasan pesisir pantai.

 

Dalam sebuah laporan yang disiarkan Kamis, Program Lingkungan PBB (UNEP menyatakan perubahan iklim dapat mengakibatkan kerugian “triliunan dolar” per tahun kepada negara – negara pulau kecil.

 

Kerusakan pantai – pantai akan menghancurkan pariwisata dan hilangnya terumbu karang akan memukul keras mata pencaharian para nelayan sehingga akan meningkatkan ketergantungan pada pangan impor.

 

Sejumlah negara pulau kecil di Pasifik barat melihat kenaikan level air laut sebesar 12 milimeter per tahun antara 1993 dan 2009 lalu, atau sekira empat kali lipat angka rata – rata global, ungkap laporan tadi.

 

Di Karibia, perairan lebih panasnya air telah menyebabkan pengapuran sekira 100 persen terumbu karang di beberapa negara pulau.

 

Laporan tadi juga menyebutkan bahwa ancaman – ancaman iklim diproyeksikan akan membahayakan jumlah terumbu karang di wilayah Karibia naik sampai 90 persen pada 2030 dan meningkat jadi 100 persen pada 2050 mendatang.

 

Jika terumbu karang dunia yang luasnya mencapai 34 juta hektare sampai musnah maka hal itu akan menyebabkan kerugian tahunan sebesar 11,9 triliun dolar, ujar UNEP dalam estimasinya.

 

Iklan

About springocean83

I'm a quiet shy man who have soft feeling but can be hot and have more attention if meet anyone who honest and have more understanding of each other. I like travelling, swimming and reading. The most bored thing for me is PARTY because I'm a personal who like peaceful and equanimity.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s