Sleep Paralysis

Standar

Pernahkah anda merasa seperti lumpuh semua anggota gerak dan badan anda secara tiba – tiba ketika sedang akan tertidur atau ketika akan terbangun, di mana anda mengira anda sudah lumpuh mendadak atau bahkan menderita stroke secara tiba – tiba  Seakan anda juga ditindih oleh “sesuatu” yang membuat anda tidak bisa bangkit dari tempat tidur anda? Atau bahkan tidak dapat berteriak minta tolong agar seseorang datang membantu anda karena merasa sesak nafas secara mendadak atau seperti dicekik sesosok makhluk ?

 

Apalagi ketika itu anda juga seperti melihat sesosok bayangan melintas disekitar anda? Tentu sebagian dari kita pasti pernah mengalaminya. Dan bagi sebagian besar orang bahkan menganggap ketika itu dirinya sedang diguna-guna, dipelet atau bahkan kerasukan “sesuatu”. Hal yg berlangsung beberapa saat ini, bagi sebagian orang, bisa saja menimbulkan suatu ketakutan tersendiri di mana ia tidak akan berani untuk tidur sendiri lagi dalam kamar.

 

Dalam dunia kedokteran, kita mengenalnya dengan sebutan Sleep Paralysis atau dalam bahasa Indonesia dapat kita terjemahkan sebagai suatu Fenomena Tindihan. Nama lain untuk menyebutkan keadaan ini bermacam-macam. Ada yang menyebutnya Sleep Parapysis, nocturnal paralysis, hypnagogic or hypnopompic paralysis, familial sleep paralysis, isolated sleep paralysis, awakening cataplexy, predormital and postdormital paralysis, disassociative experience related to sleep, protracted psychomotor awakening, an awakening phenomenon, incubus, wakening fit dan bahkan ada yang melabelinya dengan Nightmare.

 

Di berbagai negara, sebutan fenomena ini juga bervariasi seperti Old Hag (Kanada), Kanashibari (Jepang), Ghost Oppresion (China, Hongkong), Kokma (St.Lucia), Phi Um (Thailand), Hexendruchem (Jerman), Ha-wi-nulita (Korea), Ogun Oru (Nigeria), Cataplexie du reveil (Perancis), ma de (Vietnam), lidercnyomas (Hungaria), sindrom “pibloktoq” (Eskimo), Stand-stills phenomena (Inggris), karabasan (Turki) dan bahkan di Meksiko secara terang-terangan menyebutkannya sebagai Pesadilla atau “a dead body climbed on top of me”.

 

Pertama sekali terminologi sleep paralysis ini diperkenalkan oleh neurolog Inggris bernama Samuel Wilson tahun 1928 dan deskripsi yang lebih awal dijumpai di leteratur medis oleh seorang dokter Belanda bernama Isbrand van Diemerbroeck tahun 1664. Istilah hypnagogic pertama kali diperkenalkan oleh Alfred Maury. Tahun 1876, Mitchell mendeskripsikan fenomena tindihan ini sebagai night paralysis.

 

Sleep paralysis atau dapat kita sebut disini sebagai suatu fenomena “tindihan” sebenarnya merupakan suatu kondisi/keadaan di mana seseorang merasa seperti sesak nafas, tercekik, dada terasa ditekan, badan sulit digerakkan, tidak dapat memindahkan/menggerakkan anggota gerak dan tubuh meskipun sadar, sulit berteriak untuk meminta bantuan, dan biasanya disertai halusinasi seperti melihat sosok atau bayangan hitam di sekitar tempat tidur/duduk di kursinya, merasa akan mati atau mati lemas karena kekurangan oksigen (Hag Phenomena).

 

Hal ini dapat terjadi baik saat onset tidur (hypnagogic) atau sata terbangun dari tidur di malam/pagi hari (hypnopompic). Fenomena ini dapat berlangsung selama beberapa menit hingga 20 menit. Setelah berakhir biasanya tidak meninggalkan gejala sisa. Pada kejadiaan yang jarang, sensasi mati rasa atau lemas di ekstremitas masih terasa beberapa menit. Berbahayakah? Sebenarnya tidak. Ada yang mengatakan bahwa fenomena sleep paralysis ini juga merupakan suatu mekanisme normal tubuh untuk menyebabkan kita “lumpuh” untuk mencegah kita “melukai” atau mencederai diri sendiri selama mimpi. Namun, jika kondisi ini terus menerus menyertai sampai bangun, akan menjadi sebuah gangguan.

 

Sleep paralysis dapat dilihat sebagai fenomena motorik murni yang bercirikan kondisi disosiasi dimana atonia otot yang berkaitan dengan REM (Rapid Eye Movement) muncul bersamaan dengan kondisi keterjagaan dari kesadaran penuh (wakefulness state of full consciousness). Bersama REM sleep behavior disorder dan mimpi buruk (nightmares), sleep paralysis digolongkan dalam REM parasomnia.

 

Parasomnia yang dimaksud adalah kumpulan gejala yang berkaitan dengan perilaku problematik atau fenomena selama tidur. Sleep paralysis tidak dapat dipisahkan dari yang namanya gangguan tidur, nightmares ataupun narkolepsi (serangan tidur mendadak tanpa rasa ngantuk). Tidak hanya pada dewasa, gangguan tidur juga dapat dialami oleh remaja yaitu sekitar 10-40%. Mimpi buruk diketahui sering dialami oleh orang yang menderita sleep paralysis , yaitu sekitar 50-90%. Prevalensi mencapai 5-62%, namun prevalensinya di Indonesia belum diketahui dengan pasti.

 

Penyebab pasti fenomena ini belum diketahui pasti, namun dipercaya bahwa hal ini disebabkan oleh berbagai faktor pemicu seperti pola tidur yang tidak teratur, kurang tidur, perubahan waktu tidur, kondisi tubuh terlalu lelah, stres emosional. Faktor lain seperti jenis kelamin pria, kesehatan mental yang buruk, konsumsi alkohol atau sejenisnya, tidur seharian penuh, tidur awal atau terlambat atau sulit tertidur, perubahan lingkungan dan sosiokultural yang berkaitan dengan gaya hidup, dan lain-lain.

 

Menurut psikoanalitik, penderita biasanya memiliki kepribadian pasif-agresif. Dari segi neurobiokimiawi, serotonin dan asetilkolin relevan dikaitkan dengan halusinasi visual. Konsentrasi keduanya meningkat di visual thalamic nuclei dan di korteks visual. Sleep paralysis dapat merupakan bagian classical tetrad dari gejala narkolepsi (hypersomnolence, cataplexy, sleep paralysis, dan hypnagogic hallucinations). Selain itu dapat juga disertai dengan gejala – gejala lain seperti agoraphobia, insomnia, gangguan afektif bipolar, gangguan cemas, gangguan panik, sleep apnea, PTSD, sleep inertia, bahkan skizofrenia.

 

Pada pemeriksaan neurologis biasanya tidak akan dijumpai kelainan dan diagnosa sleep paralysis dapat dipastikam dengan polisomnografi. Untuk mengukur status tidur, rasa mengantuk berlebih (excessive daytime sleepiness) biasa digunakan skor Epworth Sleepiness Scale (ESS). Dan untuk menilai status kesehatan mental digunakan 12 item General Health Questionnaire (GHQ-12). Fenomena ini harus dapat dibedakan dengan keadaan lain yang hamper serupa seperti Atonic drop attacks of syncopal  nature, bangkitan epileptik generalisata atonik, discharges epileptik fokal, halusinosis peduncular, hipokalemia, insufisiensi vaskuler vertebrobasiler, katapleksi, katatonia, kesadaran berkabut sementara, narkolepsi, paralisis histerikal, paralisis periodik hipokalemia, penyakit Moyamoya, ataupun suatu gejala psikosis.

 

Obat – obatan jangka pendek yang digunakan dapat berupa golongan Benzodiazepine dengan lini pertama adalah sodium oxybate (gamma hydroxybutyrate, GHB) dengan dosis 4500-9000 mg per dosis di malam hari. Obat golongan lain seperti golongan Trisiklik Antidepresan (clomipramine), SSRI dan venlafaxine, dilaporkan juga efektif namun tidak untuk mengatasi daytime sleepiness. Obat – obatan yang disebutkan ini tentunya hanya dapat diperoleh melalui resep dan izin dari seorang dokter ahli yang telah melakukan pemeriksaan dengan cermat dan mendiagnosanya, sehingga sangat diperlukan suatu hubungan yang baik antara dokter dan pasien agar tidak sembarangan menggunakan obat-obatan tertentu dan pasien pun mau memeriksakan dirinya ke dokter terutama bila sudah sangat mengganggu. Siapapun tentunya tidak ingin mengalami fenomena yang “tidak menyenangkan” seperti ini. Bagaimanapun juga akan lebih baik jika kita dapat mencegah agar jangan sampai mengalami fenomena tersebut, mengingat gejala-gejala sleep paralysis yang sungguh tidak bisa dikatakan nyaman seperti yang disebutkan di atas.

 

Beberapa tips yang dapat digunakan untuk mencegah terhadap kejadian fenomena sleep paralysis ini dapat berupa :

1. Menciptakan suasana tidur yang nyaman seperti memperhatikan tempat tidur, bantal, lampu kamar, kebisingan, ataupun suara-suara sekitar yang mengganggu.

2. Mengatur jadwal dan pola tidur yang baik dan teratur serta membiasakannya agar tercapai suatu kebutuhan tidur yang berkualitas dan cukup. Jika anda penderita insomnia, latihlah diri anda untuk dapat tidur dengan mudah.

3. Olahraga teratur, tetapi jangan terlalu dekat dengan waktu tidur

4. Menghindari stress, kafein, nikotin dan minum minuman beralkohol

5. Menghindari obat-obat stimulansia

6. Dan yang terpenting, tetap melakukan edukasi kesehatan tentang kebiasaan tidur teratur dan pola tidur sehat agar masyarakat paham mengenai pentingnya tidur yang cukup serta berkualitas.

 

Dengan tidur yang cukup dan berkualitas serta terhindar dari fenomena sleep paralysis ini, maka kualitas hidup seseorang juga otomatis akan meningkat dan hal ini tentunya akan sangat berpengaruh terhadap aktivitasnya sehari-hari ketika terbangun.

 

 

Dikutip dari tulisan Dr. Hantono S

About springocean83

I'm a quiet shy man who have soft feeling but can be hot and have more attention if meet anyone who honest and have more understanding of each other. I like travelling, swimming and reading. The most bored thing for me is PARTY because I'm a personal who like peaceful and equanimity.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s