Membumikan Pancasila

Standar

Belakangan ini marak terjadi pelanggaran – pelanggaran yang melunturkan dan meninggalkan semangat Pancasila. Sebut saja pelecehan seksual yang terjadi di institusi pendidikan, tsunami korupsi yang kian menggurita, penegakan hukum yang timpang sebelah, konflik – konflik horizontal yang semakin subur di masyarakat, pemerataan pendidikan yang tak kunjung selesai, lahirnya gerakan – gerakan separatis yang merongrong integrasi bangsa, lingkaran kemiskinan yang kian menancap, moral bangsa yang mulai keropos serta masih banyak lagi.

 

Ini semua menjadi masalah akut yang menyelimuti bangsa Indonesia. Padahal bangsa Indonesia yang dikenal dengan bangsa yang Pancasilais, beradab dan pluralis nampaknya menjadi tak berarti. Gaung Pancasila sebagai pandangan hidup (way of life) dan ideologi bangsa kian hari kian dipertanyakan. Parahnya lagi, banyak pihak mulai mengkambinghitamkan keberadaan Pancasila. Suara – suara sumbang mulai bermunculan dalam menggugat keberadaannya. “Untuk apa ada Pancasila, ganti saja dengan ideologi yang lain”. Sejumlah kritik, hujatan dan protes kian membabibuta mempertanyakan Pancasila.

 

Baru – baru ini salah satu pimpinan partai politik mempertanyakan keberadaan Pancasila. Ketua DPP PKS Indra menyatakan asas tunggal Pancasila tidak boleh dipaksakan kepada Ormas (Organisasi Masyarakat) dengan alasan tidak sesuai dengan konstitusi yang menjamin kebebasan berserikat, berkumpul, dan berpendapat serta tidak sejalan dengan semangat reformasi. Menurut Indra, negara harus menjamin Ormas untuk menentukan asasnya sesuai dengan ciri khas organisasi itu sepanjang tidak bertentangan dengan Pancasila yang merupakan asas negara dan UUD 1945. (Republika Online, Sabtu, 12/04/2014).

 

Keparipurnaan Pancasila

 

Jujur, ketika saya membaca ini, hati saya remuk. Ironis sekali rasanya ketika seorang pemimpin malah mempertanyakan keberadaan Pancasila sebagai fondasi dan landasan sebuah bangsa. Hemat saya, selama berada di bumi Indonesia, siapapun itu harus menjunjung tinggi nilai – nilai dan semangat Pancasila sebagai dasar dan asas negara. Termasuk dengan ormas – ormas yang berkiblat keagamaan. Toh, Pancasila lahir bukan hanya untuk satu agama atau satu suku saja, tapi lahir untuk semua agama, semua suku, semua ras dan semua golongan tanpa membeda-bedakan antara satu dengan yang lain. Toh, Pancasila juga bukan agama. Dia hanya dasar dan fondasi bangsa. Jadi siapapun itu, selama ia berada di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), maka mentaati Pancasila itu wajib hukumnya. Untuk itulah, maka Pancasila mutlak sebagai rujukan dan landasan dalam hidup berbangsa dan bernegara.

 

Keluhurannya sudah menjelma dalam diri bangsa. Kendati banyak peristiwa yang tidak sesuai dengan nilai – nilai Pancasila, tapi bagaimanapun ceritanya Pancasila sudah menjadi harga mati dan tetap dipaku mati. Ini adalah harga yang tidak bisa dikompromikan lagi. Lantas, apa sesungguhnya akar masalahnya ? Dimana peran Pancasila sejatinya ? Baik. Untuk menjawab ini mestilah kita juga merefleksi diri dan berkaca pada perjalanan bangsa kita, bangsa Indonesia dari dulu hingga masa kini. Secara garis besar yang menjadi masalah tentu bukan terletak pada isi Pancasilanya atau keberadaannya, tapi individu yang mulai meninggalkan dan membenturkannya dengan kepentingan perseorangan dan hal – hal yang kontradiksi dengan Pancasila itu sendiri. Selama Indonesia ada, maka selama itu pula Pancasila akan selalu terpatri dalam diri kita masing-masing.

 

Para founding father (pendiri bangsa) kita juga dulu merumuskannya dengan penuh perjuangan dan pertimbangan. Perjalanan panjang dalam merumuskan Pancasila sebagai ideolologi dari dulu hingga sekarang memakan banyak waktu, tenaga dan pemikiran. Pun itu dirumuskan dan digodok oleh orang-orang yang terhimpun dari seluruh penjuru nusantara, dari Sabang sampai Merauke. Termasuk proklamator kita, Bapak Soekarno. Dengan proses panjang itulah, maka Pancasila hadir di tengah – tengah kita saat ini dengan rupa dan wujud yang paripurna. Keberadaan Pancasila sebagai dasar negara sudah berada pada tahap kesempurnaan.

 

Keluhuran Pancasila yang terkristalisasi dalam lima sila sejatinya bisa diaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jadi, sekali lagi letak masalahnya bukan pada Pancasilanya, tetapi kitanya yang belum sanggup sepenuhnya untuk menunaikan amanat agung dan mulia Pancasila itu. Kalau kita kembali ke belakang tentang perjalanan bangsa Indonesia sebagai sebuah Negara, kita senantiasa selalu dikawal dan dilindungi oleh Pancasila. Bukankah sejak Pancasila dijadikan sebagai dasar negara maka arah bernegara kita semakin jelas dan terang ? Karena tujuan bangsa kita memang tertuang dalam Pancasila dan UUD 1945.

 

Lantas apa yang semestinya yang kita lakukan agar dapat membumikan Pancasila sebagai dasar dan ideologi bangsa, termasuk mendaratkannya dalam setiap insan dan diri masing – masing bangsa Indonesia? Karena tidak ada guna punya ideologi bagus dan sempurna tetapi tidak dapat diterjemahkan dan diejawantahkan dalam hidup sehari – hari. Menurut saya, yang pertama dan terutama adalah bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bagaimanapun ceritanya, Tuhan Sang Pencipta harus selalu menjadi nomor satu. Karena itu pulalah, makanya sila pertama berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Kepada-Nya kita menyerahkan segalanya termasuk apa yang akan dan hendak kita lakukan.

 

Kedua, meningkatkan kesadaran akan pentingnya hidup bergotong royong dan saling membantu antara satu dengan yang lain. Perilaku ini yang harusnya selalu kita wariskan dari generasi ke generasi. Ketiga, menanggalkan segala sesuatu yang membuat kita menjadi fanatik terhadap kesukuan (primordialisme), keegoan, kepentingan diri sendiri dan simbol – simbol yang lain yang menimbulkan perpecahan dan konflik. Keempat, menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging) antara satu dengan yang lain dengan melakukan pendekatan – pendekatan yang personal dan merakyat. Kelima, pemimpin harus bisa menjadi teladan dan panutan untuk masyarakat yang ada di akar rumput. Pemimpin harus mempunyai jiwa yang melayani, bukan untuk dilayani. Keenam, mengajarkan sikap untuk saling menghargai dan mentoleransi antara satu dengan yang lain.

 

Tentu masih banyak cara – cara yang kita tempuh untuk dapat membumikan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tanpa ada komitmen dan kesadaran dari diri masing – masing orang, maka perjuangan untuk mewujudkan itu semua akan menjadi sia – sia. Untuk itu, mari kita ambil komitmen bersama mulai dari diri kita masing – masing agar Pancasila dapat terpatri dalam diri kita. Kita menjadi sama yang dibingkai dalam Pancasila dan UUD 1945. Dengan begitu, tidak ada lagi kata “aku”, “kau”. Yang ada hanya kata “kita” dan “kami”. Semoga.

 

 

Dikutip dari tulisan Maruntung Sihombing yang merupakan alumni jurusan PP-Kn Unimed

 

Iklan

About springocean83

I'm a quiet shy man who have soft feeling but can be hot and have more attention if meet anyone who honest and have more understanding of each other. I like travelling, swimming and reading. The most bored thing for me is PARTY because I'm a personal who like peaceful and equanimity.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s