Biasakan Menghindari Kantong Plastik Ketika Belanja!

Standar

Penggunaan kita atas kantong plastik sangat tidak efisien jika dibanding risiko lingkungan yang harus dihadapi jika benda nonorganik itu tidak terurus dengan baik. Tidak usah membahas data – data  tentang bahaya kantong plastik terhadap lingkungan. Rasanya kebijakan beberapa negara Eropa dan lainnya yang meminimalisasi penggunaan kantong plastik sudah cukup menjelaskannya.

 

Ketika kita belanja, sudah seharusnya kita berhitung bahwa prilaku kita selama ini sangat tidak efisien. Bayangkan, saya pergi ke kedai dengan sederet daftar barang belanjaan. Hampir 80 persen dari setiap item itu dibungkus dengan kantong plastik. Gula, garam, cabai, dan belacan dibungkus plastik. Sudah begitu, dibungkus lagi dengan kantong plastik besar supaya menjadi satu. Beberapa item tidak dijual di kedai tu, katakanlah gula. Saya pergi ke kedai lain. Sebungkus gula saya dapatkan dan saya tidak merasa terganggu ketika gula yang beratnya 1 kg itu dibungkus lagi dengan dua kantong plastik karena si penjual khawatir plastik itu jebol di perjalanan.

 

Setidaknya, untuk 1 kali belanja itu saja, ada 14 kantong plastik yang masih baru langsung menjadi sampah ketika saya sampai di rumah dan membuka belanjaan saya satu per satu. Padahal, sama sekali saya tidak butuh pembungkus sebanyak itu. Satu – satunya hal yang memungkinkan plastik – plastik  itu tidak menjadi sampah adalah daur ulang yang hanya dimungkinkan bila ada pemulung yang mengutipnya. Tapi, sudah beberapa hari ia tidak datang karena takut dituduh lagi, pura – pura mencari botot, padahal mau mencuri.

 

Jadi, adalah sangat bijak jika kita mau menghindari semaksimal mungkin sikap yang boros kantong plastik itu. Ia memiliki dampak lingkungan yang sangat banyak dibanding manfaatnya. Memang, soal pemanfaatan, itu soal bagaimana prilaku kita. Kantongan plastik itu bisa saja digunakan berkali – kali ketika kita akan belanja. Tapi, kenyataannya, sangat jarang kita melakukan itu. Kita tidak membawa kantong plastik dari rumah ketika belanja. Kita tidak merasa ada yang berlebihan ketika membeli 1 kg gula dengan dua plastik pembungkusnya.

 

Ya, kalau memang belanjaan kita tidak banyak, sebaiknya menolak saja jika penjual memberikan kantong plastik. Kalau hanya dua–tiga item belanja di kedai dekat rumah, tak perlulah harus pakai plastik segala. Tangan kosong kita masih mampu mengamankan belanjaan itu. Kita khawatir betapa industri makanan-minuman kita terlihat jor-jor-an menggunakan kantong plastik ini. Minuman ringan seharga Rp. 500 yang habis dua–tiga kali teguk pun dibungkus dengan plastik. Bukankah uang yang kita keluarkan lebih banyak untuk membayar plastik yang segera menjadi sampah dibanding inti berupa minuman itu?

 

Kita tahu bahwa produsen kantongan plastik ini menyedot banyak tenaga kerja. Kita bisa membayangkan berapa banyak lapangan kerja yang hilang jika kantongan plastik tidak digunakan lagi. Sebenarnya tidak demikian. Yang membuat mereka tetap memiliki lapangan kerja atau tidak bukan kantongan plastiknya, tetapi masih memproduksi kemasan lagi atau tidak. Maksudnya, produsen kemasan belanjaan sudah harus mulai mendiversifikasikan produk kemasannya dari plastik ke bahan yang lebih alami, misalnya berbahan kertas. Jika ini yang dilakukan, lapangan kerja mereka akan tetap. Jadi, ada atau tidaknya lapangan kerja itu bukan bergantung pada apa jenis produk mereka, tetapi apakah mereka masih memproduksi kemasan lagi atau tidak.

 

Soal prilaku konsumen dalam konteks kantongan plastik ini, seratus persen ditentukan oleh produsen. Sebenarnya, sangat sedikit sekali konsumen yang peduli kemasan pembungkus belanjaannya terbuat dari bahan apa. Mereka tidak masalah apakah plastik atau bukan. Tetapi, sikap inilah yang justru ironi, yaitu ketidakpedulian itu yang membuat mereka abai dengan bahaya dari tindakan yang tidak efisien dalam menggunakan kantong plastik. Tetapi dari sisi produsen, sesungguhnya ketidakpedulian akan jenis bahan kemasan ini memberi mereka peluang besar untuk mulai menggunakan bahan kemasan organik, seperti kertas misalnya. Mereka tidak akan dikomplin jika membeli sabun colek yang dikemas dengan bahan dari kertas saja.

 

Pemulung Sebagai Pahlawan

 

Untunglah di negara kita ini banyak orang yang mau menjadikan daur ulang itu sebagai caranya mencari nafkah. Kita biasanya menyebut mereka sebagai pemulung. Untunglah ada mereka ini. Mereka inilah yang banyak sekali menyelamatkan lingkungan kita dari bahaya sampah nonorganik itu. Sistem daur ulang yang kita puji – puji selama ini hanya mungkin terjadi bila ada mereka. Soal mereka ini sering disebut atau tidak dalam konteks penyelamatan lingkungan, setidaknya jangan lagi memandang sebelah mata. Kita sering tidak menghormati mereka karena, pada beberapa kasus, mereka juga mengambil barang kita yang belum bekas. Tong sampah atau perabot dapur yang lupa dimasukkan ke dalam rumah sebentar saja bisa hilang. Tetapi, bijaksanalah. Kita marah pada mereka karena apa? Karena barang kita yang diambil mereka itu masih kita gunakan. Kalau tong sampah plastik itu sudah tidak kita gunakan, pernahkah kita memikirkan betapa ia telah memberikan kita keamanan dan kenyamanan lingkungan karena telah membuatnya didaur ulang?

 

Tapi, soal kantong plastik ini, sepertinya para pemulung kurang berminat mengutipnya. Kalau ember yang sudah pecah, sebentar saja diletak di tempat sampah, langsung selesai oleh mereka. Kalau kantong plastik, sifat fisiknya yang lunaklah yang membuat kita berpikir ia telah berada di tempatnya yang benar. Padahal, ia telah masuk ke parit, basah, dan kemudian mengeriput karena sangat tipis dan lunak. Sifat fisik itulah yang membuat kita sepele dengan sampah kantong plastik ini.

 

Artinya, kitalah yang harus memulung sendiri sampah kantong plastik kita. Jangan mengharapkan orang lain, termasuk pemulung, penyapu jalan, atau lembaga pemerintah untuk mengurus sampah seperti itu. Sampah kantongan plastik itu sangat kecil dan ringan. Alangkah tidak masuk akal-nya kalau kita tidak bisa mengurus sendiri masalah sekecil itu. Kita ini pahlawan setidaknya bagi diri kita sendiri. Mengapa? Karena kita menghemat pengeluaran, menyelamatkan lingkungan, dan memberikan sedikit keuntungan tambahan bagi kedai – kedai.

 

Dalam masalah kantongan plastik ini, harganya jangan dilihat dari sisi rupiah, tetapi dari sisi lingkungan. Kalau kita nilai dari sisi rupiah, berapa sih 1 bungkus kantongan plastik yang masih baru? Tetapi dari sisi lingkungan hidup, nilainya besar sekali. Coba kalau serpihan kantongan plastik itu masuk ke dalam saluran kamar mandi Anda, berapa rupiah yang harus Anda keluarkan untuk mengeluarkannya? Berapa banyak kerugian yang harus ditanggung habitat dalam air, seperti ikan dan lainnya karena berada satu tempat dengan plastik yang tak akan terurai dalam waktu sangat lama itu. Coba kalau kantongan plastik itu termakan oleh hewan ternak kita, misalnya kambing. Ia tidak akan terurai dalam perutnya dan menjadi penyakit si kambing serta orang yang memakannya. Jadi, jangan boros kantongan plastik-lah! Di tengah hiruk – pikuk terkait pemilu ini, ada baiknya kita sedikit jeda dengan membicarakan hal yang menurut kita kecil ini.

 

 

Dikutip dari tulisan Hari Murti, S. Sos yang merupakan seorang  pemerhati sosial

 

Iklan

About springocean83

I'm a quiet shy man who have soft feeling but can be hot and have more attention if meet anyone who honest and have more understanding of each other. I like travelling, swimming and reading. The most bored thing for me is PARTY because I'm a personal who like peaceful and equanimity.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s