Sampai Kapan Hanya Menjadi Penonton Budiman ?

Standar

Piala dunia adalah ajang tertinggi kompetisi sepak bola antar negara yang selalu menghadirkan drama dalam setiap pagelarannya, maka tak heran bila ajang empat tahunan ini tiada hentinya menarik perhatian jutaan pasang mata warga dunia untuk disaksikan. Kegiatan ini dilangsungkan oleh organisasi internasional sepak bola yang dibentuk pada 21 Mei 1904 dengan nama Fédération Internationale de Football Association( FIFA).

 

Untuk pertama kalinya, piala dunia FIFA berlangsung di Uruguay dari 13 sampai 30 Juli 1930 yang hanya diikuti oleh tiga belas negara yaitu (tujuh dari Amerika Selatan, empat dari Eropa, dan dua dari Amerika Utara) Argentina, Brasil, Bolivia, Chili, Meksiko, Paraguay, Peru dan Amerika Serikat Belgia, Perancis, Rumania, dan Yugoslavia.

 

Seiring dengan perkembangan zaman, pagelaran ini terus berbenah baik dari persiapan maupun penyelenggaraannya, maka dari itu tidak heran bila tahun ini menjadi tahun ke-20 diselenggarakannya piala dunia FIFA, dan yang mendapat kehormatan ditunjuk sebagai tuan rumah penyelenggara adalah Brazil, yaitu negara yang identik dengan tradisi dan segudang prestasi serta memiliki telenta berbakat yang tiada habisnya di bidang sepak bola. Pesta akbar ini berlangsung di kota Rio Brazil mulai 13 Juni – 14 Juli 2014.

 

Namun kematangan serta kesiapan penyelenggaraan event ini tidak diikuti oleh perkembangan sepak bola di Indonesia secara khususnya baik dari segi organisasi, kompetisi, strategi serta kemampuan. Di republik ini, sektor sepak bola seakan hanya jalan ditempat. Enggan atau mungkin lebih tepatnya minder melangkah maju untuk bersaing di level internasional. Entahlah. Sungguh jauh berbeda dengan apa yang telah dilakukan oleh negara lain yang sibuk mempersiapkan diri bahkan tidak hanya ikut berperan aktif namun menargetkan untuk memperoleh juara.

 

Bila ingin mengambil contoh, kita dapat melihat bagaimana yang dilakukan oleh negara-negara di bumi bagian barat. Mereka bahkan telah melakukan kaderisasi ataupun melakukan pembibitan sejak usia dini. Tentunya proses ini berlangsung melalui tahap yang panjang dan perlu keseriusan, konsistensi serta konsekuensi yang harus ditanggung semua pihak terkait. Secara perlahan namun pasti, terbukti proses ini melahirkan pemain-pemain potensial dengan skill, fisik serta mental yang mempuni.

 

Contoh lain yang dapat kita petik adalah dari negara yang juga terkenal melalui anime dan manga. Tentu masih segar dalam ingatan kita salah satu kartun jepang yang menceritakan tentang kehidupan seorang anak yang sangat mencintai sepak bola hingga menjadi bagian penting dalam hidupnya. Captain Tsubasa adalah salah satu kartun dari negara yang memiliki julukan negeri matahari terbit yang bertujuan membangkitkan semangat dan kecintaan kaum muda pada sepak bola. Bila melihat apa yang terjadi saat ini, dapat dikatakan kartun tersebut telah mecapai salah satu tujuannya.

 

Tak satupun yang menyangka Jepang dapat bangkit dan menunjukkan kemampuannya. Awalnya, negeri sakura ini bahkan tidak memiliki tradisi sepak bola dalam sejarah. Namun, seiring dengan perputaran waktu mereka perlahan mulai merangkak naik hingga menjadi salah satu raksasa sepak bola asia dan memperoleh tiket melaju ke piala dunia. Jepang telah dapat berbicara banyak dalam pentas dunia, lalu bagaimana dengan Indonesia ?

 

Kandas dalam Kualifikasi

 

Berdasarkan kesepakatan yang dibuat oleh FIFA dalam mengikuti piala dunia, maka setiap negara harus melalui proses kualifikasi yang terbagi dalam zona fase grup. Maka dari itu, indonesia tergabung dalam zona asia. Dalam zona asia, Indonesia belum bisa berbicara banyak, alih-alih ingin memperoleh tiket menuju piala dunia namun apa daya negara lain memiliki kualitas yang lebih baik. Kandas dalam fase grup, Indonesia pun harus mengakui keunggulan negara lain dan merelakan tiket menuju piala dunia.

 

Dengan kandasnya Indonesia dalam zona fase grup Asia, sekali lagi para pecinta bola harus memendam hasrat kebanggaan sebagai salah satu negara yang menjadi peserta di piala dunia, Sekali lagi harus menerima kenyataan bahwa kualitas sepak bola indonesia belum ada “apa-apanya” bahkan di tingkat Asia apalagi di tingkat dunia.

 

Penonton Budiman

 

Sungguh amat disayangkan bahkan miris melihat kondisi sepak bola Indonesia saat ini, harapan besar yang digantungkan para suporter belum cukup untuk membangkitkan gairah sepak bola Indonesia menuju pentas dunia. Maka untuk kesekian kalinya pula kita hanya akan mejadi penonton budiman yang menyaksikan negara lain yang bersaing dengan ketatnya kompetisi akbar ini.

 

Apakah ini sebuah kutukan? ataukah kita memang tak pantas bersaing di tingkat dunia? Kalau harus menunggu, sampai kapan waktunya? Apakah kita ditakdirkan sebagai bangsa yang hanya menonton saja, dan tak akan pernah ikut serta?

 

Bangkit dan Berjuang

 

Dengan jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia tentu tidaklah menjadi alasan bagi kita kekurangan atau bahkan tidak memiliki sumber daya manusia yang berkualitas. Dalam hal ini, kembali lagi perlu keseriusan semua pihak terkait untuk mengembangkan potensi yang telah kita miliki. Karena bukanlah hal yang mustahil bagi Indonesia untuk menuju pentas dunia bila melihat contoh negara-negara negara yang telah kita bahas sebelumnya. Sekali lagi tekad yang kuat dan teguh harus kita tanamkan dengan satu visi dan tujuan, bangkit dan berjuang untuk bersama mengharumkan nama bangsa. Tentu menjadi harapan kita bersama, suatu saat nanti sepak bola Indonesia bisa berbicara banyak di pentas dunia. Harapan serta doa tentu tiada hentinya mengalir demi kejayaan sepak bola Indonesia. Semoga.

 

 

Dikutip dari tulisan Rizki Fahrian yang merupakan mahasiswa Jurusan PPKnUniversitas Negeri Medan

 

About springocean83

I'm a quiet shy man who have soft feeling but can be hot and have more attention if meet anyone who honest and have more understanding of each other. I like travelling, swimming and reading. The most bored thing for me is PARTY because I'm a personal who like peaceful and equanimity.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s